<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060</id><updated>2011-12-27T19:11:16.223-08:00</updated><title type='text'>Raja Kecil Yang Turun Tahta</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>59</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-1956280803884382206</id><published>2011-12-27T19:09:00.000-08:00</published><updated>2011-12-27T19:11:16.234-08:00</updated><title type='text'>---Tentang Kepala Yang Sakit---</title><content type='html'>Makassar, 24 Desember 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari baru saja berlalu, saat mengantarnya pulang dari kampus. Pada waktu itu, ia di daulat jadi asisten bagi mahasiswa FKM asal Gorontalo yang datang praktek di laboratorium bersama FKM Unhas. Sebelum berangkat ke kampus, ia memberi tahu saya lewat sms kalau keadaannya lagi kurang fit. Ia mengalami sakit kepala dan sedikit mual. Awalnya saya menganggapnya sakit biasa, dan tak jadi soal. Dan dia pun menganggap demikian. Ia memaksakan diri berangkat ke kampus, sebelumnya terlebih dahulu ia singgah di tempat kerjanya. Di Rumah Sakit Pendidikan Unhas. &lt;br /&gt; Ada cerita lucu ketika dia singgah. Ia ditegur atasannya karena memakai celana jeans. Dia sms ke saya “ Sayang, ditegur ka karena make celana jeans ke kantor.” Membaca sms itu, saya hanya bisa tersenyum geli. Saya tak bisa membayangkan mukanya pada saat di tegur. Pasti lucu. Ato malah sebaliknya, menyeramkan. Saya tahu, pasti dia sangat malu ditegur meski itu hanya teguran sepele. Tokh memang tujuan awal dia mau ke kampus, bukan ke kantor. Bagi saya, itu taka pa. Saya memberi tahunya lewat sms agar tak usah memikirkan soal tadi. Angap aja itu hal speele, keluar telinga kanan masuk telinga kiri.&lt;br /&gt; Belum lupa saya akan kejadian tadi, di hp tiba2 berdering. Saya membacanyta. Saya melihat ada sms dia. Dia bilang kalau keplanya tambah sakit, ia juga sempat muntah. Dia meminta antuan saya untuk membelikan obat pereda nyeri. Tapi saya tak membelikannya, saya justru membelikannya obat maagh. Saya piker mungkin dia maag, makanya muntah. Saya membelikan juga susu, mungkin tadi pagi dia belum makan.&lt;br /&gt; Di kampus saya menemuinya di lt.3, saya lihat mukanya sedikit pucat. Kasian dia. Padahal sehrusnya hari ini dia sehat, dia harus sehat agar bisa bisa menuntun praktikan dengan lebih baik. Tapi sayang, Tuhan mungkin terllau menyanyaginya. Saya meberikan obar dan susu yang saya bwa. Dia bertanya, kok obat maag? Saya bilang, tadi saya naya sama apotekernya kalau sakit kepa gak ciocok minum obat pereda nyeri. Dia mengeti juga rupanya. Dia kemudian msuk kembali tanpa lupa bilang terimaksih. Kata terimaksh dari mulutnya paling syaa benci. Seolah-olah apa yang saya lakukan membutuhkan pamrih. Saya tahu, pada saat saya menyatakan suka padanya, pada saat itu pula kewajibab menjanya melekat. Saya berjannji untuk menjaganya, dalam suka maupun duka. Meski saya tahu, saya belum bisa menjaganya secra ituh. Ada wilayah-wilayah yang tak bisa saya langgar. Kami belum resmi secara syah menjadi sebuah pasangan. Kami belm legal sebagi sebuah suami istri. Saya coba membatasi diri.&lt;br /&gt; Sememtara dia melanjutkja kegiatanya, saya turun menuju perpustkaan. Sambil menunggu, siapa tahu dia ambah parah. Kalau saja tambah parah, saya kan memintanya pulang dan minta dia izin keatsannya. Saya takut dia apa-apa. Saya menunggu dengan was-was. Belum cukup 1 jam saya di perpust, dia membritahu say lewat sms klaau dia mutah lagi. Dia meminta sya ke atas, dan seklaigus mengantar pulang. Dia sudah tak tahan sakitnya. Saya buru-buru menuju lantai 3. Menemuinya. Tapi tak saya lihat. Agaknya dia masih di dalam. Say meng-sms dia agar keluar. Tapi sms nya tertunda. Jaringan lagi error. Beberapa menit kemudian, alya, teman nya yang juga teman saya, menelpon saya gar datang menjempunya di lt.3. saya bilang saya ada di lt.3. beberpa detik kelmudian saya melihat dia di depoan pintu,dengan muka yang snagat pucat. Saya menghampirinya. Dan bilang supaya dia siap-iap untuk pulang saja. Dia msuk sebentar mengambil tasnya. Dan kemi sama-sam turun dari lantai 3. Waktu itu, saya ingin seklai emmapahnya, tapi saya tak berani terllau jauh, tak enak nnati kalau da orang lain atau siapa yang melihat. Nanti bisa menimbulkan fitnah. Saya tak mau itu.&lt;br /&gt; Saya mengantar di apulang dengan motor butut, motor kesayangan ku. Di tengah jalan, dia menyandarkan kepal anya pada bahu ku. Saya kasian dia. Agaknya kepalnya sakit sekali. Mukanya tambah pucat. Kami lmelewati jalan tanpa helm. Dan diseberang jalan ada polisi. Dengan sok saya menatap polisi itu, dan dia terlihat was-was, kalau saja polisi itu mengejar. Tapi saya ingatkan kalau tak usah khwatir. Saya kebal polisi, kataku menenangkan. &lt;br /&gt; Kami ampai di rumahnya. Sebelum turun, saya mewanti dia agar lekas makan dan langsung tidur. Sgaknya dia capek. Sousinya ya iistrahat. Hanya itu cara paling jitu. Di jalan, saya was-was kalau terjadi apa2 dengan dia, say takut kehilangan dia. Saya tahu, saya mencintainya melebihi diriku. Say merindukannya bahkan dihampir tiap perpindahan jarum detik jam. Saya tak tahu, apa bisa kau hidup tanpamya. Aku merindukannya.&lt;br /&gt; Siang itu dia istrahat. Saya meg sms dia pada sore hari. Mennayakan tentang sakitnya. Alhamdulilah sudah cukup sehat, dan tak terllau sakit. Say amnegucap syukur pada tuhan, karena telah menyembuhkannya hari itu. Terimakasih Tuhan, kalu telah menyembuh kannya. Begitulah sekelumit cerita kami tentang kepal yang sakit.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-1956280803884382206?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/1956280803884382206/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=1956280803884382206' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/1956280803884382206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/1956280803884382206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2011/12/tentang-kepala-yang-sakit.html' title='---Tentang Kepala Yang Sakit---'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-4271534999089518495</id><published>2011-12-27T19:02:00.000-08:00</published><updated>2011-12-27T19:07:27.347-08:00</updated><title type='text'>---Fajar Itu Disana, Di Sudut Bola Matamu---</title><content type='html'>Makassar, 10 Desember 2011 Pukul 23.00 Wita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Kami menjalaninya dengan resmi pada suatu malam yang panjang, di sebuah café, Makassar Town Square. Saya merasa, malam itu awal dari sejarah yang akan kami ukir, minggu 10 Desember 2011 pukul 20.00 Wita.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore hari, seperti biasa, ada deringan nada getar dari Hp butut merek Nokia N1200 yang saya simpan tergeletak di atas tempat tidur kusam. Saya belum lagi bangun dari pembaringan. Dua minggu belakangan ini segala aktivitas hancur berantakan. Entah kenapa, semenjak kehadiran dia, aku tak bisa menjalani semuanya dengan benar. Semua daya pikiran terfokus padanya. Padahal saya belum memilki hubungan apa-apa denganya. &lt;br /&gt;Saya dengan mata sedikit terpejam, membuka sms itu dan terkaget saat melihat dia mengajak saya keluar. Saya seketika terbangun dari tempat tidur, pergi ke kamar kecil sekaligus mencuci muka. Saya buru-buru kembali ke kamar dan meraih hp di atas meja. Saya membuka kembali sms tadi, siapa tahu salah baca, atau tadi saya lagi ngigo. Berkali-kali saya buka itu sms, hasil nya tetap sama, yang terbaca “Malam minggu keluar yuk, ke Popsa.”&lt;br /&gt;Saya sebenarnya sudah tak ingin berhubungan dengannya, cukup saja persoalan 2 minggu lalu membuat saya kapok. Ya, waktu itu saya memutuskan untuk tidak “mengejarnya” lagi, lantaran dia menolak meresmikan hubungan menjadi sebuah ikatan resmi bernama pacaran. Saya berpikir, itu semacam cara paling halus dari sebuah penolakan. Saya paham itu, sangat paham.&lt;br /&gt;Dengan hati yang agak berat, saya mengatakan “ya’. Saya berpikir, tak ada salahnya saya menemaninya, tokh mungkin ini cara saya melupakannya dengan tak lari darinya. Saya tahu, semakin saya melupakan dia, semakin sadar, perasaaan ini tambah besar. Rindu saya bertambah. Ini rindu terlarang bukan? Tapi persetan, saya siap mencintainya dalam diam, mencintainya dengan kesendirian. Mencintai kan tokh tak harus memiliki? Cinta itu adalah bagaimana cara kita merelakan semuanya, berjalan sesuai kenyataan. &lt;br /&gt;Jeda antara dia sms dengan waktu pertemuannya adalah dua hari. Jeda waktu itu, saya berpikir keras, pergi tidak ya? Pergi berarti siap mengingat kembali dan membuat rasa ini makin menggebu. Tidak berarti lari dari kenyataan. Semua serba rumit.&lt;br /&gt;Saya menjemputnya dengan persiapan ‘matang’, dengan celana yang masih basah. Sudah tiga hari ini hujan terus, celana itu saya cuci kemarin, saya berpikir, celana ini akan kering tepat saat saya akan berangkat. Tapi ternyata kenyataan berkata lain. Celana itu masih basah, serius, masih basah. Meski begitu, kretivitas tak lantas hilang, saya mengambil jalan pintas, dengan menyetrikanya. Tapi mungkin dasar lagi apes, listrik lagi tak bersahabat. Tenaga listrik tak bisa menghanagtkan setrika, tegangan seharian itu lagi turun. Bayangkan saja, bagaimana paniknya saya. Saya tak boleh tampil seadanya. Saya harus tampil perfek, paling tidak saya berusaha. Berusaha membuat dia terpikat. Itulah cara pecinta yang naïf belajar bagaiamana menghargai perasaan dan kata hati. &lt;br /&gt;Sore itu saya menjemput di rumahnya, tepat setelah kami sholat magrib. Dengan keyakinan penuh meluncur menuju rumahnya. Sesampainya disana, saya sms dia kalau udah nyampe. Dia keluar dengan, seperti biasa, senyuman yang selalu membuat saya mati kutu. Saya suka mengatakan itu sebagai seyuman maut. Senyuman mematikan, sebab apalagi bertingkah, berkutik saja hati saya sudah tak mampu.&lt;br /&gt;Sebelum berangkat, saya disuruh masuk, orang tuanya mau kenal saya. Saya memang pernah bilang, “kamu kasi kenal saya ma ortu mu dong.” Biar saya enak bawa kamu pergi keluar. Tapi apa yang terjadi, saya kaget minta ampun, dia mirip mama saya. Atau itu hanya halusinasi … ya sudah, lewat aja.&lt;br /&gt;Kami tak jadi ke tempat tujuan awal, sebab sore itu lagi hujan rintik, kami kemuadian memutuskan menuju Makassar Town Square (Mtos), kami sepakat datang nonton aja malam itu. Tapi sesampainya di studio, kami tak jadi nonton, waktu itu, dari list film yang ada, tak ada film yang membuat kami sepakat untuk menontomnya. Filmnya tak ada yang berkualitas. Semua film tentang pocong dan hal turunannya. Pokoknya tak ada! Titik!&lt;br /&gt;Kami keluar dari studio, menuju toko buku yang ada disebalah, kami keliling mencari judul buku yang berkualitas. Tapi kami tak menemukannya. Ditempat itu, kami bercerita, dan saya agaknya merasakan hal lain, dia memegang dan sedikit manja. Saya awalnya menganggap itu sebagai hal biasa. Ya sudah, kami terus keliling sambil bercerita tentag suatu hal, tentang filsafat lah, tentang cinta, agama. &lt;br /&gt;Sekira 40 menit kami berjalan disitu, kami memutuskan untuk turun ke lantai satu. Saya mengajak dia untuk jalan-jalan di luar saja, entah itu balapan dijalan melepas penat, ke pantai, atau kemana aja. Tapi ternyata langit sedang tak bersahabat, hujan masih rintik. Kami kemudian memutuskan naik ke atas, ke lantai tiga, menuju kafe. Dia bilang, ingin bercerita tentang suatu hal yang serius. Saya waktu itu, tahu apa yang akan dibicarakan. Tapi saya harus bersikap ‘kalem’. Tokh saya sudah janji tak akan memaksanya lagi untuk meresmikan hubungan. Saya tak ingin jadi lelaki egois dan arogan. Saya cukup satu kali diberi tahu. &lt;br /&gt;Tapi dia mengawalinya sendiri. ‘Bagaimana kalau kita resmikan.”. maksudnya? Saya kemudian menjawab dengan sedikit pura-pura ‘bego’. Ada banyak hal yang kami bahas di tempat itu, termasuk mendengar curhatnya yang gak penting, gak penting karena bikin saya jadi gak enak hati alias jeales. &lt;br /&gt;Tapi saya mau juga mendengarnya. Tak apa. Ini konsekuensi. Kami banyak bercerita, termasuk soal bagaimana hubungan kami ke depan, tiga bulan lagi saya harus pergi jauh, mengejar cita yang sempat tertunda. Setelah semua kami bahas, kami pun bersepakat mendeklarasikan hari itu sebagai hari jadian kami. Tanggal 10 Desember 2011 pukul 20.00 Wita. Itulah awal dari sejarah itu, sejarah yang akan terukir kelak. Saya sangat bahagia. Tak tahu, masih adakah hal di dunia yang membuat saya bahagia setelah malam itu. Wallahualam. &lt;br /&gt;Tapi ada satu hal yang saya tangkap dari dia, ada keraguan d matanya. Pada secercah kalimat yang dia utarakan, tersembunyi keraguan yang menggunung. Saya maklumi, saya orang jauh. Bahkan lebih jauh dari yang diperkirakan. Sebab meskipun kami telah kenal sudah hampir enam tahun, tapi saya baru benar-benar mengenalnya 2 bulan belakangan ini saja. Saya menganggap keraguan itu merupakan hal wajar. Tinggal ke depan, saya mesti membuktikan kalau saya bisa dia percaya. Titik!&lt;br /&gt;Malam itu, saya menjalani dengan indah, tak tahu dia, apakah mengalami hal yang sama. Semua masih misteri bagi saya. Saya juga malu menanyakannya. &lt;br /&gt;Tapi ada satu hal yang perlu dia tahu, bahwa bagaimana pun, anugrah cinta yang Tuhan titipkan akan saya jaga dengan baik. Saya kan memupuknya, terus merawatnya hingga menjadi besar, seperti pohon-pohon di hutan Amazon sana. Saya berjanji pada diri untuk menghargai rasa yang dia simpan pada sudut kamar hati ku. Saya mencintainya dengan tulus, ingin memilikinya dengan pretensi tapi saya paham, semua itu harus dijalani dengan perlahan. &lt;br /&gt;Semua itu mesti dijalani dengan hati-hati, sebab didepan ada banyak kerikil tajam menghadang. Saya bilang padanya, kita mesti saling menguatkan kalau hubungan kita mau langgeng. Hanya itu cara saya untuk mengingatkannya. Saya yakin, pada suatu titik kenangan itu, pada sebuah perjalanan panjang nan melelahkan.  Saya yakin pada fajar disana, di sudut bola matanya yang jujur, tujuan itu bersembunyi dengan lugunya, ya, pada dirimulah saya akan datang kelak, mencuri kembali hartaku yang telah kau rampas. Sayang, maukah kau menjadi istriku?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-4271534999089518495?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/4271534999089518495/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=4271534999089518495' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/4271534999089518495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/4271534999089518495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2011/12/fajar-itu-disana-di-sudut-bola-matamu.html' title='---Fajar Itu Disana, Di Sudut Bola Matamu---'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-2353759201961233676</id><published>2011-06-02T18:08:00.000-07:00</published><updated>2011-06-02T18:12:15.442-07:00</updated><title type='text'>Membincang Kembali Teori Evolusi</title><content type='html'>Dihari ketika Charles Darwin diminta Beagle, mahagurunya untuk berlayar mengelilingi dunia, ayahnya seketika menolak. Alasannya sederhana, perjalanan itu hanya dalih Darwin untuk lari dari pekerjaan serius. Tapi Darwin beruntung, berkat kemampuan Bealge meyakinkan ayahnya ia kemudian diberi ijin. Inilah tonggak awal bagi perjalanan ilmu pengetahuan barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, Darwin baru berumur dua puluh dua tahun. Darwin berangkat berlayar diatas kapal H.M.S Beagle tahun 1831. Lima tahun Darwin mengarungi dunia, dua pertiga waktunya dihabiskan di darat. Ia menyusuri pantai Amerika Selatan, menyelidiki pulau Galapagos dan menembus pulau-pulau Pasifik, samudra Hindia hingga selatan Samudra Atlantik. Dan kita tercengang: ‘pemalas’ ini berhasil mengguncang dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berlayar, Darwin membaca buku Charles Lyell, Princip of Geology. Buku itu berisi penjelasan penampilan geologis sebagai akibat proses bertahap selama proses yang panjang. Selama perjalanan, ia banyak menyaksikan keajaiban alam. Ia mengunjungi suku-suku primitif, menemukan fosil-fosil, meneliti tumbuhan dan juga binatang. Buku itu sangat membantunya, hingga suatu saat ketika ia mengirim surat ke keluarganya, “saya menyaksikan tanah-tanah seolah-olah saya mempunyai mata Lyell.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mencatat secara rinci dan panjang atas apa yang dilihat dan dialaminya dalam perjalanan. Berkat “kegemarannya” menulis itulah yang membuatnya kelak mendapat gelar naturalis sejati. Dan tulisan itulah yang membuatnya menjadi teoritis terkemuka dunia. Tulisan itu pula yang kedepannya menjadi kontroversial bagi agamawan, ilmuawan, dll. Darwin berkesimpulan, manusia itu berasal dari kera. Ia menamakan teori barunya sebagai teori evolusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seabad lebih telah berlalu semenjak kontroversi itu pecah, di Ankara Turki lahirlah seorang penulis bernama Adnan Oktar. Pemuda yang taat beragama ini memiliki nama pena Harun Yahya kelak menjadi antitesa bagi pemikiran Darwin. Harun terbukti getol membantah teori evolusi Darwin. Sama seperti Darwin, walaupun tak memiliki latar sebagai ahli Biologi, berkat kegemarannya membaca ia akhirnya berhasil menerbitkan buku-buku yang menentang teori evolusi. Karya-karyanya disambut hangat pembaca dari Eropa hingga Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Universitas Mimar Sinan tempatnya menuntut ilmu, Harun resah ke setiap orang, termasuk mahasiswa dan staf pengajar. Di setiap forum diskusi, di kantin kampus, di koridor-koridor kampus, seseorang dapat melihat Harun sedang menjelaskan kelemahan dan kesalahan teori evolusi. Menurutnya, teori itu dimunculkan oleh kelompok tertentu untuk melawan fakta penciptaan. Dengan menggunakan kedok sains, teori tersebut sebenarnya bertujuan untuk meracuni dan menghancurkan akidah dan akhlaq pemuda. Jika kebohongan ilmiah ini tidak dibongkar, maka akan muncul generasi yang tak memiliki nilai spiritual, moral dan religius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari puluhan buku yang ditulisnya, harus dengan keras mengkritik filsafat materialistik yang menunggangi teori evolusi. Menurutnya, ini adalah agenda tersembunyi—yang belakangan—Harun menyebut kelompok itu sebagai Freemasonry. Kaum Freemason ini memiliki tujuan menghancurkan islam. Tentu harus dicatat, inilah kelemahan terbesar pemikiran Harun. Memulai sesuatu dari stereotype, tentu ini tak dibenarkan. Walaupun Harun dengan susah payah membuktikan kenyataan diatas. Tapi tetap, asumsi itu tak bisa dibenarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau  kita amati seluruh buku tentang atheisme kontemporer, memang hampir semua argumen-argumennya bermuara pada Darwinisme,  pada  teori  evolusi, pada  teori  seleksi  alam. Jadi apa yang dicurigakan Harun ada benarnya. Hanya saja, bangunan epistemologis Harun terkesan tendensius.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Begitu mengakarnya Darwinisme, Lutfi Assyaukani pentolan JIL sampai membuat judul makalah yang terdengar profokatif. Bagi umat islam judul itu sangat dekat dengan syahadat. Kira-kira ashadu an laa ilaaha ila Allah ia ganti dengan ashadu an la ilaaha illa Darwin, tidak ada Tuhann selain Darwin. Artinya, tak ada Tuhan selain Darwin.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Prancis, jauh sebelum Harun lahir ada seorang ahli bahasa bernama Ferdinand D. Saussure. Ia belakangan disebut-sebut sebagai peletak dasar strukturalisme. Dalam teori strukturalis sebuah kata terdiri dari penanda dan petanda. Penanda adalah aspek material dan petanda adalah aspek mental. Contohnya buah Apel, ketika kita menyebut Apel, Apel (bunyinya) dan Apel (makna yang ada dibenak kita). Lalu apa kaitannya dengan teori evolusi? Begini, saling serang wacana antara kaum agamawan yang menentang teori evolusi dan kaum sekuler yang mendukungnya selama ini tak menemui jalan keluar, bahkan bisa dibilang buntu. Semua pihak saling mengklaim dirinya yang paling benar. Tapi apakah saling klaim itu hal yang benar? Disitulah teori strukturalisme disini layak diketengahkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam teori pascastrukturalis, yang ditandai itu menjadi tidak penting karena penanda itu yang bermain. Makna itu lahir dari perbedaan antara penanda. Jadi kalau kita bicara tentang kucing, apa kucing? Kita tidak mendefinisikan satu binatang yang kita juga tidak bisa definisikan. Artinya tidak bisa mendefinisikan kucing,  apa definisi  kucing? Tidak bisa kan? Karena kucing baru kita mengerti  kalau kita bandingkan dengan anjing. Juga soal teori evolusi itu hanya pengertian-pengertian lahir, makna yang lahir dari perbedaan, yang tidak pernah final, yang selalu ditunda makna finalnya. Tidak ada teori yang mutlak benar. Kita harus menyadarinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang pemikir pascastrukturalis terkemuka, M. Faucault bahkan lebih jauh membuat kesimpulan.  Pengetahuan itu berkelit-kelindan dengan kekuasaan, begitupula sebaliknya. Artinya, segala klaim atas kebenaran merupakan efek permainan kuasa. Siapa yang paling berkuasa, dialah yang menang dan dianggap sahih. Begitupula tentang dengan teori evolusi, kita sendiri tak punya otoritas untuk mengklaim teori itu salah? Apakah kita cukup representatif untuk mengklaim kebenaran? Dulu, orang yang mengatakan bumi mengeliling matahari pasti akan dicap gila. Lihat saja Copernikus yang di cap kafir, Descartes yang dibunuh. Tapi belakangan kita mahfum, ternyata pendapat mereka benar. Lalu bagaimana kalau suatu saat teori evolusi terbukti benar? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau semua adalah relatif, dimana kita memposisikan diri dalam menanggapi teori evolusi? Solusi yang paling baik adalah dengan melihat dunia dengan tertawa. Tertawa adalah bagian dari cara kita melihat kebenaran, melihat dunia. Tertawa adalah cara orang melihat kebenaran supaya tak menjadi dogma. Tertawa juga menjungkirbalikkan apa yang telah ada. Intinya, semua memiliki potensi untuk memposisikan diri sebagai benar. Tinggal kita bijak memposisikan diri. Akhirnya semua adalah proses menjadi. Kita hanya bisa melihat teori evolusi sebagai hal yang ironik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini kita menyikapi teori evolusi dengan kenak-kanakan. Menurut Richard Rorty, segala sesuatu harus dilihat dari gunanya. Kita mestinya berhenti berbicara tentang konsep atau gagasan yang hanya berputar-putar dengan masalah metafisis-filosofis. Kalau teori evolusi menyebabkan sikap rasialis, yang menggap ras Eropa sebagai makluk sempurna, maka silakan teori itu dienyahkan, titik!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-2353759201961233676?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/2353759201961233676/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=2353759201961233676' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/2353759201961233676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/2353759201961233676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2011/06/membincang-kembali-teori-evolusi.html' title='Membincang Kembali Teori Evolusi'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-7224984705385583403</id><published>2011-05-06T21:23:00.000-07:00</published><updated>2011-05-06T21:27:13.905-07:00</updated><title type='text'>‘Seksualitas menyimpang’ dalam telaah Faucault</title><content type='html'>Beredarnya video ‘panas’ yang melibatkan tiga artis papan atas Indonesia belakangan ini menyita perhatian masyarakat Indonesia. Video syur yang melibatkan Luna Maya, Ariel dan Cut Tari tak hanya diburu ‘kolektor’ video porno, tapi telah beredar bebas dikalangan pelajar dan mahasiswa. Bahkan, anggota dewan yang terhormat menjadikan berita ini sebagai guyonan saat rapat resmi kenegaraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain video, berita terkait juga di incar masyarakat, baik di media cetak maupun media elektronik. Hal ini bisa dibuktikan dengan meningkatnya rating pemberitaan acara televisi, khususnya infotainment. Indikasi lainnya bisa dilihat dari sepuluh informasi yang paling banyak diakses masyarakat dalam satu bulan terakhir.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Besarnya perhatian masyarakat mengakibatkan sejumlah kalangan angkat bicara. Mulai dari agamawan, sosiolog, dan seksolog. Mereka semua menghujat perilaku tersebut. Seksolog ternama, dr Boyke Dian Nugraha sampai mengatakan Ariel sudah tak waras. Dalam istilah medisnya, skopofolia yaitu kelainan seks dengan menonton adegan syur dirinya sendiri untuk memperoleh kenikmatan. Ini disimpulkannya setelah mendengar kabar adanya 29 video serupa dengan wanita lainnya yang belum di publikasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia sendiri telah mengenal budaya seks (baca: budaya yang melibatkan seks didalamnya) sejak lama, yaitu pada abad ke-8. Relief Karmawibangga bagian bawah di Borobudur menggambarkan posisi ideal bercinta ala Kamasutra. Hingga akhirnya ditutup pemerintah kolonialis Belanda. Alasannya, tidak sesuai norma agamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, pada abad ke-11, muncul sekte varian Buddha di Sumatera, Jawa dan Bali. Namanya Tantra. Salah satu ajarannya, untuk berhubungan dengan Tuhan dan mencapai surga, pemeluknya harus makan ikan, menari dan bersenggama. Lalu, Candi Sukuh yang dibuat pada tahun 1437 di dinding candi banyak gambar memuat perwujudan genital pria dan wanita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya pada tahun 1906, seorang Mas Ngabehi, anggota dewan penasihat Raja Pakubuwana X, dipermalukan di harian Darmo Konda, harian rakyat setempat. Sang dewan ketahuan berbuat mesum dengan seorang penari ronggeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Seksualitas dan episteme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari runutan sejarah diatas dapat kita lihat konsep masyarakat mengenai apa yang dilarang dan yang tidak dilarang, apa yang benar dan salah terjadi berbedaan. Pada awalnya, sesuatu yang berbau seksualitas tidak ditutup-tutupi. Kata-kata yang bernada seks dilontarkan tanpa ragu. Bahkan secara terang-terangan seksualitas menjadi bagian penting dalam setiap acara resmi. Para pandita agung juga tak ragu untuk melukis gambar-gambar erotis di dinding-dinding candi. Baru pada awal abad ke-19 seksualitas kemudian benar-benar dibungkam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam persfektif Faucault, terjadinya perbedaan pandangan mengenai seksualitas di tiap zaman disebabkan oleh struktur diskursif yang berlaku pada zaman itu. Menurutnya, pandangan kita tentang suatu objek dibentuk dalam batas-batas yang telah ditentukan oleh struktur diskursif yaitu pandangan yang mendefinisikan bahwa yang benar ini dan lainnya tidak. Inilah oleh Faucault dinamakan episteme yaitu keseluruhan ruang bermakna, stratigrafi yang mendasari kehidupan intelektual, serta kumpulan pra-pengandaian suatu zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ankersmit, salah seorang ‘penerjemah’ pemikiran Faucault ada tiga karakteristik episteme yang diajukan filsuf kelahiran Poitiers, Prancis tersebut. Pertama, episteme menentukan cara kita melihat dan mengalami kenyataan. Kenyataan itu subjektif dan seringkali tidak disadari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, karakter episteme yang lainnya adalah adanya larangan, penyangkalan, pengabaian dan penolakan. Episteme itu mengendalikan dan mengontrol pengetahuan manusia melalui tabu, kegilaan dan ketidak-benaran. Cap gila yang dilabelkan dr. boyke terhadap Ariel menunjukkan perannya sebagai agent pengontrol. Bidang psikiatri, ilmu kedokteran, serta ilmu lainnya inilah penanggung-jawab utama pembungkam ‘seksualitas menyimpang’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, dalam episteme terdapat hubungan antara bahasa dan realitas. Umumnya, bahasa dipandang sebagai medium yang transparan, bahasa adalah refleksi kenyataan. Bagi Faucault, bahasa selalu ditentukan episteme yaitu bentuk penggunaan bahasa yang dipakai untuk merumuskan kebenaran. Dengan demikian, bahasa dan episteme tidak lah pasif melainkan aktif. Bahasa turut menentukan dan menciptakan kebenaran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau kita lacak secara saksama, adanya penyangkalan terhadap ‘seksualitas menyimpang’ ala Ariel, Luna Maya dan Cut Tari terkait dengan episteme (penerimaan zaman) terhadap sesuatu yang tak bertujuan, tak bersifat produktif, dll. Intinya, adanya penolakan besar-besaran oleh masyarakat kita lebih kepada pola pokir masyarakat yang telah dijangkiti ‘virus’ kapitalisme. Segala sesuatu jika tidak diatur untuk membangun keturunan (baca: reproduktif) dan yang tidak diidealkan berdasarkan tujuan yang sama tidak lagi memiliki tempat dan tidak boleh bersuara; diusir, disangkal dan ditumpas sampai hanya kebungkaman yang tersisa. Seksualitas bukan saja tidak ada, melainkan tidak boleh hadir dan segera ditumpas begitu tampil dalam tindak atau wicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan pun terpaksa menerima kompromi jika berbagai tindakan ‘seksualitas menyimpang’ itu tak terelakkan. Maka dibuanglah ‘seksualitas menyimpang’ itu ditempat dimana bisa diterima, kalau bukan disektor produktif paling tidak bisa mendatangkan keutungan. Contohnya, rumah pelacuran, diskotik, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Barat masa awal terjadinya represi seksual yaitu pada abad ke-17. Puncaknya ketika ratu Victoria memerintah Inggris. Ketika itu, seksualitas betul-betul ditabukan. Kalau kita baca sejarah secara saksama, pada abad ke-17 inilah awal perkembangan kapitalisme. Dengan begitu, riwayat sejarah seksualitas berikut riwayat represinya tidak lain merupakan sejarah kelam penguasaan alat-alat produksi.&lt;br /&gt;Dalam suatu diskusi tentang pornografi dan pornoaksi, salah seorang teman saya berujar, penolakan masyarakat terhadap video Aril, Luna Maya dan Cut Tari lebih diakibatkan ketakutan mereka akan efek video tersebut bagi generasi bangsa. Menurut pemberitaan televisi swasta, video syur tersebut telah menelan beberapa korban. Salah seorang kakek tua di Sumatra memperkosa pembantunya usai menonton video Ariel. Kemudian ada seorang anak yang menjadi korban pelecehan setelah melihat adegan yang sama.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merilis kalau semenjak beredarnya video ini terjadi peningkatan kejahatan seksual terhadap anak-anak. Menurut Masnah, ketua KPAI, dari hasil survei yang mereka lalukan terjadi peningkatan kejahatan seksual terhadap anak-anak sebesar duapuluh persen semenjak video beredar. Tapi pertanyaannya, banyaknya kasus tersebut apakah punya korelasi langsung dengan beredarnya video itu? Bukankah kejadian pemerkosaan, pencabulan terhadap anak-anak juga terjadi sebelumnya. Jauh hari sebelum video ini beredar. Hanya saja KPAI terlihat bertindak serius saat kasus ini merebak. Saya beranggapan, KPAI hanya numpang tenar saja sebab isu video ini begitu menyedot perhatian media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Presiden Indonesia, Abdurahman Wahid pernah mengatakan banyaknya tindakan kejahatan, termasuk kejahatan kelamin membuktikan kalau masyarakat Indonesia yang—katanya—beragama ternyata hanya isapan jempol belaka. Masyarakat kita merupakan masyarakat yang munafik, sibuk, dan suka menghitung-hitung sesuatu secara ekonomis. Jika tak dianggap produktif, tak bisa menghasilkan uang maka sesuatu menjadi haram, disangkal bahkan dianggap tak waras.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Nah, satu pertanyaan terakhir: Apakah Ariel, Luna, dan Cut Tari yang berani bertindak subversif dengan melanggar norma dan moralitas agama itu benar-benar tak waras lagi atau sebaliknya, dr. Boyke dan masyarakat kita yang—dengan rasa hormat—sebetulnya gila? Tabik!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-7224984705385583403?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/7224984705385583403/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=7224984705385583403' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/7224984705385583403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/7224984705385583403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2011/05/seksualitas-menyimpang-dalam-telaah.html' title='‘Seksualitas menyimpang’ dalam telaah Faucault'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-6033856131494563177</id><published>2011-05-06T21:15:00.000-07:00</published><updated>2011-05-06T21:21:36.895-07:00</updated><title type='text'>Menyibak Selubung Ideologis Pemikiran Islam Mahzab Garis Keras</title><content type='html'>“Semua pemerintahan selain Islam tidak dibenarkan dan merupakan pemerintahan kufur.” Petikan tulisan diatas saya ambil dari tulisan balasan saudara Firman Gani yang di muat di Rubrik Opini PK identitas Awal Agustus atas tulisan saya di rubrik Bias edisi Akhir Juni 2010. Judul tulisan saya saat itu, Negara Islam, No Way. Dari bahasa yang di lontarkan sodara Firman dalam tulisannya, saya melihat ada kesalahan fatal dalam menafsirkannya. Parahnya, sodara Firman secara implisit mengatakan kalau saya congkak dan salah baca. Tapi saya sendiri tidak akan mengomentari bahasa-bahasa seperti itu. Menurut saya, lontaran seperti itu tidak lahir dari rasio yang sehat, namun datang dari nafsu amarah yang menggebu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil pencarian saya di beberapa kamus dan mesin pencari Google, secara bahasa kafir berasal dari kata kufur yang artinya menutupi kebenaran, melanggar kebenaran yang telah diketahui dan tidak berterima kasih. Kata jamak dari kafir adalah kaafirun atau kuffar. Kata kafir dan derivasinya disebutkan sebanyak 525 kali dalam Al Qur’an. Semuanya mengacu pada perbuatan mengingkari Allah swt. Kalau kita cermati, arti kafir yang paling dominan disebutkan dalam Al Qur’an adalah pengingkaran terhadap Allah dan Rasul-Nya, khususnya Muhammad saw. dengan ajaran-ajaran yang dibawanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadi, orang kafir adalah mereka yang menolak, menentang, mendustakan, mengingkari, dan bahkan anti kebenaran. Seseorang disebut kafir apabila melihat sinar kebenaran, ia akan memejamkan matanya. Apabila mendengar ajakan kebenaran, ia menutupi telinganya. Ia tidak mau mempertimbangkan dalil apa pun yang disampaikan padanya dan tidak bersedia tunduk pada sebuah argumen meski telah mengusik nuraninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, disinilah titik krusialnya. Apakah islam selain tafsiran sodara Firman lantas bisa kita cap kafir? Karena banyak umat islam sendiri, termasuk para ulama (baca: ulama NU) menolak keras pendirian Negara Islam. Pada titik inilah saya berbeda pemahaman dengan sodara Firman, bukan persoalan lain. Apalagi sampai berdebat soal sejarah Kebangkitan Nasional. Bukan itu esensi tulisan yang ingin saya sampaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu juga diketahui, tulisan saya tidak bermaksud menimbulkan islamophobia. Saya hanya ingin semua umat manusia saling menghargai, tidak saling menghujat, cinta damai. Bisa menerima perbedaan pendapat. Dan, cita-cita inilah yang kadang disalah-tafsirkan oleh orang-orang yang membenci Nucholis Madjid dan Gusdur yang dengan gencar mewacanakan pluralisme. Bagi saya, bukan Negara Islam yang menjadi keharusan, tapi pluralisme. Sebuah sikap yang saling menghargai, saling memberikan kesempatan mengeluarkan semua potensi yang ada. Dan, inilah inti demokrasi. Lalu apa alasan menolak demokrasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita harus sedikit merenung, kenapa Tuhan menciptakan manusia dengan bersuku-suku, berbangsa-bangsa. Ini tidak lain agar mereka saling berbuat dalam kebaikan dan taqwa. Bukan malah sebaliknya, mencap orang lain kafir.  &lt;br /&gt;Landasan saya mengatakan pemahaman islam macam Firman bisa menggiring islam dari agama menjadi ideologi? Kalau kita ingin membuka selubung “ideologis” pemikiran Firman, kita bisa melacaknya dari landasan pemahamannya. Dalam hal ini filsafat yang mendasarinya. Meskipun saudara Firman sendiri akan membantah kalau sedang berfilsafat. Namun, kalau di lacak secara hati-hati, kita bisa menemukan bahwa sodara Firman telah terkontaminasi paradigma positivistik. Sesuatu yang tidak mungkin disadarinya, baik olehnya maupun oleh pengikutnya yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang pendiri Mahzab Frankfurt, Max Hokheimer menunjukkan tiga pengandaian dasar yang membuat paradigma posistivistik menjadi ideologi dalam arti ketat. Pertama, paradigma positivistik mengandaikan bahwa pengetahuan manusia tidak menyejarah atau ahistoris, dan karenanya teori yang dihasilkan juga ahistoris dan asosial, maka tak salah Firman menganggap saya dan atau yang berpikiran lain dari dia sebagai kafir. Berdasarkan ciri ahistorisnya itu, muncullah pengandaian kedua, yaitu pengetahuan bersifat netral. Teori merupakan dekskripsi murni tentang fakta, yang merupakan “pengetahuan demi pengetahuan.” Akhirnya, karena pengetahuan bersifat netral, maka ia terpisah dari praxis. Proses penelitian dipisahkan dari tindakan etis, dan pengetetahuan dapat dipisahkan dari kepentingan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lebih lanjut Hokheimer menjelaskan, sifat ideologis paradigma positivistik itu tampak dalam tiga gejala. Pertama, dengan anggapan teori itu ahistoris, ia mengklaim diri universal, berlaku dimana saja secara transendental dan suprasosial sehingga melupakan proses kehidupan dalam masyarakat real. Maka tak salah saudara Firman kemudian ingin menerapkan Negara Islam di Negara Indonesia yang majemuk ini. Ia tidak akan mau tahu akan perbedaan konteks antara Negara Timur-tengah sana dengan Indonesia. Bagi dia, pemikiran yang berbeda dengan mereka adalah salah dan kufur. Salah dan kufur artinya apa? Bahwa pemikiran yang sah ada di muka bumi hanya pemikiran kelompoknya, selain itu harus dibumihanguskan. Inilah kenapa saya mengatakan bahwa islam tak akan jauh dari bayang-bayang totaliterianisme.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua, dengan mengangap diri netral, paradigma ini berdiam diri terhadap masyarakat yang menjadi objeknya dan membenarkan kenyataan tanpa mempertanyakannya. Firman tak mempertanyakan pemikirannya sendiri, dan menerapkan teorinya secara taken for granted. Ciri-cirinya, tafsirnya lah yang paling sahih. Ketiga, yang tak kalah pentingnya, dengan memisahkan diri dari praxis, ia hanya mengejar teori demi teori dan karenanya tidak memiliki implikasi praktis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan diatas, tak salah kalau senior saya Muh Absariarpin mengatakan antara islam versi Firman dengan Marxisme ortodoks tak ada bedanya. Menurutnya, kedua pemikiran tersebut meskipun saling bertentangan, sama-sama berlandaskan diri pada paradigma positivistik. Bagi Marxisme, kebenaran itu hanya ada dan pasti ada di Sosialisme Komunisme, sementara bagi Firman, kebenaran itu hanya ada di Negara Islam. Peran subjek kemudian diabaikan, gerak sejarah dilepaskan dari subjek penggerak sejarah itu sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-6033856131494563177?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/6033856131494563177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=6033856131494563177' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/6033856131494563177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/6033856131494563177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2011/05/menyibak-selubung-ideologis-pemikiran.html' title='Menyibak Selubung Ideologis Pemikiran Islam Mahzab Garis Keras'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-6843676317848044622</id><published>2011-05-06T21:12:00.000-07:00</published><updated>2011-05-06T21:14:45.615-07:00</updated><title type='text'>Kalau Kampus?</title><content type='html'>Kalau kampus adalah tempat bermain, maka saya lebih memilih pulang ke rumah dan menyendiri. Sebab kampus tak seharusnya jadi wahana bermain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai kampus adalah tempat berkumpul, saya lebih suka mendatangi mall dan tempat nongkrong di luar, disana kita bisa menemukan teman baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau kampus merupakan tempat belajar, mengapa tak ada riak manusia berdiskusi. Tak ada suara orang berdebat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari, saatnya kita berubah! Awali semua dengan senyum dengan sebuah buku di tangan. Tak ada salahnya kita jadikan kampus tempat belajar. Tempat kita merenda asa!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-6843676317848044622?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/6843676317848044622/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=6843676317848044622' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/6843676317848044622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/6843676317848044622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2011/05/kalau-kampus.html' title='Kalau Kampus?'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-3347137236025313479</id><published>2011-05-06T21:05:00.000-07:00</published><updated>2011-05-06T21:11:53.432-07:00</updated><title type='text'>Hakikat Kaum Intelektual</title><content type='html'>Pada dasarnya, intelektual tak identik dengan sarjana, ustad, pendeta ataupun orang yang bergelut dalam spesiliasasi ilmu tertentu. Kaum intelektual juga tak identik dengan politisi. Ke- Intelektualitasan tak terletak pada simbol-simbol akademik yang formal. Seorang intelektual, harus bisa mendedahkan pemikirannya tanpa terjebak kepentingan dan berkomitmen menjunjung tinggi kebenaran yang diyakininya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan untuk mengungkapkan kebenaran itu tak dibatasi oleh aturan formal organisasi. Seorang intelektual sejati konsisten dengan tujuannya untuk membebaskan masyarakat dari kungkungan struktur yang menindas. Ia melakukan semua itu dengan ikhlas meskipun harus mengorbankan dirinya sendiri sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sosiologis, keberadaan kaum intelektual merupakan kelompok creative elite dalam suatu susunan masyarakat yang berfungsi sebagai early warning system dalam kehidupan masyarakat. Entah itu masyarakat akademis ataupun masyarakat ‘awam’. Kelebihan kaum intelektual adalah kemampuannya untuk menjadi prototype bagi masyarakat diluar dirinya. Kaum intelektual sebagai kaum yang memiliki daya kreatif untuk menciptakan solusi cerdas bagi masalah ummat yang sedang terjadi. Dengan begitu, seluruh pemikirannya bisa menjadi daya tawar bagi masyarakat untuk menghadapi kehidupan di masa kini dan masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi hakikat kaum intelektual dapat dilihat dari corak pemikirannya yang dapat melampaui zamannya. Pada posisi inilah kaum intelektual kadang-kala menjadi kontrovesial, karena terang-terangan menggugah kemapanan kehidupan pada saat itu. Lihat saja bagaimana Friederick Niezche yang dituduh kafir lantaran berani mengkritik arus pemikiran pada zamannya. Atau tengok saja Michael Faucault yang dituduh gila. Cermin paling kuat untuk ini adalah para nabi, yang meskipun harus bertaruh nyawa tak pernah lari untuk memperjuangkan keyakinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana menjadi kaum intelektual?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemudian menjadi persoalan: bagaimanakah cara menjadi kaum intelektual? Mungkin banyak kalangan yang berniat menjadi kaum intelektual, tapi jalan untuk memperoleh predikat itu tak seperti membalikkan telapak tangan. Diperlukan orang-orang yang siap hidup “asketis” dan bersemangat juang tinggi. Jalan menuju kesana penuh dengan kerikil tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi intelektual, diperlukan seorang yang bisa melihat realitas dengan mata malaikat. Mata malaikat disini artinya seorang yang bisa membedah realitas secara empiris. Tak hanya terlibat dalam diskusi-diskusi yang abstrak tentang Tuhan dan kebenaran yang sifatnya trasendental, tapi jauh melampaui itu, yaitu membicarakan masyarakat yang riil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan peran fundamentalnya untuk meningkatkan martabat kehidupan manusia untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Dalam bahasa yang lebih sederhana, kaum intelektual berguna untuk melaksanakan “pemberdayaan” masyarakat yang sedang berada dalam fase kejumudan, ketertinggalan, ketertindasan dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tak ada jalan yang bisa ditempuh selain belajar sekuat tenaga. Dalam belajar itu, diperlukan sarana yang sangat fundamental, yaitu buku. Buku merupakan jalan utama menjadi kaum intelektual. Tanpa buku, kita hanya bisa ber-angan-angan dan tertunduk lesu melihat realitas yang sebetulnya kita muak melihatnya. Pepatah mengatakan, “buku adalah jendela dunia.” Begitu besarnya peran yang dimainkan buku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-3347137236025313479?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/3347137236025313479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=3347137236025313479' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/3347137236025313479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/3347137236025313479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2011/05/hakikat-kaum-intelektual.html' title='Hakikat Kaum Intelektual'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-5048189307454090241</id><published>2011-01-20T01:48:00.000-08:00</published><updated>2011-01-20T01:52:23.002-08:00</updated><title type='text'>Hakikat Kaum Intelektual</title><content type='html'>Pada dasarnya, kaum intelektual tak identik dengan kaum sarjana, ustad, pendeta ataupun kaum yang bergelut dalam spesiliasasi ilmu tertentu. Kaum intelektual juga tak identik dengan politisi. Ke- Intelektualita-san tak terletak pada simbol-simbol akademik yang formal. Seorang yang merasa dirinya intelektual berkemampuan mendedahkan kemampuan intelektual tanpa terjebak kepentingan dan berkomitmen menjunjung tinggi kebenaran yang diyakininya. &lt;br /&gt;Kebebasan untuk mengungkapkan kebenaran itu tak dibatasi oleh aturan formal organisasi. Seorang intelektual sejati konsisten dengan tujuannya untuk membebaskan masyarakat dari kungkungan struktur yang menindas. Ia melakukan semua itu dengan ikhlas meskipun harus mengorbankan dirinya sendiri sekalipun. &lt;br /&gt;Secara sosiologis, keberadaan kaum intelektual merupakan kelompok creative elite dalam suatu susunan masyarakat yang berfungsi sebagai early warning system dalam kehidupan masyarakat. Entah itu masyarakat akademis ataupun masyarakat ‘awam’. Kelebihan kaum intelektual adalah kemampuannya untuk menjadi prototype bagi masyarakat diluar dirinya. Kaum intelektual sebagai kaum yang memiliki daya kreatif untuk menciptakan solusi cerdas bagi masalah ummat yang sedang terjadi. Dengan begitu, seluruh pemikirannya bisa menjadi daya tawar bagi masyarakat untuk menghadapi kehidupan di masa kini dan masa yang akan datang.     &lt;br /&gt;Jadi hakikat kaum intelektual dapat dilihat dari corak pemikirannya yang dapat melampaui zamannya. Pada posisi inilah kaum intelektual kadang-kala menjadi kontrovesial, karena terang-terangan menggugah kemapanan kehidupan pada saat itu. Lihat saja bagaimana Friederick Niezche yang dituduh kafir lantaran berani mengkritik arus pemikiran pada zamannya. Atau tengok saja Michael Faucault yang dituduh gila. Cermin paling kuat untuk ini adalah para nabi, yang meskipun harus bertaruh nyawa tak pernah lari untuk memperjuangkan keyakinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menjadi kaum intelektual?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemudian menjadi persoalan: bagaimanakah cara menjadi kaum intelektual? Mungkin banyak kalangan yang berniat menjadi kaum intelektual, tapi jalan menuju predikat itu tak seperti membalikkan telapak tangan. Diperlukan orang-orang yang siap hidup “asketis” dan bersemangat juang tinggi. Jalan menuju kesana penuh dengan kerikil-kerikil tajam.&lt;br /&gt;Untuk menjadi kaum intelektual, diperlukan seorang yang bisa melihat realitas dengan mata malaikat. Mata malaikat disini artinya seorang yang bisa membedah realitas secara empiris. Tak hanya terlibat dalam diskusi-diskusi yang abstrak tentang Tuhan dan kebenaran yang sifatnya trasendental, tapi jauh melampaui itu, yaitu membicarakan masyarakat yang riil. &lt;br /&gt;Dengan peran fundamentalnya untuk meningkatkan martabat kehidupan manusia untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Dalam bahasa yang lebih sederhana, kaum intelektual berguna untuk melaksanakan “pemberdayaan” masyarakat yang sedang berada dalam fase kejumudan, ketertinggalan, ketertindasan dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;Maka, tak ada jalan yang bisa ditempuh selain belajar sekuat tenaga. Dalam belajar itu, diperlukan sarana yang sangat fundamental, yaitu buku. Buku merupakan jalan utama menjadi kaum intelektual. Tanpa buku, kita hanya bisa ber-angan-angan dan tertunduk lesu melihat realitas yang sebetulnya kita muak melihatnya. Pepatah mengatakan, “buku adalah jendela dunia.” Begitu besarnya peran yang dimainkan buku.&lt;br /&gt;Mahasiswa merupakan bagian dari masyarakat yang berpotensi menjadi kaum intelektual, tanpa menafikkan elemen masyarakat lainnya. Hanya mahasiswa yang belum terlalu tercemar oleh berbagai macam kepentingan pragmatis. Di universitas, beragam kelompok atau organisasi yang merupakan wadah untuk mewujudkan cita-cita menjadi kaum intelektual. Salah satu organisasi itu adalah pers mahasiswa. Tak diragukan lagi, dengan keaktifannya dalam kegiatan tulis-menulis, terkhusus kegiatan jurnalistik membuat mereka selalu tersentuh dengan hal baru. Karena itu, pemikiran mahasiswa yang tergabung dalam pers mahasiswa tak pernah sempit, termasuk dalam melihat realitas yang mapan. Mereka terbukti lebih kritis dibanding dengan kelompok mahasiwa lainnya. &lt;br /&gt;Sebagai bagian dari pers mahasiswa, Pk.identitas seharusnya menjadi organisasi yang bisa menggodok generasi muda menjadi kaum intelektual. Bukan hanya menggodok orang untuk menjadi jurnalis siap pakai. Tapi lebih dari itu, bisa menjadi calon kaum intelektual terkemuka. Sebagai salah satu organisasi pers mahasiswa tertua, dengan beban sejarah yang dimilikinya, tak ada salahnya kita menggantungkan cita-cita itu.&lt;br /&gt;Melihat besarnya peran yang dimainkan buku dalam “menciptakan” kaum intelektual, kemudian mengilhami saya membuat perpustakaan mini Pk.identitas. Saya menyadari, perpustakaan mini ini belum lah representatif sebagai wadah dalam menciptakan kaum intelektual, seperti yang saya jelasakan diatas.  Saya berharap, perpusatkaan mini ini menjadi starting point bagi kru identitas dalam menggapai predikat: kaum intelektual. Semoga!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-5048189307454090241?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/5048189307454090241/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=5048189307454090241' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/5048189307454090241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/5048189307454090241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2011/01/hakikat-kaum-intelektual.html' title='Hakikat Kaum Intelektual'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-4219231695176996895</id><published>2010-12-18T03:28:00.000-08:00</published><updated>2010-12-18T03:31:19.872-08:00</updated><title type='text'>Identitas dan Menginap</title><content type='html'>Rumah Singgah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta dan kota besar lainnya, kolong jembatan, trotoar, dijadikan sebagian orang yang tak beruntung sebagai sebuah rumah. Orang-orang seperti inilah yang kemudian dinamakan masyarakat jalanan. Mereka tak memiliki rumah permanen untuk digunakan sebagai tempat tinggal. Bagi mereka, setiap tempat adalah rumah. Mereka inilah sedikit dari banyaknya orang yang menjadi korban ganasnya kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, pemerintah dan masyarakat dalam bentuk Lembaga Swadaya Masyarakat membuat sebuah program yaitu rumah singgah. Rumah singgah sendiri di buat hanya sebagai tempat menginap (baca: singgah). Bila matahari mulai terbenam, mereka akan berbondong-bondong datang. Bagi mereka, rumah singgah merupakan alternativ. Tempat itu masih baik ketimbang menginap di kolom jembatan, trotoar dan pinggiran toko. &lt;br /&gt;Rumah singgah bukan tempat yang permanen, yang bisa mereka tempati selamanya. Rumah singgah, seperti namanya, hanya dijadikan tempat singgah sementara pada malam hari. Keesokan harinya, mereka meninggalkannya untuk mencari kehidupan. Bagi mereka tak ada kalimat: Rumah ku, surga ku. Sebab itu bukanlah rumahnya. Rumah singgah hanyalah tempat berteduh sementara waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah singgah bukanlah tempat bagi proses pencapaian sebuah tujuan. Maksudnya, rumah singgah tak bisa menawarkan sebuah harapan bagi hidup yang lebih baik. Beda dengan rumah pada umumnya yang digunakan sebagai bagian dari elemen pendukung pencapai cita-cita. Di rumah kita bisa belajar, bermain, membikin anak maupun lainnya. Rumah tinggal bukanlah sebuah alternatif.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas, Bukan Rumah Singgah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa kaitannya rumah singgah dengan identitas? Beberapa hari lalu teman saya bilang begini: Saya mau cari kos, mulai bosan ma nginap di identitas, gak ada yang temani. Pertanyaan sederhananya, di posisi manakah kita menempatkan identitas? Apakah sebagai rumah singgah atau rumah dalam artian umum. Kalau kita sepakat dengan pilihan pertama, menginap bukan lagi kewajiban. Tapi jika pilihan jatuh pada poin kedua, menginap merupakan kewajiban. Saya mengatakannya wajib sebab kalau kita tak lagi menginap disitu, tak ada lagi artinya sebagai rumah. Sebab tak di tinggali. Dikatakan rumah jika ada yang meninggalinya. Jika semua orang yang merasa memiliki nya tak lagi berada disitu, dia kemudian hanya menjadi bangunan. Dan tak ada bedanya dengan toko, kantor, dan hotel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitasnya, saya melihat identitas tak lagi di jadikan sebagai sebuah rumah. Banyak orang-orang di dalamnya menggunakannya sebagai tempat untuk sekadar singgah karena capek seharian kuliah, atau sekadar sebagai ajang kumpul-kumpul. Atau hanya sebagai tempat singgah karena tak memiliki kos atau rumah tinggal. Saya berani berkata demikian karena saya tak lagi melihat identitas digunakan sebagai tempat untuk menapaki kehidupan mencapai cita-cita. Misalnya, untuk diskusi, belajar dll. Kita hanya datang, duduk di ruang tamu cerita yang tak jelas, atau nonton Televisi, sesaat kemudian ambil posisi kemudian tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tak lah salah kalau ada sebagian, termasuk saya memilih menginap di rumah sendiri. Bukan di identitas. Menurut saya, tak ada lagi hal yang membuat identitas istimewa dari rumah sendiri. Tokh di identitas kita hanya datang tidur, lalu beramal buat sang nyamuk yang banyak nya minta ampun. Atau sebagai tempat meluapkan rasa sepi. Hanya orang sepi yang mencari keramaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sudah saatnya kita merubah itu semua, menganggap identitas tak lagi sebagai rumah singgah tapi lebih dari itu rumah yang ideal. Yang di dalamnya kita ditempa untuk mencapai cita-cita dengan berdiskusi, berdiskusi dan membaca. Sehingga identitas layak di beri label, SURGA.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-4219231695176996895?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/4219231695176996895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=4219231695176996895' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/4219231695176996895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/4219231695176996895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2010/12/identitas-dan-menginap.html' title='Identitas dan Menginap'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-7922984713046379603</id><published>2010-12-18T03:15:00.001-08:00</published><updated>2010-12-18T03:25:37.309-08:00</updated><title type='text'>Catatan Untuk Aminah</title><content type='html'>“Saya kasi masuk telunjuk ku. Tak bertahan lama nafasnya kemudian bagai kuda yang habis di pacu, matanya layaknya orang pingsan.” Itulah sebagian kalimat yang teman saya ceritakan beberapa waktu lalu. Ia menceritakan pengalamannya berpacaran dengan, sebut saja Aminah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu sebelum ia menceritakan pengalaman bejatnya ini, saya kebetulan ketemu dengan Aminah. Pada kesempatan itu kami berdiskusi panjang tentang banyak hal. Termasuk tentang agama. Yang diperdebatkan apakah agama itu punya kontribusi bagi perbaikan moralitas seseorang. Bagi dia, agama sangat memiliki peran untuk itu. Tapi bagi saya, agama sudah tak lagi punya taji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aminah adalah seorang mahasiswi universitas bergengsi di Makassar. Saya mengenal Aminah tahun lalu. Pertama kali bertemu Aminah, tak terbersit sedikit pun pikiran kalau ia cewek ‘tak baik’. Ia tampak kalem. Kalau melangkah kelihatan hati-hati. Memakai pakaian muslimah dengan jilbab yang lebar sampai mendekati lutut. Saking perfect nya, saya melihat semua perilakunya sesuai dengan tuntutan ayat dan hadist. Inilah wanita, dalam Alquran sebagai penghuni surga. Saya kaget saat pertama kali tahu kalau ternyata berpacaran dengan teman saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Islam itu agama yang sempurna, tak tersisa sedikit pun pertanyaan untuknya.” Itulah sedikit kalimat yang keluar dari mulut manis Aminah saat berdiskusi. Aminah membantah pernyataan saya kalau kita tak butuh agama. Menurut Aminah, agama penting untuk menjaga moralitas manusia. Dengan beragama kita bisa menghindarkan bangsa dari jurang kehancuran. Dalam Alquran tercatat ada banyak umat manusia dimusnahkan Tuhan karena menolak kebenaran suatu agama. Lihat saja bagaimana sejarah umat Nabi Luth yang membangkang tersapu gelombang tsunami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya keukeh beranggapan agama tak lagi punya relevansi bagi perbaikan moralitas umat di era modern ini. Agama hanya dijadikan lukisan penghias dinding kehidupan. Agama tak lagi dihayati secara esensial. Tapi telah menjelma menjadi sebuah ritual yang bersifat formal semata. Orang kini memperlakukan agama layaknya buku-buku yang hanya disimpan di rak sebagai penghias agar terkesan intelek. Di umbar di Kartu Tanda Penduduk sebagai penyelamat dari hukuman negara karena melarang tak beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aminah tak mau menerima argumen itu. Ia malah memperlihatkan muka tak bersahabat. Dengan sedikit jengkel berseru, “semoga Allah menujukkan mu jalan menuju pada-Nya.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Merasa kondisi memanas, dengan memperkecil intonasi saya menjelaskan secara hati-hati landasan pemikiran saya. Saya mengatakan kalau kapitalisme telah merubah semuanya secara drastis. Seseorang yang mengkonsumsi barang tak lagi bermaksud memperoleh manfaat. Dikatakan bermanfaat bila memenuhi kepuasan untuk memenuhi kehidupan semata. Di era globalisasi ini mengkonsumsi barang tak lagi dilihat dari manfaat an sich, namun sudah jauh melampauinya. Yaitu sebagai pendongkrak prestise atau harga diri. Maka tak salah orang berlomba-lomba membeli Handphone blackberry, padahal blackberry tak beda jauh dengan Handphone merk Mito. Begitu pula yang terjadi dengan agama. Agama hanya dimanfaatkan sebaga “juru selamat” dari represivitas negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh paling riil untuk Aminah, setelah seminggu berdiskusi dengan saya. Dimana posisi Tuhan saat jari teman saya memasuki wilayah tak terlarangnya? Apakah Tuhan ada di jari-jari? Dalam agama, aturan tentang zina sudah diatur secara jelas. “Laa Takrabul zinna,” Janganlah sekali-kali mendekati zina. Jangankan memasukkan jari, mendekati saja dilarang. Inikah arti agama? Wallahu alam!&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-7922984713046379603?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/7922984713046379603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=7922984713046379603' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/7922984713046379603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/7922984713046379603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2010/12/catatan-untuk-aminah.html' title='Catatan Untuk Aminah'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-3121449179577417504</id><published>2010-10-09T01:05:00.000-07:00</published><updated>2010-10-09T01:13:40.671-07:00</updated><title type='text'>Tak Sekadar Pembelajaran, tapi Arena Perjuangan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tulisan ini merupakan catatan seorang yang ‘benci’ dengan Pk identitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini saya resah, benci, marah dan entah apapun namanya. Saya sendiri kadang bingung benci dengan apa dan siapa? Tak jelas subjeknya? Pokoknya saya hanya benci, titik! Ini berdampak pada sikap saya yang cenderung emosional, tidak bisa mengendalikan rasa amarah—yang—padahal ‘berkutat’ dengan hal sepele. Persoalan ini membuat saya gamang menjalani rutinitas. Saya sendiri akhirnya memutuskan untuk berpikir dan menjauh sejenak dari aktivitas. Sudah seminggu terakhir ini saya berkontemplasi, berpikir tentang hal apakah yang membikin gejolak ini muncul. Inilah hasil perenungan itu.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dulu, tak pernah sedikitpun terbersit di benak niat bergabung di Penerbitan Kampus (PK) identitas. Saya memang memiliki minat menulis, tapi tak untuk di salurkan di Pk identitas. Saya tahu, dari hasil ‘gosip’ dengan beberapa teman, kalau Pk identitas itu corong Rektor Unhas. Cibiran seperti itu tak hanya jadi omongan di pelataran-pelataran universitas, ini bahkan diperbincangkan di ruang-ruang sempit perkuliahan. Akibat citra negatif yang terlampau saya ketahui, sementara minat menulis makin kuat tapi tak punya penyaluran, saya kemudian memutuskan bergabung dengan Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) Unhas. Semua orang tak bisa membantah kalau UKPM Unhas terkenal ‘radikal’ dalam memperjuangkan peran dan fungsinya. Dan memang benar, UKPM merupakan pers mahasiswa yang terkenal tak lelah memperjuangkan hak-hak rakyat yang terabaikan. Ini saya rasakan pada saat bergabung.&lt;br /&gt;Tapi lambat-laun, saya mulai merasa tak nyaman dengan aktivitas di UKPM. Energi menulis tak pernah tersalurkan. Penerbitan Buletin Caka (Nama Buletin UKPM, red) hampir tak pernah memenuhi jadwal yang ditentukan. Mereka, anggota UKPM lebih sibuk aksi dan lupa akan tugas utamanya sebagai pers mahasiswa, yaitu menyuarakan perjuangan lewat pena. Tapi saya dibuat sedikit lega, karena setiap minggu UKPM selalu membuat diskusi. Tapi selalu saja diskusinya seputar Marxisme dan turunannya yang kolot itu. Rasa bosan makin kuat saja merasuki pikiran.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Suatu hari saya berpikir, kok saya mentah-mentah percaya dengan isu negatif yang di alamatkan ke salah satu pers mahasiswa tertua itu. Mungkin sebagian kalangan ada yang ‘cemburu’ dengan segala keistimewaan yang diperoleh Pk identitas. Mereka kemudian melempar isu bodoh itu untuk menjatuhkan citra Pk identitas yang terkenal profesional dan cerdas. Untuk membuktikan isu itu, saya memutuskan untuk ikut magang, sebagai proses awal bergabung di Pk identitas. Saya menyadari usia tak lagi muda kala itu. Maklum, waktu itu sudah menginjak semester enam.&lt;br /&gt;Di Pk identitas, saya menjalani pemagangan psosesnya panjang dan berliku. Mungkin karena merasa diri ‘senior’ makanya banyak bertingkah. Kalau disuruh cuci piring, membersihkan ruangan langsung menghindar. Siapa ‘senior’ yang mau disuruh cuci piring? Sementara di fakultas memainkan  telunjuk ‘dewa’.&lt;br /&gt;Sering saya di maki oleh senior—yang kalau indikatornya angkatan, ia termasuk junior saya—tapi selalu banyak cara bagi saya untuk sekadar mangkir. Sewalaupun pada kondisi tertentu tak bisa lagi menghindar, terpaksalah mencuci piring dengan berat hati. Karena alasan itulah, saya kemudian di juluki raja kalasi.&lt;br /&gt;Hampir satu tahun saya menjalani magang. Saya belum sedikit pun mendapatkan bukti jika cibiran tadi itu benar. Di ruang rapat anggota redaksi dengan bebas mengusulkan berita. Tak ada tanda-tanda jika usulan yang sedikit ‘frontal’ di buang. Saya hanya menyaksikan anggota redaksi tidak menguasai isu. Dan ditolak jika tak punya data-data riil. Saya semakin dibuat penasaran oleh Pk identitas.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Selama menjalani magang, tiga kali saya hampir di Drop Out (DO) lantaran malas kerja redaksi dan non redaksi. Malas pergi beli makan senior—yang juga junior saya—tapi niat baik tetaplah niat baik, selalu saja ada jalan Tuhan yang tersisa buat saya.&lt;br /&gt;Seingat saya, hal pertama yang menjadi alasan di DO ketika memutuskan untuk pulang kampung. Aturan Pk identitas waktu itu melarang calon reporter untuk itu. Tapi saya bersikeras lantaran sudah tiga tahun tak pulang. Orang tua meminta saya pulang karena alasan rindu. Saya tak bisa berbuat apa-apa. Saya sendiri sebenarnya tak mau pulang. Saya pikir tidak ada gunanya pulang lantaran tidak ada aktivitas di kampung. Paling banter pergi tidur dan makan. Dan, kegiatan itu tokh bisa juga dilakukan di Makassar.&lt;br /&gt;Alasan kedua, saya malas mengerjakan tugas redaksi. Saya benci dengan cara membentaknya yang tidak ‘manusiawi’. Dulu, semua teman-teman seangkatan merasakan hal yang sama. Kalau kami ke Pk identitas, biasanya berjanji pergi bersama-sama. Sebelum berangkat, berkumpul dahulu di bawah Lt 1 Gedung Perpustakaan Pusat Unhas menunggu semua hadir. Setelah teman-teman berkumpul, barulah kami bergegas ke Pk identitas. Itupun sesampainya di Pk identitas, tidak langsung masuk ke ruang utamanya, tapi memilih ke Ruang Pusdok, yang memang agak tersembunyi. Waktu itu, kami betul-betul merasa segan bertemu senior yang ‘ganas’.&lt;br /&gt;Yah, ternyata ‘senior’ juga punya rasa takut. Tapi jujur, sebenarnya tak takut, mungkin karena ego yang tinggi, saya malas ke ruang utama lantaran tak mau langsung di suruh cuci piring. Sebuah strategi bodoh, karena tetap juga di datangi untuk mengerjakan tugas itu.&lt;br /&gt;Terakhir ketika saya memobilisir teman-teman untuk memboikot rapat redaksi. Waktu itu saya telah jadi repoter dan juga fotografer. Ceritanya, saat itu kami tidak sepakat dengan kebijakan redaksi yang tak memasukkan nama salah satu teman, yang kebetulan keluar, dalam rubrik dapur redaksi yang biasanya terbit pada edisi khusus akhir tahun. Mungkin karena komunikasi yang kurang jalan, ada sebagian teman yang ‘berkhianat’. Hanya ber-empat dari tujuh teman yang konsisten terhadap keputusan awal. Karena ada sebagain yang hadir, strategi itu hancur berantakan.&lt;br /&gt;Saya pikir—karena strategi hancur—saya mesti buat stategi baru. Ini untuk menyelamatkan teman-teman saya. Saya tak terlalu penting. Waktu berkarir tinggal sedikit, lagipula saatnya saya konsentrasi menyelesaikan studi. Waktu itu, tugas redaksi saya hentikan.&lt;br /&gt;Strategi lain itu adalah menjadikan saya sebagai tumbal, agar kemarahan jajaran atas bisa tersalurkan. Orang yang paling di incar mereka adalah saya. Dan itu berhasil. Saya dihabisi, dibuat malu. Karena malu yang amat besar, tanpa pikir panjang, saya memilih lari keluar dari ruang sidang Pk identitas. Yang penting teman-teman selamat, pikir saya. Jujur, saat itu saya lari karena—maaf—saya bawa barang tajam, seandainya masih disitu, kemungkinan amarah tak tertahan, dan pasti beberapa dari jajaran atas bisa jadi korban.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Saya menjalani proses terakhir untuk secara resmi diangkat menjadi anggota Pk identitas pada suatu malam yang panjang di bulan Desember 2008. Pada waktu itu, saya mendapat giliran pertama untuk di screening. Ini proses masuk di Pk identitas yang paling menyeramkan sepanjang sejarah penerimaan anggota, sebab semua senior berkumpul sementara kita berdiri di depan untuk ‘dikerjai’. Tempat proses ini biasanya di ruang redaksi. Semua lampu di matikan, hanya lilin dan lampu Handphone senior yang menyala.&lt;br /&gt;Tiba-tiba terdengar suara, “tunduk ko!” Saya tak menghiraukannya. “Oe, kamu mau di terima ato tidak, tunduk ko disitu,” suara itu mulai terdengar keras. Dengan suara rendah saya menjawab, “saya tidak akan tunduk.” Pikiran saya bergejolak, adatnya tak beda dengan Opspek Mahasiswa Baru (maba). Bagi saya, cukup saat maba saya melakukan hal konyol itu. Kali ini tidak akan!&lt;br /&gt;Karena tak mendengar instruksi untuk tunduk, saya lalu disuruh keluar. “Kau tak diterima, silakan pulang,” ungkap salah seorang senior dengan nada sinis. Saya sendiri tak tahu siapa yang menyuruh saya keluar saat itu.&lt;br /&gt;Tapi akhirnya, salah seorang senior memanggil kembali tepat saat saya berlari keluar. Lama saya bercerita dengannya. Ia menjelaskan beginilah tradisi Pk identitas. Jadi harus siap. “Menjadi wartawan itu harus punya mental kuat, kalau tidak engkau akan tergerus zaman,” ceritanya. Saya kemudian disuruh bergabung kembali dengan teman menunggu giliran, “pi mako sama teman mu, kasi tenang pikiran mu, nanti dipanggil jako,” tuturnya singkat.&lt;br /&gt;Ternyata benar, setelah semua teman-teman usai di screening. Kini giliran saya dipanggil untuk kedua kalinya. Kali ini saya menyerah, karena letih semalaman tak tidur, semua instruksi bodoh pun saya ikuti. Malam itupun menjadi sejarah panjang perjalanan karir saya di Pk identitas yang kemudian nanti penuh dengan krikil-krikil, romantisisme, pesimisme dan harapan.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Tujuan awal tadi perlahan namun pasti mulai tersibak meskipun belum seutuhnya. Yang jelas, kalau sudah di jajaran redaksi, kru Pk identitas sangat tidak ‘manusiawi’. Jika rapat pengusulan tiba, dan kru tidak membawa usulan berita atau usulannya abal-abal, maka itu berarti membawa maut bagi diri sendiri. Kru akan dimarah habis-habisan. Bila perlu, disuruh keluar untuk mencari pengusulan. Tapi bagaimana mungkin dapat pengusulan dengan kondisi yang sudah sore, mahasiswa, dosen dan pegawai tempat mencari informasi dan data sudah pada pulang. Cara itu, tentu bentuk pengusiran secara halus. Ini membuat kru ada yang datang kembali dengan tangan kosong dan mengusulkan—lagi-lagi—seadanya. Adapula yang langsung pulang lantaran takut dimarah.&lt;br /&gt;Cara-cara ini mengadopsi prinsip kerja jurnalisme mainstream. Keras, dan tidak ‘berperikemanusiaan’. Kalau tidak begitu, mana bisa penerbitan—apalagi mahasiswa—menerbitkan secara rutin selama dua kali sebulan. Sementara tugas kuliah menumpuk. Laporan tugas laboratorium bertumpuk dengan segala tetek bengeknya.&lt;br /&gt;Ini pembuktian positif saya. Sikap profesionalitas. Tapi diluar, sikap otoriter itu dijadikan cibiran oleh pesaing Pk identitas yang sebenarnya inferior dengan kemampuan Pk identitas menerbitkan secara berkala dan tepat waktu. Beda dengan mereka, penerbitannya tidak jelas. Tidak ada manajemen redaksi. Yang ada hanya kebebasan, anti-otoritarian, tapi penerbitan tak jalan. Penerbitan apa namanya itu?&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Seiring berjalannya waktu, ternyata saya menemukan banyak hal yang dicibirkan orang itu. Adakalanya semua itu benar. Setelah dua tahun lebih menjalani, saya baru sadar. Pk Identitas rapuh, tanpa pondasi filosofis. Hanya kuat pada tataran materil. Saya mengakui Pk identitas mampu menerbitkan secara berkala dan tepat waktu. Tapi ada satu hal yang mereka lupa, mahasiswa seharusnya—apalagi pers—mempunyai basis wacana yang mumpuni. Ini berfungsi agar gerak pers mahasiswa tidak kehilangan arah perjuangannya. Pada zaman sekarang, penguasaan wacana menjadi penting bagi teman-teman Pk identitas karena merekalah menjadi tunas wartawan masa depan Sulsel. Dari tangan mereka lah nantinya gerak sejarah ini ditentukan. Saya hanya takut, mereka nantinya menjual Sulsel kepada pemodal lantaran mereka tidak dilengkapi piranti yang sangat fundamental ini. Kalau basis ideologi tidak cukup—kalau mau dibilang tidak ada—sudah barang tentu mereka nanti menjadi wartawan bodoh yang hanya dipermainkan kapitalis.&lt;br /&gt;Lihat saja bagimana citra Sulsel sekarang? Ini tentu tak lepas dari peran besar wartawan—yang kebetulan—banyak senior Pk identitas. Dengan gaji yang tak seberapa, dengan gencar memuat berita tentang anarkisme mahasiswa, padahal itu tak sepenuhnya benar. Aksi anarkisme itu tidak lebih dari setitik aksi dari beribu aksi yang dilakukan mahasiwa. Terkadang juga substanti aksi tidak ditonjolkan, ini karena apa? Karena mereka tidak paham dengan wacana dan politik pencitraan. Miris kan? Apa ini yang diingankan Pk identitas?&lt;br /&gt;Saya merasakan, Pk identitas betul-betul kering akan wacana. Saya pernah bingung mencari teman diskusi lantaran semua kelompok diskusi saya dulu, saya tinggalkan untuk fokus di Pk identitas. Saya berpikir, wacana bisa diperoleh di Pk identitas.&lt;br /&gt;Tapi semua harapan itu sia-sia, teman di Pk identitas itu lebih banyak apatis terhadap persoalan fundamental yang membedakan kita dari media mainstream. Mereka lebih cenderung mengasah kemampuan teknis menulis, yang sebenarnya tak pernah tuntas, ketimbang penguasaan wacana. Paling tidak ada balance.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Yang perlu diketahui teman-teman, termasuk yang masuk di Pk identitas (kebetulan saya fotografer) itu nomor satu. Jadinya, selama dua tahun, meskipun ini cenderung apologi, kuliah saya hancur. Bagaimana tidak, saat saya final test sementara ada aksi mahasiswa diluar, saya mesti meninggalkannya. Tentu pilihan yang sulit.&lt;br /&gt;Tapi saya menganggap, ini konsekuensi yang harus saya jalani. Saya harus bertahan untuk memenuhi tujuan saya tadi. Yaitu mengetahui apa itu Pk identitas? Sebab baru mendapatkannya sedikit.&lt;br /&gt;Akhirnya, pada 2009 lalu, terjadi pemilihan Pimred. Saat itu, ada tiga orang yang ingin maju jadi Pimred. Semuanya kader terbaik Pk identitas, tapi ada satu yang menurut saya openmind untuk merubah Pk identitas menjadi pusat wacana, paling tidak pada tataran internal redaksi.&lt;br /&gt;Bagi saya, tujuan awal tadi telah berubah, dari sekadar ingin mengetahui, menjadi ingin merubah. Menjadikan Pk identitas sebagai pusat kritik, pusat wacana, pusat segala sesuatu di Unhas. Saya kira itu bukan tujuan yang utopis, Pk identitas punya segalanya.&lt;br /&gt;Akhirnya, jagoanya saya terpilih. Dalam program kerjanya ia memiliki visi dan misi yang istimewa untuk ukuran Pk identitas saat itu. Saya menganggap ia luar biasa. Tapi belakangan pandangan itu berubah, tidak ada lagi diskusi, apalagi kajian terhadap isu terbaru di Unhas, atau nasional. Awalnya memang ia intens membikin diskusi, tapi hanya berjalan sesaat. Yaitu tiga bulan awal saja. Dan yang membuat saya berang, dia tidak tegas terhadap jajaran atas yang keluar tanpa prosedur. Tapi saya tak perlu mengulas itu.&lt;br /&gt;Beberapa teman yang dulu saya minta mendukungnya bahkan melontarkan kata-kata tak enak terhadap saya. Kata mereka, “kau telah menjerumuskan saya, lihat Pimred yang kau rekomendasikan.” Tapi saya selalu meyakinkan mereka kalau tunggu saja beberapa waktu, kita lihat bagaimana kebijakannya.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Pernah saya mengusulkan untuk menseleksi magang yang masuk di Pk identitas itu dengan tiga hal, pertama mereka harus di test potensi pengusaan filsafatnya, pengetahuan sosialnya dan terakhir pengetahuan jurnalistiknya. Kenapa pengetahuan jurnalistik terakhir? Karena mereka datang untuk belajar jurnalistik, itu bisa mereka dapatkan di Pk identitas. Sementara filsafat dan pengetahuan umum, digunakan sebagai piranti analisis agar pemberitaan menjadi berbobot. Dua hal pertama tadi sangat tidak mungkin mereka dapatkan di Pk identitas lantaran kondisi yang tidak memungkinkan.&lt;br /&gt;Tapi itu di tolak. Mereka beralasan semua harus diberi kesempatan, biarlah alam yang akan menseleksinya. Alasan bodoh bukan? Lihat saja bagaimana semakin tahun kualitas pemberitaan dan kualitas kru Pk identitas makin buruk, saya sendiri juga tak sepenuhnya baik, sebab dihasilkan dari sistem yang buruk. Ini adalah langkah awal, sebuah langkah revolusioner, menurut saya.&lt;br /&gt;Bagi saya sendiri, Pk identitas tak seharusya hanya menjadi media pembelajaran, tapi harus lebih daripada itu, media perjuangan. Peduli setan dengan rektorat, jika ia khilaf, mesti di kritik walaupun dengan acaman pemberedelan. Saya kira kita harus siap dengan kondisi itu jika sewaktu-waktu di bredel, dan mental itu harus kita bikin sekarang, bukan esok. Kita hanya perlu langkah awal, sekali lagi sebuah langkah revolusioner.&lt;br /&gt;Saya setuju dengan perkataan salah seorang dosen komunikasi, Drs Mauliadi Mau kepada forum Diklat lanjut UKPM Unhas tahun 2009. “Pk identitas itu corong rektorat, hanya menciptakan wartawan bobrok Sulsel yang menghamba pada kapitalis, lihat saja semua seniornya jadi pemimpin media kapitalis di Sulsel saat ini,” ungkapnya sinis. Itulah kurang lebih sepenggal kalimat yang ia lontarkan ke khalayak umum yang ikut Diklat dari seluruh Indonesia itu. Saya kira itu benar dengan catatan, tidak ada track record senior identitas sebagai wartawan amplop. Atau wartawan lainnya. Mauliadi Mau terkesan ‘ngawur’ dan sembrono dalam beberapa titik.&lt;br /&gt;Mauliadi benar jika dikaitkan dengan citra Sulsel yang memburuk. Sebab hampir semua pimpinan media di Makassar adalah senior Pk identitas. Tapi ia salah karena sebagai Dosen Komunikasi membiarkan hal ini terus berlangsung. Harusnya ia mem-back up Pk identitas. Dengan memberikan pembelajaran wacana agar hal itu disadari. Dan, itu semakin membuat semangat saya terpacu untuk ber-identitas.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Tapi kemudian hal itu berubah menjadi suatu yang utopis, paling tidak saat ini melihat sikap Pimred yang tak lagi opendmind. Akhir juli lalu, sebuah opini dia batalkan terbit lantaran wacananya telah usang. Menurutnya, (penjelasan ini setelah terbit) kalau opini itu diterbitkan, terkesan kita ‘menghakimi’. Ceritanya begini, opini yang di batalkan itu bertemakan Anti Negara Islam, awalnya sodara Erwin menulis di Kolom Bias dengan judul: Negara Islam, No Way. Kemudian itu dibantah anggota HTI di kolom opini dengan judul: Negara Islam, Is a Way. Juga pada saat itu, seingat saya Pimred mengatakan bosan pembaca kalau disuguhkan opini yang berbau Islam terus.&lt;br /&gt;Lalu apa yang terjadi? Yang keluar adalah opini tentang Syiah. Siapa yang tidak kecewa? Sekali lagi, Pk identitas itu ruang perjuangan, bukan pembelajaran semata. Bagi saya, siapa pun yang menolak demokrasi, yang tidak menghargai sesama dalam kesederajatan, yang ingin mengganti negara Indonesia yang nasionalis dan demokratis dengan Negara Islam harus di lawan. Dan inilah posisi peran perjuangan Pk identitas yang saya maksud. Lagipula, sodara Pimred terlampau terburu-buru karena ternyata dia tak mengikuti perkembangan wacana Pk identitas. Dia tidak membaca opini balasan itu, sebab hanyalah penjelasan rinci atas kesalahan penafsiran oleh penulis HTI. Untuk penjelasan lebih lanjut, akan saya bahas pada tulisan saya lainnya, tentang agenda Setting Media.&lt;br /&gt;Saya paham kalau dalam media berlaku sistem secara struktural. Segala pemberitaan yang terbit tergantung keinginan Pimred. Tidak ada alasan, semua titik. Tapi bukankah kita media kampus? Medianya mahasiswa yang menggaungkan demokrasi. Apa pantas hal itu dilakukan, paling tidak sebelum di hapus, Pimred berusaha mengkomunikasikannya. Saya tentu akan menerimanya dengan lapang dada. Bagi saya, itu sepenuhnya wilayah Pimred. Saya ini hanya ‘pembantu’.&lt;br /&gt;Sikap ini akhirnya membuat saya menolak meng-edit opini edisi berikutnya, saya merasa tidak lagi punya kapabilitas. Saya telah terbukti gagal menjalankan amanah. Dan, saya tidak akan menjilat lidah saya sendiri. Sekali berkata tidak, kata itu akan berlaku selamanya. Entah apapun konsekuensinya. Terakhir, saya diberi surat teguran pertama. Surat itu saya sobek. Surat itu tidak punya efek apapun terhadap saya. Karena pada saat itu, saya menganggap diri benar dengan pilihan saya. Dan sodara Pimred, adalah orang bodoh se-Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Ber-identitas, berarti siap menjadi ‘penjual sate’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bukan cuma itu, ber-identitas sama saja dengan menjadi ‘penjual sate’. Sebuah tradisi yang harus segera diputus. Bayangkan saja, saat saya menjadi Steering Diklat Dasar Jurnalistik tahun lalu, saya dibuat repot setengah mati, karena baik jajaran atas maupun reporter masing-masing memiliki bahasa sendiri yang sulit saya pahami. Mereka—jajaran atas—bangga dengan ke-atasannya dan tidak mau menyentuh hal ‘bawah’, macam membantu kegiatan. Mereka ber-apologi, ini sudah mereka rasakan, ini tradisi, kalian harus mengerjakannya. Sementara reporter, juga larut dalam ‘kebawahannya’ sehingga bebal dengan segala macam marah dan kritik yang saya lontarkan.&lt;br /&gt;Tapi saya tahu, personil reporter yang menjadi panitia tidak cukup pengalaman dan tenaga di tengah kuliah yang padat untuk membikin Diklat. Jadilah Diklat itu sebagai tempat saya dan beberap teman redaktur dan reporter beralih profesi menjadi ‘penjual sate’. Menjadi ‘penjual sate’ lantaran menusuk, mengipas, tapi di makan bersama. Kita yang capek membuat kegiatan, sementara jajaran atas yang mendapatkan enaknya. Ironis bukan? Itulah Pk identitas.&lt;br /&gt;Inilah poin selanjutnya yang harus di lakukan Pk identitas. Memupuk sikap peduli. Kita ini adalah tim. Inilah poin yang segera harus dibenahinya. Caranya, tentu dengan melakukan upgrading panitia pelaksana sebelum melakukan sebuah kegiatan. Kemudian, semaksimal mungkin menyaring kru yang punya pengalaman organisasi. Bagaimana pun minimnya pengalammnya. Karena, ber-identitas bukan sekadar ajang pembelajaran, tapi juga sebuah arena perjuangan.&lt;br /&gt;Bukti selanjutnya dari sifat ini adalah adanya kegiatan PJTLN yang tanggal 13 oktober akan diadakan. Semua panitia, Steering dan jajaran atas kocar-kacir memikirkan kegiatan ini baru pada saat kegiatan ini akan dilaksanakan. Efektifnya mereka serius mengurus kegiatan ini justru satu bulan—kalau mau dibilang tidak cukup—sebelum kegiatan berlangsung. Lagi-lagi, ironis bukan?&lt;br /&gt;Saya sendiri memilih ‘hengkang’ dari kegiatan itu dengan alasan bahwa tidak ingin jadi ‘penjual sate’ untuk kedua kalinya. Saya mahasiwa, bukan ‘penjual sate’. Apapun opini yang keluar dari jajaran atas dan teman-teman, terserahlah, ini pilihan? Saya bukan orang bodoh. Hanya orang bodoh yang jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya, dan paling bodoh untuk yang ke-tiga kalinya.&lt;br /&gt;Tapi perlu diketahui, saya sebenarnya sudah menolak untuk membikin kegiatan ini. Saya dahulu berpikir, Diklat Dasar saja masih tak becus, bagaimana Diklat Nasional yang memerlukan profesionalitas tinggi? Tapi kala itu, semua kru menolak rasionalisasi saya, mereka bilang kita bisa! Tapi mereka lupa, tidak memperhitungkan secara matang segala aspek.&lt;br /&gt;Saya sedikit paham tentang manajemen organisasi, saya mendapatkan di bangku kuliah. Untuk menentukan prioritas kegiatan, terlebih dahulu kita mempertimbangkan aspek Sumber Daya (SD) yang ada. Apa itu sumber daya? Yaitu segala aspek yang memungkinkan pencapaian tujuan. Tapi apakah Pk identitas saat ini memilik SD untuk membuat kegiatan? Untuk beberapa hal mungkin punya, seperti, machine, money, tapi kita lupa dua hal, kita tak punya man, dan method? Kalau pun ada, tidak terlatih. Disitulah saya sendiri melihat pilihan untuk ber-PJTLN adalah—dalam manajemen—sebagai pilihan yang irasional. Dikatakan irasional karena tidak mempertimbangkan SD yang ada.&lt;br /&gt;Mungkin PJTLN yang direncanakan itu saat ini berjalan. Tapi apa ia berjalan sesuai tujuan? Saya kira kegiatan ini berjalan diatas ‘nyawa terakhir’. Lihat, bagaimana rasionalisasi Steering saat saya mempertanyakan kenapa spanduk dan baliho tidak segera dipasang. Ia berpendapat kalau Baliho dan Spanduk tidak terlalu penting dipasang karena tujuan peserta bukan dari Makassar, tapi dari luar, padahal saat itu efektinya tiga minggu sebelum acara berlangsung.  Namun apakah itu benar? Saya kira tidak, karena dibuatnya kegiatan nasional ini yaitu juga untuk memperkenalkan Pk identitas dimata mahasiswa baru Unhas. Saya banyak bertanya kepada mahasiswa angkatan 2008 dan 2009, banyak dari mereka yang tak tahu apa itu Pk identitas. Dan sangat lucu kalau orang luar tahu Pk identitas tapi mahasiswa Unhas tidak. Nah, itu yang tidak dilihat Steering dan Panitia. Dan prioritas macam inilah yang perlu dijadikan program kerja unggulan.&lt;br /&gt;Beberapa kali saya mempertanyakan hal ini dalam rapat, tapi ini tidak di dengar, mereka berkilah, kita tunggu saja Baliho dan Spanduk yang dibuat sponsor. Tapi kapan? Mungkin tahun depan?&lt;br /&gt;Bagi saya, ini membulatkan tekat saya untuk—sekali lagi—setelah sebelumnya merasa kecewa untuk betul-betul malas peduli dengan kegiatan. Tak berarti rapat. Tokh rapat hanya mendengarkan keluh kesah tanpa mencoba mencari solusi. Tak ada resolusi yang baik. Saya kira rapat itu tujuannya mencari resolusi.&lt;br /&gt;Rabu lalu, (6/10) Baliho itu terlihat dipajang di Spanduk Center Fakultas Kedokteran Gigi. Di pasang dengan keadaan ‘semaunya’. Tampak tidak ada keseriusan terhadapnya. Lalu inikah gambaran kegiatan nasional?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Akhir Dari Keluh Kesah Adalah Permintaan Maaf&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mungkin keluh kesah ini terlalu panjang, dan terlampau subjektif. Bukankah keluh kesah itu pengalaman subjektif? Dan mungkin, buat teman yang terus berjuang ‘di jalan yang salah’ sadarlah, anda itu bukan ‘penjual sate’. Anda mahasiswa.&lt;br /&gt;Terakhir, dengan segala hormat saya minta maaf atas sikap saya. Mungkin juga kalian tidak akan memaafkan saya, saya terlalu kejam untuk dimaafkan!&lt;br /&gt;Saya kutip sair lagu ST 12 untuk kalian, “Satu jam saja, ku telah bisa cintai kamu seutuhnya namun bagiku, melupakan mu butuh waktu ku seumur hidup.” Saya mencintai Pk identitas melebihi pacar. Saya menyayangi kalian melebihi saudara saya sendiri, makanya saya peduli. Walaupun awalnya saya hanya ingin mengetahui. Mungkin cara saya yang salah, manifestasi cinta saya yang tak benar. Tapi yakinlah, ini untuk kalian. Untuk Pk identitas ke depan. Maukah kalian terus mewariskan profesi ‘penjual sate’ kepada generasi selanjutnya? Maukah kalian mewariskan generasi ‘bodoh’ wacana? Saya kira tidak! Tidak untuk saat ini dan selamanya!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-3121449179577417504?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/3121449179577417504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=3121449179577417504' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/3121449179577417504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/3121449179577417504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2010/10/tak-sekadar-pembelajaran-tapi-arena.html' title='Tak Sekadar Pembelajaran, tapi Arena Perjuangan'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-9203326468609199432</id><published>2010-09-20T05:59:00.000-07:00</published><updated>2010-09-20T06:06:35.898-07:00</updated><title type='text'>Arung dan Ekstasi</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5CCompac%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5CCompac%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5CCompac%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5CCompac%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5CCompac%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5CCompac%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Catatan Pendamping Goenawan Muhamad untuk buku St. Sunardi berjudul: Nietzsche&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;" align="center"&gt;“Saya harus hanya memercayai seorang Tuhan yang mengerti bagaimana menari”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;" align="center"&gt;(Also Spach Zaratustra)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Nietzsche hadir tidak hanya dengan niat mengejutkan, ketika ia mengatakan bahwa “Tuhan sudah mati”. Ia lebih radikal ketimbang seorang ateis biasa. Beberapa pernyataan yang termasuk termasyhur bahkan menyebabkan ia bisa ditafsirkan sebagai filsuf yang bukan saja menampik filsuf (yang pernah ia cemo’oh sebagai kegiatan yang mirip vampir: menghisap darah dari kehidupan) dan menentang metafisika, tetapi juga seorang pemikir yang menampik adanya kebenaran. Baginya, kebenaran adalah ilusi. “Kebenaran”, begitu pernah ia katakan, “adalah sejenis kesalahan yang bila tanpa itu sejenis makhluk tak dapat hidup.” Bahkan kehendak untuk mendapatkan kebenaran pernah dianggapnya sebagai ekspresi dari ideal yang tidak disukainya, yakni ideal zahid, atau “asketik”, yang menampik kehidupan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Memperkenalkan Nietzsche ke kalangan yang lebih luas di Indonesia, seperti yang dengan bagus dilakukan oleh St. Sunardi, berarti menyediakan satu kesempatan—kepada mereka yang tertarik akan soal-soal ide-ide—untuk ikut serta dalam suatu penjelajahan yang mengguncang, menjebol batas, menemui malam, memasuki sebuah gelora yang merangsang, karena kita senantiasa dikejutkan oleh tendensinya, yakni bahaya. Nietzsche sendiri mengatakan apa yang kita alami dalam arung itu dalam satu aforisamenya yang terkenal, sebagaimana dikutip St. Sunardi dalam buku ini:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 40.5pt 10pt 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kita meninggalkan daratan dan sudah menuju kapal! Kita sudah membakar jembatan di belakang kita—dan lagi, kita sudah menghapuskan daratan di belakang kita! Dan kini, hati-hatilah, kau kapal mungil! Samudra raya mengelilingimu: memang benar, dia tidak senantiasa mengaum, dan kadang-kadang ia tampak lembut bagaikan sutera, emas dan mimpi yang indah. Namun, akan tiba waktunya bila kau ingin tahu, bahwa dia itu tak terbatas. Oh, burung yang malang yang merasa bebas dan kini menabrak dinding-dinding sarangnya! Ya, bila kau merasa rindu akan daratmu… yang seolah-olah menawarkan kebebasan lebih banyak—dan tak ada “daratan lagi”.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ia pasti bukan suara yang putus asa setelah mengatakan bahwa “kebenaran adalah ilusi”. Yang terbersit dari kata-kata itu justru sebuah isbat kepada hidup, dengan segal rindu yang tak sampai, rumah yang tak pernah tegak, petaka yang tak pernah putus, didalam kancah kelezatan tubuh dan angan-angan. &lt;i style=""&gt;Amor fati: &lt;/i&gt;kita menerima nasih dengan semacam rasa cinta. Tanpa miris, bahkann dengan gairah. Di dalam masa ketika aman dan tertib merupakan nilai yang diunggulkan—tidak hanya dalam kehidupan sosial, tetapi juga dalam pemikiran dan keyakinan—di masa ketika banyak orang ingin berlindung di bawah otoritas negara ( “monster yang paling dingin”, kata Nietzsche), atau dibawah iman dan ilmu, pemikiran Nietzsche bisa dianggap semacam ekstasi: yang didapat dari sana adalah pembelotan, kegilaan, khaos, keasyikan dan niat kembali terus menerus, dengan berahi. Bedanya dengan obat perangsang biasa ialah dari Nietzsche kita bisa, kalau kita terbuka untuk itu, memperoleh keberanian yang tertuntas. Dengan Nietzsche kita ibarat mendaki mahameru untuk mencapai puncak dalam panggilan sang hero yang tragik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Juga sebuah hidup yang kreatif. Juga pandangan yang riang dan ringan hati. Ketika Zaratustra, dalam &lt;i style=""&gt;Also Sparch Zaratustra, &lt;/i&gt;mengatakan bahwa ia “harus hanya memercayai seorang Tuhan yang mengerti bagaimana menari”, ia agaknya meringkaskan suatu &lt;i style=""&gt;letmotiv &lt;/i&gt;dalam pandangan hidup Nietzsche: bahwa seandainya pun ada suatu sumber yang esa, kalaupun ada pondasi dari segala hal ihwal, maka suatu sumber atau fondasi itu sesuatu yang bergerak senantiasa, mencipta senantiasa, berubah senantiasa, seperti penari di dalam suatu koreografi yang membersit dari dalam diri sendiri, tanpa mengikuti pakem dan bentuk, tanpa &lt;i style=""&gt;telos &lt;/i&gt;atau tujuan yang dipatok. Suasana bukanlah semangat yang memberat, sebab semangat itulah justru musuh. “Akulah musuh Semangat Memberat,” ujar Zaratustra, yang merasa diri ibarat burung, selalu siap dan tak sabar untuk selalu terbang. Menjadi burung yang terbang bukanlah menjadi burung onta yang berlari lebih cepat ketimbang kuda, tetapi sementara itu membenamkan matanya sarat ke dalam tubuh—dan menyebut bahwa bumi dan hidup itu berat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Bagi Nietzsche: tarian dalam nasib yang dahsyat ini adalah tarian yang ringan, terbang, bermain, bahkan tertawa…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Mereka yang tak terbiasa dengan semua ini mungkin akan bertanya (dengan sedikit “semangat memberat”): jika demikian, dimana tanggung jawab, disiplin, hidup yang tahu apa dituju? Bagaimana kau akan menghadapi orang-orang yang malang, dan bagaimana kau menghadapi maut, yaitu hari akhir, yang bisa membuat eksistensi sebagai alur, atau suatu tema? Dan mengapa harus ringan, terbang, bermain bahkan tertawa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Seorang penulis pernah mengatakan bahwa Nietzsche adalah “tokoh sentral dalam pemikiran postmodern di Barat”, suatu pemikiran yang sering kali diasosisikan dengan sensibilitas terhadap apa yang disebut Derrida sebagai konsep “permainan”. Yang kita arungi, dengan keberanian dan kegembiraan, bukanlah suatu proyek penaklukan dunia. Yang menonjol dari Nietzsche pertama-tama adalah sebagai sebuah suara kritis terhadap agenda modernitas yang dimulai dengan Descartes, yang praktis menempatkan ego dalam posisi Tuhan—sebagai awal, malah sumber, dari perpikir dan dari “meng-ada”—dan dengan demikian membuat pemikiran diskursif menjadi pembangunan dunia. Bagi Nietzsche, ego yang seperti itu hanya fiktif. Baginya, tidak ada seonggok subjek. Yang ada hanyalah pluralitas. “Kita adalah pluralitas yang membayangkan diri sebagai satu kesatuan,” kata Nietzsche. Yang ada (seperti yang kemudian bergema dalam pemikiran Julia Kristeva) adalah subjek-dalam-proses. Semua mengalir, semua menjadi. Makhluk, seperti kata orang Jawa, segala hal yang kita temui karena ada, adalah &lt;i style=""&gt;dumadi&lt;/i&gt;, suatu yang “dijadikan dan menjadi”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Hanya saja banyak orang melihat air yang dibendung tidak percaya, bahwa air itu mengalir, begitulah sebagaimana yang di ibaratkan dalam Zaratustra. Mereka hanya melihat tambak, bendungan, tebing—mungkin karena itu lebih memudahkan mereka untuk berurusan praktis dengan dunia. Orang yang bertumpu pada identitas benda-benda, kepada konsep dan kepada kategori, yang konstan, utuh, beku, tak bergerak dalam perbedaan, sebab dengan itu orang bisa mengaturnya, mengontrolnya, dan menjalankan pengetahuan dengan dunia serta kekuasaan atas hidup dan hal-ihwal. Negara, modal, uang, ilmu dan teknologi bermula dari sini. Dan Nietzsche—setidaknya dalam interpretasi posstrukturalis—adalah sebuah suara alternatif dari kesibukan modernitas itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tentu, tidak persis demikian. Heidegger, misalnya, mengatakan bahwa pada dasarnya tidak banyak beda antara Nietzsche dan Descartes. Dengan memastikan &lt;i style=""&gt;cogito ergo sum&lt;/i&gt;, Descartes telah merubah manusia menjadi sang subjek, yakni substansi atau penopang yang berperan sebagai fondasi segala yang ada (&lt;i style=""&gt;beings&lt;/i&gt;). Dengan demikian, keputusan tentang apa saja yang dapat dianggap sebagai “sesuatu yang ada” terletak pada manusia, dan manusia pun hadir dalam posisi dominan. Bagi Heidegger, Nietzsche pun melakukan hal yang sama. Bedanya, dalam pemikiran Nietzsche, sang subjek bukanlah ego yang spiritual, melainkan tubuh, yang ditafsirkan satu pusat hasrat dan rasa, sebagai “penubuhan” dari &lt;i style=""&gt;“der Wille zur Macht”&lt;/i&gt;, kehendak-untuk-kuasa. Subjek itulah yang oleh Nietzsche, menurut Heidegger, jadi ukuran keber-ada-an? Dari tiap hal yang ada: terhadap suatu benda, satu barang, satu hal yang bukan-saya yang “ber-ada” di hadapan saya, sayalah yang menetukan keber-ada-annya. Memang itu tak pernah terjadi dengan proses pemikiran diskursif seperti pada renungan Descartes. Tapi bila Nietzsche menganggap kebenaran sebagai ilusi—dan itu berarti ada yang “benar” dan ada yang “ilusi”—maka sang subjeklah yang dihadirkan sebagai suatu “kekuasaan mutlak untuk memutuskan mana yang benar dan mana yang palsu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Agaknya bagi pandangan Heidegger, Nietzsche masih belum beringsut dari baying-bayang humanisme. Ia belum manusia dari pusat hal-ihwal. Agaknya bagi Heidegger, yang cenderung menggambarkan manusia, atau D&lt;i style=""&gt;asein, &lt;/i&gt;sebagai yang selamanya “terpikat” oleh wujud dan makhluk lain, dan mahkluk lain, dan yang kodratnya dibentuk seluruhnya oleh hubungan yang bersifat &lt;i style=""&gt;“gumati”&lt;/i&gt; dengan mereka, Nietzsche masih meneruskan pemikiran adanya subjek yang bukan saja berbeda, tapi juga lebih utama dari objek. Daripadanya kita memperoleh ideal sang kelana yang gagah berani, yang menuju ke kualitas &lt;i style=""&gt;Ubermens&lt;/i&gt;, menghadang resiko, memilih arung yang tak lazim, menjadi “tuan” dan bukan “budak”, mirip dengan sang jagoan dalam kisah perjalanan Odysseus. Tapi bukankah itu juga gambaran seorang &lt;i style=""&gt;entrepreneur&lt;/i&gt;, orang bisnis yang hendak merengkuh sesuatu yang besar, membentuk satu imperium, menaklukkan, dengan menempuh badai dan melawan arus? Dan bukankah Odysseus bisa dianggap (oleh Adorno, misalnya) sebagai “prototype individu borjuis”?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Heidegger, yang berbicara nuram tentang teknologi, dalam perkembangan pemikiran kemudian bahkan mengemukakan bahwa di dunia ini manusia sekadar berperan sebagai “penggembala” yang memelihara misteri dari sang Ada (&lt;i style=""&gt;Sein &lt;/i&gt;atau &lt;i style=""&gt;Being&lt;/i&gt;)—satu pernyataan yang seakan-akan memberi warna mistis bagi pandangan hidupnya, satu hal yang memang umumnya dianggap tak ada indikasinya dalam pandangan Nietzsche. Dalam hubungan inilah agaknya bagi Heidegger, Nietzsche—yang menentang metafisika, yang menyatakan tak ada dunia yang trasenden—telah melakukan apa yang oleh metafisika umumnya: mengabaikan Ada. Metafisika, bagi Heidegger, adalah sejarah surutnya Ada. Dan itu pula yang terjadi ketika Nietsche mengemukakan “kehendak-untuk-kuasa” sebagai “esensi dunia”, “esensi hidup”, bahkan “esensi segala hal yang ada”. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Heidegger menganggap Nietzsche telah meletakkan Ada pada status nilai: sekadar suatu kondisi untuk mempertahankan dan meningkatkan kehendak-untuk-kuasa. Maka, apa bedanya dia dengan Descartes dan agenda modernitas dan himanisme yang bertolak dari sana?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tetapi Heidegger telah salah membaca Nietzsche, menurut Derrida dan kaum posstrukturalis. Bagi Derrida, pemikiran Heidegger mengukuhkan kembali kedudukan &lt;i style=""&gt;logos&lt;/i&gt; dan kebenaran sebagai &lt;i style=""&gt;premium signatum&lt;/i&gt;: sebagai tanda yang dalam arti tertentu bersifat trasendental. Bagi Derrida dan kaum posstrukturalis, Heidegger benar jika ia, dalam membaca Nietzsche, bisa membiarkan bahasa Nietzsche tidak bekerja sebagai metafora. Bagi Derrida, hanya dengan menelaah bahasa Nietzsche secara demikian, Nietzsche justru akan tampak telah mampu membebaskan penanda dari sifat ketergantungannya dan derivasinya, sehingga penanda pun tidak akan ditentukan oleh dan tidak akan pula berasal usul dari &lt;i style=""&gt;logos&lt;/i&gt; atau konsep tentang kebenaran yang terkait. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Derrida pun mengajukan argumennya tentang “main”. “Main” adalah “tidak hadirnya petanda yang trasendental sebagai ketidakterbatasan main.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Karena Nietzsche percaya bahwa kebenaran adalah ilusi, karena ia tidak mengasumsikan bahwa akan mungkin penanda yang cocok dengan petanda yang ditandainya, karena realitas adalah &lt;i style=""&gt;dumadi&lt;/i&gt;, yang terus dalam prosen menjadi, berubah, mengalir, dan tiap titik dalam air tidak pernah kembali, bahkan yang ada dalam suatu khaos, Derrida tampaknya ingin menampilkan Nietzsche sebagai isbat, suatu afirmasi, kepada gerak penanda yang putus-putusnya menandai, suatu &lt;i style=""&gt;signifiant &lt;/i&gt;yang menari-nari terus tanpa tempat menambatkan diri, tanpa suatu &lt;i style=""&gt;signifie&lt;/i&gt;, tanpa rumah asal tanpa tujuan akhir, tanpa nostalgia: yang ada sebuah tanah air pikiran yang telah hilang. Sang Ubermens, kata Derrida, membakar teks nya dan menghapus jejak langkahna sendiri, tertawa ke arah jalan kembali, dan ia akan menari, di luar kebenaran dan “rumah Ada”, lupa secara aktif …&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Mari menari, mari tertawa, mari berlupa…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Derrida, seperti ditunjukkan oleh Michael Haar dalam satu esai yang cemerlang yang menggambarkan bagaimana Derrida “memainkan” Nietzsche, sebenarnya menjalani suatu startegi HyperNietzshean. Dengan mengatakan “menulis adalah permainan dalam bahasa”, di mana penanda bergerak dengan tidak lagi memiliki petanda, suatu proses main intra-linguistik yang tanpa henti, suatu proses permainan dari segala yang ada yang berlangsung di atas “papan catur tanpa dasar” yang tanpa penahan dan tanpa kedalaman—semuanya itu agaknya melebih-lebihkan apa yang disebut Nietzsche sebagai dorongan untuk bermain sebagai suatu bagian dari kehendak-untuk-kuasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sebab, seperti yang dikatakan Michael Haar, bagi Nietzsche, dunia bukanlah sebuah “papan catur tanpa dasar”. Pelbagai daya yang hadir dalam khaos berlangsung dengan menopang dan mempertahankan manusia. Bagi Nietzsche, bahasa bukanlah cakrawala tanpa batas yang terus menerus tertunda garis batasnya. Menulis adalah suatu imitasi dari bicara. Memang, menulis bisa menyembuhkan bahasa dari cakap yang tanpa intensitas yang biasa disenangi orang banyak. Tapi pada dasarnya menulis hanya sebuah salinan pucat, dan sebab itu Nietzsche mengatakan: “Aku hanya suka apa yang ditulis dengan darah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tidak selamanya bisa pas menang. Terutama karena “kata dibuat untuk gaya berat”, seperti yang dikatakan Zaratustra, dan hanya nyanyi, music, yang tidak berbohong pada dia yang “ringan”. Kata akan selalu dibebani makna, lagu bisa tak mengacuhkan hal itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Derrida bisa mengatakan bisa mengatakan bahwa justru dengan mengatakan hal itu, Nietzsche mengutamakan yang tanpa-beban-makna, yang tanpa harus terkait dengan petanda, yang mengingatkan, bahwa kebenaran adalah ilusi. Tapi bisakah sebenarnya kita mengatakan bahwa kebenaran adalah ilusi? Bukankah dengan mengutarakan kalimat itu, Nietzsche sebenarnya mengutarakan kebenaran?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dalam bukunya, St. Sunardi cenderung mengatakan “ya”. Bagi Nietzsche, kata Sunardi, kriterium kebenaran berbeda dari yang dirumuskan Descartes. Kriterium kebenaran adalah “semakin tingginya kesadaran orang akan adanya kekuatan.” Ada yang memberi kesan dekatnya Nietzsche dengan pragmatisme disini. Pun ada yang, seperti yang dikemukan oleh Sunardi, bahkan bisa dibandingkan dengan Karl R Popper: bahwa suatu ucapan atau hipotesis bersifat ilmiah, kalau secara prinsipil terdapat kemungkinan untuk menyangkalnya. Bukankah, menurut Nietzsche, kebenaran bukanlah antithesis kekeliruan, melainkan, dalam hal-hal yang paling fundamental, hanya merupakan bentuk hubungan antara berbagai macam kekeliruan? Dengan kata lain, menurut kesimpulan Sunardi, baik Popper maupun Nietzsche memperingatkan “bahaya dogmatisme kebenaran”?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dogmatisme: kemandegan. Maka barangkali tidak ada jeleknya kita teringat kembali bahwa Zaratustra adalah seorang penari, yang hanya mau percaya kepada Tuhan yang mengerti bagaimana menari. Kepada hidup, Zaratustra berkata: “Aku menari mengikutimu, kuturutkan kau bahkan ketika kulihat jejakmu yang paling lamat.” Kebenaran adalah Sesuatu yang didapat dari proses kreatif, tanpa dibebani pamrih, atau tanpa tujuan samping apapun; suatu proses kreatif yang menguntit hidup: itu juga sejenis “arah”, dan bisa jadi semacam “kepatuhan”, dan jangan-jangan “tanggung jawab” –setidaknya kepadasang Hidup. Saya kira, disini tampak bahwa Nietzsche memang hadir tidak untuk mengejutkan, tidak usah mengejutkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-9203326468609199432?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/9203326468609199432/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=9203326468609199432' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/9203326468609199432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/9203326468609199432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2010/09/arung-dan-ekstasi.html' title='Arung dan Ekstasi'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-8081112824097930348</id><published>2010-09-13T23:10:00.000-07:00</published><updated>2010-09-13T23:15:22.507-07:00</updated><title type='text'>Negara Islam, No Way</title><content type='html'>Tulisan ini di muat di Tabloid identitas edisi Akhir Juni 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 415 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;} @font-face 	{font-family:"Times New  Roman \, serif \;"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-alt:"Times New Roman"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:auto; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 0.5in; line-height: normal; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada suatu hari di bulan Mei 2010, sekelompok mahasiswa tampak serius berdiskusi. Di sekitarnya, terpampang atribut bendera dan spanduk bertuliskan huruf Arab. Saya yang terlambat datang tetap langsung bisa menebak, kelompok mana yang membikin kegiatan ini. Tema diskusinya, “Memaknai Hari Kebangkitan Nasional, 21 Mei”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 0.5in; line-height: normal; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saya tercengang, salah seorang pemateri berseloroh, maknailah Hari Kebangkitan Nasional sebagai tonggak awal perjuangan mengganti sistem Negara Indonesia. Saya tahu, pemateri itu tidak sedang bercanda. Sebab kelompok ini memang gencar mengusung jargon Negara Islam. Mereka memiliki tujuan mengganti sistem negara kita yang nasionalis dan demokratis dengan Negara Islam. Bagi mereka, demokrasi merupakan sistem kufur yang berasal dari Barat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 0.5in; line-height: normal; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tampaknya kini yang membebaskan atau yang menjerat adalah sebuah ide membentuk sebuah Negara Islam dan dengan itu segala ketimpangan sosial bisa ‘dilenyapkan’. Negara Islam itu, seperti yang digemborkan pendukungnya merupakan wasiat Tuhan yang harus diwujudkan. Jika tidak melakukannya, maka azab Tuhan niscaya datang bertubi-tubi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; line-height: normal; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Beberapa puluh tahun lalu, di negeri asalnya, Arab Saudi, para pendukung Negara Islam yang tergabung dalam gerakan Wahabi-Ikhwanul Muslimin bahkan tak segan membunuh dan mengecap kafir orang lain yang berbeda pemahaman. Mereka mengklaim bahwa mereka sepenuhnya memahami isi Al-quran. Olehnya, mereka berhak menjadi wakil Tuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; line-height: normal; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ide pembentukan Negara Islam di negeri Indonesia bukanlah hal baru. Dalam muktamar di Banjarmasin pada tahun 1935, Nahdatul Ulama (NU), salah satu organisasi keislaman terbesar di Indonesia harus berdiskusi panjang untuk sampai pada kesimpulan memperbolehkan pendirian negara bangsa. Bagi kaum muda NU, terbentuknya Negara Islam tidak serta-merta membentuk masyarakat yang islami pula. Masyarakat islami akan terwujud jika ummat menjalankan agama secara konsisten.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; line-height: normal; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Baru-baru ini, adanya insiden penyerangan kapal bantuan kemanusiaan Mavy Marmara oleh tentara Zionis Israel semakin memperkuat &lt;span style=""&gt;justifikasi&lt;/span&gt; kelompok ini atas ide membentuk Negara Islam. Tengok saja aksi-aksi yang terjadi. Spanduk dan plakat bertulis, “Sistem Khilafah (baca: Negara Islam) solusinya.” &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; line-height: normal; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tentu harus dicatat, keinginan mereka memperjuangkan islam itu tak salah. Namun, klaim yang menganggap Negara Islam sebagai satu-satunya pilihan dengan mencap sistem lain sebagai kufur atau buatan Barat tentu tak benar. Hal ini bisa menggiring islam dari agama menjadi ideologi. Pada akhirnya, islam menjadi dalih untuk membumi-hanguskan orang lain yang berbeda pemahaman dari mereka.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; line-height: normal; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Agaknya, bayang-bayang totaliterianisme tak jauh dari islam yang mengagungkan perbedaan. Harapan Tuhan bahwa islam bisa menjadi rahmat bagi sekalian alam, bisa jadi isapan jempol belaka. Tetapi dibandingkan Timur-tengah, Indonesia masih lebih baik. Disini tak kita temukan ‘&lt;i&gt;genosida’&lt;/i&gt; yang mengatas-namakan mahzab-mahzab agama. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; line-height: normal; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Abdurahman Wahid, salah seorang cendekiawan muslim tentu jauh hari telah menyadari kondisi ini. Ia terbukti &lt;i&gt;getol&lt;/i&gt; melakukan &lt;i&gt;counter &lt;/i&gt;wacana. Bahkan sampai mengeluarkan buku berjudul “Ilusi Negara Islam,” sebagai respon atas semakin mengguritanya kelompok ini di tengah masyarakat. Akhirnya mungkin sesekali kita harus menyadari, kita ini hanyalah makhluk biasa, yang tak berhak mengklaim kebenaran. Andai itu terjadi, tentu kita harus kritis bertanya: Tuhan kah saya? &lt;i&gt;Tabik&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-8081112824097930348?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/8081112824097930348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=8081112824097930348' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/8081112824097930348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/8081112824097930348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2010/09/negara-islam-no-way.html' title='Negara Islam, No Way'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-156147879464483135</id><published>2010-09-13T22:47:00.000-07:00</published><updated>2010-09-13T22:49:12.596-07:00</updated><title type='text'>“ISLAM UTOPIS” IS WAY</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Semua pemerintahan selain Islam tidak dibenarkan dan merupakan pemerintahan kufur.” Petikan kalimat ini saya ambil dari tulisan balasan Saudara Firman Gani yang dimuat di Rubrik Opini PK identitas Awal Agustus, menanggapi tulisan saya yang dimuat di Rubrik Bias Koran yang sama di edisi Akhir Juni 2010. Judul tulisan saya saat itu, “Negara Islam, No Way.” Dari bahasa yang dilontarkannya, saya melihat ada kesalahan fatal dalam menafsirkan tulisan saya. Parahnya, Saudara Firman secara implisit mengatakan bahwa saya congkak dan salah baca. Tapi saya sendiri tidak akan mengomentari bahasa-bahasa seperti itu. Menurut saya, lontaran seperti itu tidak lahir dari rasio yang sehat, namun datang dari nafsu amarah yang menggebu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil pencarian saya di beberapa kamus dan mesin pencari Google, secara bahasa “kafir” berasal dari kata “kufur” yang artinya menutupi kebenaran, melanggar kebenaran yang telah diketahui dan tidak berterima kasih. Kata jamak dari kafir adalah kaafirun atau kuffar. Kata kafir dan derivasinya disebutkan sebanyak 525 kali dalam Al Qur’an. Semuanya mengacu pada perbuatan mengingkari Allah swt. Kalau kita cermati, arti kafir yang paling dominan disebutkan dalam Al Qur’an adalah pengingkaran terhadap Allah dan Rasul-Nya, khususnya Muhammad SAW dengan ajaran-ajaran yang dibawanya.&lt;br /&gt;Jadi, orang kafir adalah mereka yang menolak, menentang, mendustakan, mengingkari, dan bahkan anti kebenaran. Seseorang disebut kafir apabila melihat sinar kebenaran, ia akan memejamkan matanya. Apabila mendengar ajakan kebenaran, ia menutupi telinganya. Ia tidak mau mempertimbangkan dalil apa pun yang disampaikan padanya dan tidak bersedia tunduk pada sebuah argumen meski telah mengusik nuraninya.&lt;br /&gt;Nah, disinilah titik krusialnya. Apakah Islam selain tafsiran Saudara Firman lantas bisa kita cap kafir? Karena banyak umat islam sendiri, termasuk para ulama (baca: ulama NU dan Muhammadiyah) menolak keras pendirian Negara Islam. Pada titik inilah saya berbeda pemahaman dengan Saudara Firman, bukan persoalan lain. Apalagi sampai berdebat soal sejarah Kebangkitan Nasional. Bukan itu esensi yang ingin saya sampaikan dalam tulisan saya terdahulu.&lt;br /&gt;Perlu juga diketahui, tulisan saya tidak bermaksud menimbulkan islamophobia. Saya hanya ingin semua umat manusia saling menghargai, tidak saling menghujat, dan membunuh. Bisa menerima perbedaan pendapat. Dan, cita-cita inilah yang kadang disalah-tafsirkan oleh orang-orang yang membenci Nurcholis Madjid dan Gus Dur yang dengan gencar mewacanakan pluralisme. Bagi saya, bukan Negara Islam yang menjadi keharusan, tapi pluralisme. Sebuah sikap saling menghargai, saling memberikan kesempatan mengeluarkan semua potensi yang ada. Dan, inilah inti demokrasi. Lalu apa alasan menolak demokrasi?&lt;br /&gt;Mungkin kita harus sedikit merenung, kenapa Tuhan menciptakan manusia dengan bersuku-suku, berbangsa-bangsa. Ini tidak lain agar mereka saling berbuat dalam kebaikan dan taqwa. Bukan malah sebaliknya, mencap orang lain kafir. &lt;br /&gt;Lalu kenapa saya mengatakan pemahaman islam macam Firman bisa menggiring islam dari agama menjadi ideologi? Kalau kita ingin membuka selubung “ideologis” pemikiran Firman, kita bisa melacaknya dari landasan epistemologisnya. Dalam hal ini filsafat yang mendasarinya. Meskipun Saudara Firman sendiri kemungkinan akan membantah. Namun, kalau dilacak secara hati-hati, kita bisa menemukan bahwa Saudara Firman telah terkontaminasi paradigma positivistik. Sesuatu yang tidak mungkin disadarinya, baik olehnya maupun para pengikutnya.&lt;br /&gt;Salah seorang pendiri Mahzab Frankfurt, Max Hokheimer menunjukkan tiga pengandaian dasar yang membuat paradigma positivistik menjadi ideologi dalam arti ketat. Pertama, paradigma positivistik mengandaikan bahwa pengetahuan manusia tidak menyejarah atau ahistoris, dan karenanya teori yang dihasilkan juga ahistoris dan asosial, maka tak salah Firman menganggap saya dan atau yang berpikiran sama seperti saya sebagai kafir.&lt;br /&gt;Berdasarkan ciri ahistorisnya itu, muncullah pengandaian kedua, yaitu pengetahuan bersifat netral. Teori merupakan dekskripsi murni tentang fakta, yang merupakan “pengetahuan demi pengetahuan.” Akhirnya, karena pengetahuan bersifat netral, maka ia terpisah dari praxis. Proses penelitian dipisahkan dari tindakan etis, dan pengetahuan dapat dipisahkan dari kepentingan. Term Negara Islam tidak serta merta menjadikannya sebagai islam an sich.Tapi ada kepentingan di belakangnya, baik itu kepentingan politik maupun budaya.&lt;br /&gt;Lebih lanjut Hokheimer menjelaskan, sifat ideologis paradigma positivistik itu tampak dalam tiga gejala. Pertama, dengan anggapan teori itu ahistoris, ia mengklaim diri universal, berlaku dimana saja secara transendental dan suprasosial sehingga melupakan proses kehidupan dalam masyarakat real. Maka tak salah Saudara Firman kemudian ingin menerapkan Negara Islam di Negara Indonesia yang majemuk ini. Ia tidak akan mau tahu akan perbedaan konteks antara Negara Timur-Tengah sana dengan Indonesia. Bagi dia, pemikiran yang berbeda dengan mereka adalah salah dan kufur. Salah dan kufur artinya apa? Bahwa pemikiran yang sah di muka bumi ini hanya pemikiran kelompoknya, dan selain itu harus dibumihanguskan. Inilah kenapa saya mengatakan bahwa islam tak akan jauh dari bayang-bayang totaliterianisme.&lt;br /&gt;Kedua, dengan mengangap diri netral, paradigma ini berdiam diri terhadap masyarakat yang menjadi objeknya dan membenarkan kenyataan tanpa mempertanyakannya. Firman tak mempertanyakan pemikirannya sendiri, dan menerapkan teorinya secara taken for granted. Ciri-cirinya, tafsirnyalah yang paling sahih. Ketiga, yang tak kalah pentingnya, dengan memisahkan diri dari praxis, ia hanya mengejar teori demi teori dan karenanya tidak memiliki implikasi praktis. Penafsirannya hanya bersifat tekstual.&lt;br /&gt;Dari penjelasan di atas, tak salah kalau senior saya Muh Absariarpin, penggiat NET Institute mengatakan antara islam versi Firman dengan Marxisme ortodoks tak ada bedanya. Menurutnya, kedua pemikiran tersebut meskipun saling bertentangan, sama-sama berlandaskan paradigma positivistik. Bagi Marxisme, kebenaran itu hanya ada dan pasti di Sosialisme Komunisme, sementara bagi Firman, kebenaran itu hanya ada di Negara Islam. Peran subjek kemudian diabaikan, gerak sejarah dilepaskan dari subjek penggerak sejarah itu sendiri.&lt;br /&gt;Akhirnya, saya sendiri tak hentinya untuk terus menyerukan kalau kita ini bukan siapa-siapa. Kita ini hanyalah buih yang terombang-ambing di tengah lautan. Marilah kita menghargai perbedaan. Mencintai sesama agar islam benar-benar menjadi rahmatan lilalamin! Tabik!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-156147879464483135?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/156147879464483135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=156147879464483135' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/156147879464483135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/156147879464483135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2010/09/islam-utopis-is-way.html' title='“ISLAM UTOPIS” IS WAY'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-8437825840524421550</id><published>2010-06-08T00:53:00.001-07:00</published><updated>2010-09-20T21:48:51.620-07:00</updated><title type='text'>Kasus Penjualan Skripsi Fakultas Ilmu Budaya Unhas Diselesaikan  Secara Kekeluargaan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Polemik dugaan kasus penjualan skripsi di Fakultas Ilmu Budaya Unhas akhirnya usai. Solusinya diselesaikan secara kekeluargaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pelataran Fakultas Ilmu Budaya dipenuhi puluhan mahasiswa yang berdemontrasi. Mereka menuntut pihak fakultas bertanggung-jawab atas raibnya ratusan skripsi yang diduga dijual kiloan. Sementara itu, para dosen yang tak terima pun tak tinggal diam. Mereka kemudian meminta dekan mengusut tuntas kasus memalukan ini. Gayung pun bersambut. Sejak isu ini mencuat, Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Prof Burhanudin Arafah lalu membentuk tim investigasi yang bertugas menyelelidiki kasus ini.&lt;br /&gt;Tim investigasi tersebut menghasilkan tiga rekomendasi.  Pertama, memperbaiki fasilitas perpustakaan dan menambah jumlah buku yang ada disana. Kedua, membenarkan bahwa memang ada oknum yang melakukan pencurian itu dan menyelesaikan persoalan ini dengan baik. Ketiga, menyelesaiakan munculnya fenomena sosial di fakultas.&lt;br /&gt;Namun, para dosen meminta Dewan Guru Besar Unhas turun tangan menyelesaikan kasus ini. Mereka kecewa dengan kinerja tim yang dibentuk Dekan. Dan kemudian dekan membentuk tim klarifikasi yang di ketuai Aminudin Ram.&lt;br /&gt;Senin, bertempat di ruangan senat fakultas, kontroversi penjualan skripsi kiloan ini diputuskan akan dislesaikan secara kekeluargaan. Keputusan itu juga dihadiri oleh perwakilan Senat Mahasiswa FIB. Menurut Aminuddin, penyelesaian kasus secara kekeluargaan ditempuh lantaran persoalan ini tidak perlu dipertikaikan lagi. Apalagi isunya melebar mencakup isu politik. “Kami merasa sama-sama sebagai dosen Unhas dan sama-sama memiliki periuk disini, makanya solusinya kekeluargaan,” ungkapnya .&lt;br /&gt;Mantan Ketua Jurusan Arkeologi Unhas Anwar Thosibo M Hum, Jumat (14/5), mengatakan menerima dengan ikhlas keputusan senat yang mengambil langkah penyelesaian secara kekeluargaan. “Saya merasa sudah tidak punya ‘gigi’ lagi untuk mempersoalkan ini sebab maret lalu tidak lagi menjabat ketua jurusan,” ungkapnya. Dan dosen yang menggantikannya adalah M Amir M Hum, Pembantu Dekan II FIB Unhas.&lt;br /&gt;Menyangkut pemberhentian  dirinya sebagai ketua jurusan, ia mengaku masa periode kepengurusannya telah berakhir. “Kalau anda tanya apakah ini terkait kevokalan saya memperjuangan kasus penjualan skripsi, itu no comment. Saya tidak mau berkomentar.  Silakan tanya ke kak nunding (Aminudin Ram, red), beliau lebih mengetahuinya,” jelasnya.&lt;br /&gt;Pengambilan solusi melalui kekeluargaan menjadi ironis sebab kasus ini menyangkut pelanggaran hak kekayaan intelektual. Mahasiswa FIB Jurusan Sastra Perancis yang juga Koordiantor senat FIB Unhas, Tuhri Syahrial, mengatakan kalau masalah ini sudah dianggap selesai. Senat FIB hanya meminta ke dekanat agar kejadian ini tidak terulang kembali.&lt;br /&gt;“Hasil penelusuran tim pencari investigasi mengatakan kalau yang menjual itu Cleaning Servis (Cs). Tanpa ada koordinasi dengan pihak fakultas. Kami memang menduga tidak mungkin dijual Cs tanpa intruksi dari atas, tapi kami tak punya bukti empiris untuk membuktikan asumsi itu,” ungkap mahasiswa angkatan 2006 ini, Jumat, (14/5) di pelataran FIB.&lt;br /&gt;Tapi sebagai mahasiswa yang memiliki nilai-nilai idealisme, seharusnya persoalan ini dikawal sampai tuntas. Bukan malah menerima persoalan ini secara taken for granted dan tidak terjebak pada pragmatisme politik birokrasi. Seharusnya mahasiswa menuntut hukuman berat bagi pelaku penjual skripsi ini. Sebab tidak tertutup kemungkinan, dikemudian hari kejadian ini terulang kembali.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-8437825840524421550?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/8437825840524421550/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=8437825840524421550' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/8437825840524421550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/8437825840524421550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2010/06/anwar-saya-tak-bergigi-lagi_08.html' title='Kasus Penjualan Skripsi Fakultas Ilmu Budaya Unhas Diselesaikan  Secara Kekeluargaan'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-5767051856952982907</id><published>2010-06-08T00:46:00.000-07:00</published><updated>2010-09-20T21:45:57.924-07:00</updated><title type='text'>Doktor Unhas Plagiat Disertasi</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Plagiarisme merupakan momok di kalangan pendidik. Tapi bagaimana jadinya jika pendidik yang seharusnya memberi contoh tersandung kasus plagiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Alhamdulillah!  Puji syukur ini akhirnya keluar dari mulut dosen Fakultas Ilmu Kelautan  dan Perikanan (FIKP) inisial SM usai promosi doktornya, tahun 2005  lalu. SM adalah mahasiswa pascasarjana program studi Ilmu Ekonomi  angkatan 1996. Sembilan tahun bagi SM adalah waktu yang cukup lama  “menunggu” gelar. “Saya sangat bahagia,” tutur dosen FIKP Unhas ini  mengenang kejadian bersejarah itu, Senin (10/5) usai pengukuhan gelar  profesornya di Lantai II Gedung Rektorat Unhas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Waktu  itu, belasan mahasiswa dan dosen ikut hadir. Tak terkecuali dosen  berinisial SD, rekan sejawatnya di FIKP Unhas. Mereka yang hadir,  masing-masing dibagikan &lt;i style=""&gt;copy-an&lt;/i&gt; ringkasan disertasi.  Saat promosi berlangsung, SM menjawab pertanyaan penguji dengan santai.  Sesekali senyum tipis “dilemparkan” ke penguji. Ketika asyik menyimak,  SD terkejut bukan kepalang melihat tampilan &lt;i style=""&gt;slide&lt;/i&gt; presentasi, mirip isi disertasinya. Kala itu, SD tidak langsung bereaksi. “Usai acara berlangsung, saya langsung sms &lt;i style=""&gt;(short message service)&lt;/i&gt; ke pengujinya,” ungkapnya pekan lalu saat ditemui di Gedung P2KKN. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Beberapa  hari kemudian, SM mendatangi SD untuk mengklarifikasi isi disertasinya  atas suruhan pembimbingnya. Ia menjelaskan telah menulis dalam kata  pengantarnya kalau sebagian referensinya diambil dari disertasi SD.  “Tapi kok banyak alineanya mirip betul dengan isi disertasi saya,”  ungkap SD disela-sela kesibukannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Sebagian  besar alinea diambil dari disertasi SD. Bahkan diduga mencapai puluhan  halaman. Menurut pengakuan SD, isi disertasi yang paling di ingatnya  diplagiati adalah halaman 225, 226, 227 serta halaman 75 yang berisi  bagan. Bagan itu hasil olahnya berhari-hari. Parahnya lagi, referensi  jurnal yang diperoleh SD dari Jepang, dicantumkan pula dalam daftar  pustakanya. “Saya sangat yakin SM tidak memiliki jurnal itu, jurnal itu  masih saya simpan,” jelas doktor lulusan Institut Pertanian Bogor ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;SM  sendiri tak menyanggah isu ini. Pada waktu itu, ia mengakui kalau ada  beberapa alinea yang lupa ia cantumkan sumbernya. Salah seorang  pembimbingnya, Prof Natsir Nessa mengatakan waktu itu SM hanya lupa  menulis sumber pada beberapa alinea. “Ada penguji yang melihat ada  alinea tidak tercantum sumber kutipan,” kata dosen FIKP yang juga  menjabat sekretaris senat Unhas ini, Senin (10/5) di ruangannya Lantai  IV Gedung Rektorat Unhas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Tapi  pertanyaannya, kok bisa persis sama mencapai hingga puluhan halaman?  Sementara judul disertasi keduanya berbeda. Yang satu menyoroti aspek  teknologi penangkapan ramah lingkungan dan yang satunya meneliti aspek  ekonomi alat tangkap. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Pada waktu itu, saya  memberikan disertasi saya untuk dipelajari, karena saya pikir tak  mungkin di plagiati sebab penelitiannya berbeda,” jelas SD yang  mendapatkan gelar doktor tahun 2003 ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;udul disertasi yang diplagiati adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Analisis  Tingkahlaku Ikan Untuk Mewujudkan Teknologi Ramah Lingkungan Pada Bagan  Rambo.” Sementara itu, disertasi SM berjudul “Maksimalisasi Pendapatan  Nelayan Bagan Rambo Melalui Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi di  Provinsi Sulawesi Selatan.” Dalam disertasi tertulis Unhas 2005. Jadi  dua tahun setelah disertasi SD disahkan.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Dalam  kebudayaan akademik, ada tradisi menghormati hak pemilikan gagasan.  Gagasan dianggap sebagai properti intelektual. Karena itu, memberikan  pengakuan terhadap gagasan orang lain yang diambil sebagai rujukan oleh  mahasiswa sangatlah penting.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Setiap  saat mahasiswa menggunakan kata-kata dari penulis lain. Mestinya  mahasiswa menghargai penulis itu dengan cara menyebutkan karya yang  perkataannya sudah diambil. Caranya dengan teknik pengutipan formal  maupun informal. Bahkan, jika mahasiswa menggunakan ide dari penulis  lain, atau melakukan &lt;i style=""&gt;parafrase&lt;/i&gt; terhadap gagasan penulis lain, mahasiswa harus menghargai penulis tersebut. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Jika tidak, maka mahasiswa dapat dikatakan telah melakukan kejahatan akademik yang serius, yaitu &lt;i style=""&gt;plagiarisme. &lt;/i&gt;Plagiarisme  adalah mencuri gagasan, kata-kata, kalimat atau hasil penelitian orang  lain dan menyajikannya seolah-olah sebagai karya sendiri. ”Untuk menulis  satu paragraf saja, saya mesti bekerja keras membuka dan membaca banyak  jurnal secara teliti,” ketus SD.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Namun  beruntung, tindakan tidak terpuji oknum dosen itu berhasil digagalkan.  Apa jadi jika SD pada waktu itu tidak hadir di acara promosi doktor SM.  Mungkin tindakan itu tak akan pernah terlacak sampai sekarang.  Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) menegaskan, akan  memberikan sanksi akademik bagi pelaku plagiat karya ilmiah. Sanksi  bermacam-macam. Mulai dari penundaan pangkat, pembatalan gelar sampai  yang terberat, yakni dipecat secara tidak hormat. Dalam Undang-Undang  Guru dan Dosen Pasal 60 juga dinyatakan dua hal tentang apa jadi  kewajiban guru dan dosen, salah satunya mematuhi kode etik akademik.  Sebagai dosen, tentu SM paham persoalan ini. Namun kok plagiat?!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-5767051856952982907?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/5767051856952982907/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=5767051856952982907' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/5767051856952982907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/5767051856952982907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2010/06/dosen-kok-plagiat.html' title='Doktor Unhas Plagiat Disertasi'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-6492870137149045744</id><published>2010-06-08T00:43:00.000-07:00</published><updated>2010-06-08T00:44:48.290-07:00</updated><title type='text'>Rasa ini</title><content type='html'>Andai rindu bisa kutitipkan, &lt;br /&gt;Aku ingin memaketkan rasa yang menggunung ini lewat malam&lt;br /&gt;Membiarkannya terbang dan dihembus angin,&lt;br /&gt;Tak penting bagiku, apakah angin itu betul-betul media yang tepat&lt;br /&gt;Aku tak peduli, &lt;br /&gt;Ruang dan waktu ini mengharuskan ku menitipkan padanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, apa kau peduli dengan rasa ini?&lt;br /&gt;Kadang, rasa tak butuh realisasi&lt;br /&gt;Ia hal yang misterius&lt;br /&gt;Biarkan rasa ini kutanggung sendiri&lt;br /&gt;Maafkan diriku yang tak bisa meyakinkan mu&lt;br /&gt;Maafkan salahku atas egoku&lt;br /&gt;Meskipun aku tahu, kau butuh kasih sayang ku&lt;br /&gt;Bukan sayang yang semu&lt;br /&gt;Tapi yang nampak, yang ku perlihatkan dengan sikap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sayang, janganlah berkecil hati&lt;br /&gt;Rindu ini tetap milikmu, rasa ini bahkan makin membuncah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan aku tak tahu, &lt;br /&gt;Pengorbanan mu padaku sungguh besar&lt;br /&gt;Tapi aku tak tahu dengan apa aku membalasnya?&lt;br /&gt;Dunia ini masih sempit bagiku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mungkin belum sadar, &lt;br /&gt;Atau belum ingin untuk sadar&lt;br /&gt;Atau, aku sungguh tak memiliki apa-apa untuk ku berikan,&lt;br /&gt;Aku tahu, engkau tak pernah meminta apapun&lt;br /&gt;Kau hanya ingin aku menyayangimu,&lt;br /&gt;Mengantarmu kala kau keluar,&lt;br /&gt;Menemanimu kala kau sendirian&lt;br /&gt;Tak lebih dari itu, apalagi sampai mengharapkan ku turut merasakan beban mu yang berat itu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau terindah dalam hidupku,&lt;br /&gt;Aku sadar itu…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-6492870137149045744?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/6492870137149045744/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=6492870137149045744' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/6492870137149045744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/6492870137149045744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2010/06/rasa-ini.html' title='Rasa ini'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-1496973329488443533</id><published>2010-06-08T00:40:00.001-07:00</published><updated>2010-06-08T00:41:43.926-07:00</updated><title type='text'>Negara Islam, No Way</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:officedocumentsettings&gt;   &lt;o:relyonvml/&gt;   &lt;o:allowpng/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Pada suatu hari di bulan Mei 2010, sekelompok mahasiswa nampak serius berdiskusi. Di sekitarnya, terpampang atribut bendera dan spanduk bertuliskan huruf Arab. Saya yang terlambat datang langsung bisa menebak, kelompok mana yang ‘membikin’ kegiatan ini. Tema diskusinya, “memaknai Hari Kebangkitan Nasional, 21 Mei”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Saya tercengang: salah seorang pemateri berseloroh, maknailah Hari Kebangkitan Nasional sebagai tonggak awal perjuangan mengganti Sistem Negara Indonesia. Saya tahu, pemateri itu tidak sedang bercanda. Kelompok yang mengatas-namakan dirinya Hizbut Tahrir Indonesia ini memang mengusung jargon Negara Islam atau Khilafiah. Mereka memiliki tujuan mengganti sistem negara kita yang nasionalis dan demokratis dengan Negara Islam. Bagi mereka, demokrasi merupakan sistem kufur yang berasal dari Barat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Tampaknya kini yang membebaskan—atau yang menjerat?—adalah sebuah ide membentuk sebuah Negara Islam dan dengan itu segala ketimpangan sosial bisa ‘dilenyapkan’. Negara Islam itu, seperti yang digemborkan pendukungnya merupakan wasiat Tuhan yang harus diwujudkan. Jika tak melakukannya, maka azab Tuhan niscaya datang bertubi-tubi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Beberapa puluh tahun lalu, di negeri asalnya, Arab Saudi, para pendukung Negara Islam yang tergabung dalam gerakan wahabi-ikhwanul muslimin bahkan tak segan membunuh dan mengecap kafir orang lain yang berbeda pemahaman. Mereka mengklaim bahwa mereka sepenuhnya memahami isi Al-quran. Olehnya, mereka berhak menjadi wakil Tuhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ide pembentukan Negara Islam di negeri Indonesisia bukanlah hal baru. Dalam muktamar di Banjarmasin pada tahun 1935, Nahdatul Ulama (NU), salah satu organisasi keislaman terbesar di Indonesia harus berdiskusi panjang untuk sampai pada kesimpulan memperbolehkan pendirian negara bangsa. Bagi kaum muda NU, terbentuknya Negara Islam tidak serta-merta membentuk masyarakat yang islami pula. Masyarakat islami akan terwujud jika ummat menjalankan agama secara konsisten. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Akhir-akhir ini, mereka gencar bersosialisasi. Saat ini, mereka massif melakukan &lt;i style=""&gt;infiltrasi. &lt;/i&gt;Dengan dalih agama, mesjid-mesjid di kota maupun dipelosok desa mereka kuasai. Mereka ‘mencecar’ pemahaman ummat agar benci dengan negara Indonesia dan ‘menghasut’ mereka agar memperjuangkan tegaknya Negara Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Baru-baru ini, adanya insiden penyerangan kapal bantuan kemanusiaan Mavi Marmara oleh tentara Zionis Israel semakin memperkuat &lt;i style=""&gt;justifikasi&lt;/i&gt; kelompok ini atas ide membentuk Negara Islam. Tengok saja aksi-aksi yang terjadi. Spanduk dan plakat bertulis, “Sistem Khilafah (baca: Negara Islam) solusinya.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Tentu harus dicatat, keinginan mereka memperjuangkan islam itu tak salah. Namun, klaim yang menganggap Negara Islam sebagai satu-satunya pilihan dengan mencap sistem lain sebagai kufur atau buatan Barat tentu tak benar. Hal ini bisa menggiring islam dari agama menjadi ideologi. Pada akhirnya, islam menjadi dalih untuk membumi-hanguskan orang lain yang berbeda pemahaman dari mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Agaknya, bayang-bayang totaliterianisme tak jauh dari islam yang mengagungkan perbedaan. Harapan Tuhan bahwa islam bisa menjadi rahmat bagi sekalian alam, bisa jadi isapan jempol belaka. Tetapi dibandingkan Timur-tengah, Indonesia masih lebih baik. Disini tak kita temui ‘&lt;i style=""&gt;genosida’&lt;/i&gt; yang mengatas-namakan mahzab-mahzab agama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Abdurahman Wahid, salah seorang cendekiawan muslim tentu jauh hari telah menyadari kondisi ini. Ia terbukti &lt;i style=""&gt;getol&lt;/i&gt; melakukan &lt;i style=""&gt;counter &lt;/i&gt;wacana. Bahkan sampai mengeluarkan buku berjudul “Ilusi Negara Islam,” sebagai respon atas semakin mengguritanya kelompok ini di tengah masyarakat. Tanpa ragu, dalam pengantarnya di buku tersebut, ia menyebut kalau kelompok itu sebagai duri dalam daging bagi ummat islam. Jadi, harus diwaspai keberadaannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Akhirnya mungkin sesekali kita harus menyadari, kita ini hanyalah makhluk biasa, yang tak berhak mengklaim kebenaran. Andai itu terjadi, tentu kita harus kritis bertanya: Tuhan kah saya? &lt;i style=""&gt;Tabik&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-1496973329488443533?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/1496973329488443533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=1496973329488443533' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/1496973329488443533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/1496973329488443533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2010/06/negara-islam-no-way.html' title='Negara Islam, No Way'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-1061596993734139728</id><published>2010-05-08T19:13:00.000-07:00</published><updated>2010-05-08T19:14:46.700-07:00</updated><title type='text'>Lama Tak Menulis</title><content type='html'>Udah lama tak menulis, mungkin perlu dimanfaatkan ini blog&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-1061596993734139728?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/1061596993734139728/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=1061596993734139728' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/1061596993734139728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/1061596993734139728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2010/05/lama-tak-menulis.html' title='Lama Tak Menulis'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-3531311096851535842</id><published>2009-08-28T06:05:00.001-07:00</published><updated>2009-08-28T06:07:00.107-07:00</updated><title type='text'>FOTO JADUL</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SpfWQFn5AFI/AAAAAAAAAGg/_GPcNK0oFEE/s1600-h/SYUKE.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 241px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SpfWQFn5AFI/AAAAAAAAAGg/_GPcNK0oFEE/s400/SYUKE.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5375000252165718098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-3531311096851535842?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/3531311096851535842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=3531311096851535842' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/3531311096851535842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/3531311096851535842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2009/08/foto-jadul.html' title='FOTO JADUL'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SpfWQFn5AFI/AAAAAAAAAGg/_GPcNK0oFEE/s72-c/SYUKE.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-5622751029142702325</id><published>2009-05-21T05:41:00.000-07:00</published><updated>2009-05-21T05:57:01.313-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/ShVN7t4Ns8I/AAAAAAAAAF8/cC9VHfzzdQA/s1600-h/DSC_0811.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 265px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/ShVN7t4Ns8I/AAAAAAAAAF8/cC9VHfzzdQA/s400/DSC_0811.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5338258621640586178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kebencian boleh jadi merupakan hal yang lumrah manakala kita merasa tersakiti. Tapi apakah ini bisa kita jadikan alasan untuk berada dalam keadaan seperti ini?, tidak pernah saling berkomunikasi, bercanda tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu, aku yang salah, diriku terlalu egois, tapi terserahlah......toh cinta tetap cinta, berasal dari hati dan bukan paksaan. Jika benar dirimu telah jenuh menjalaninya, kuserahkan padamu.....engkau punya hak untuk itu sayang ku!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-5622751029142702325?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/5622751029142702325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=5622751029142702325' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/5622751029142702325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/5622751029142702325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2009/05/kebencian-boleh-jadi-merupakan-hal-yang.html' title=''/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/ShVN7t4Ns8I/AAAAAAAAAF8/cC9VHfzzdQA/s72-c/DSC_0811.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-1574485236863294306</id><published>2009-05-21T05:28:00.000-07:00</published><updated>2009-05-21T05:40:08.778-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/ShVK5k4nHyI/AAAAAAAAAF0/qhCaynL5LhA/s1600-h/DSC_0824.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 265px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/ShVK5k4nHyI/AAAAAAAAAF0/qhCaynL5LhA/s400/DSC_0824.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5338255286331711266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jika memang benar cinta itu merupakan hakikat, kenapa ia selalu mudah untuk dipermainkan.&lt;br /&gt;Atau jika cinta itu hanyalah persoalan kepentingan, sampai kapan kah ia mampu bertahan atas kepentingan itu?.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-1574485236863294306?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/1574485236863294306/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=1574485236863294306' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/1574485236863294306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/1574485236863294306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2009/05/jika-memang-benar-cinta-itu-merupakan.html' title=''/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/ShVK5k4nHyI/AAAAAAAAAF0/qhCaynL5LhA/s72-c/DSC_0824.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-6085608024692944897</id><published>2009-05-21T04:43:00.001-07:00</published><updated>2009-05-21T05:08:31.836-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/ShVDGze5TSI/AAAAAAAAAFk/cgaWPypHmIo/s1600-h/DSC_0812.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 265px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/ShVDGze5TSI/AAAAAAAAAFk/cgaWPypHmIo/s400/DSC_0812.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5338246717495659810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;jika hidup ini hanyalah persoalan penantian dan waktu, kapan kah saatnya dikau dinda ku, berada dekat disisiku. aku sudah cukup lama menunggumu, dalam sunyinya malam, sepinya siang, namun dirimu tak pernah kunjung menunjukkan diri. apakah ini hanya permainan mu untuk mempermainkan hati dan perasaan ku?, ataukah ini sengaja kau lakukan untuk menguji seberapa besar cintaku padamu?. sayang, sudah cukup permainan ini, aku sangat merindukanmu, merindukan kehadiran mu disini, disisiku, dalam dekapan hangat ku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-6085608024692944897?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/6085608024692944897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=6085608024692944897' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/6085608024692944897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/6085608024692944897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2009/05/jika-hidup-ini-hanyalah-persoalan.html' title=''/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/ShVDGze5TSI/AAAAAAAAAFk/cgaWPypHmIo/s72-c/DSC_0812.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-8763671283053585203</id><published>2009-04-08T09:21:00.000-07:00</published><updated>2009-04-12T03:39:39.890-07:00</updated><title type='text'>Antara Cinta, Seks dan Kesetiaan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;Menukar cinta dengan kesetiaan ibarat mengharap keajaiban turun dari langit. Cinta tidak datang dari ruang-ruang keabadian. Ia lahir dari lorong kefanaan dunia yang entah kapan pastinya, akan luluh lantak bersama waktu. Berharap adanya kesetiaan lebih baik menanti seribu kali kiamat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;Antara cinta dan kesetiaan tersimpan kemisteriusan yang tidak mampu kita singkap secara tuntas. Pada suatu titik, cinta itu selalu saja bisa kita pertukarkan dengan seks, begitupun sebaliknya. Tidak ada cinta murni. Yang ada adalah kepentingan yang sengaja secara halus diartikulasikan dengan kata cinta. Kata kepentingan terlalu vulgar. Bagi masyarakat kita, yang lebih suka berbasa-basi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;Lahirnya cinta, tidak lain merupakan keinginan untuk memiliki. Ingin memiliki secara implisit merupakan hasrat untuk menguasai. Selalu ingin menetapkan batas-batas bagi hal-hal yang kita anggap pantas untuk dilakukan pasangan kita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;Bukankah itu realitas yang terjadi?. Jika cinta itu benar-benar ada dan eksis, tidak akan pernah ada kata perpisahan. Perpisahan lahir pada saat rasa mulai terkikis sedikit demi sedikit. Tidak ada lagi hal yang membuat kita bertahan. Paling tidak, dalam bahasa kasarnya, sudah tidak menyenangkan lagi untuk diajak bercinta diatas ranjang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;Pada saat kita memperoleh segalanya, kepentingan dan hasrat sudah terpenuhi, apakah cinta yang sampai sekarang masih sering orang gembar-gemborkan masih mampu bertahan?. Jawabannya tidak. Kita secara sadar mencari kriteria baru dalam hidup kita. Perselingkuhan pun terjadi, sebab tidak mungkin kita memperoleh kriteria baru dari pasangan lama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:georgia;" &gt;Kata kesetiaan mampu bertahan, jika “cinta” dalam arti kepentingan itu masih melekat. Dan menurut ku, kepentingan seorang lelaki terhadap perempuan saat ini, tidak kurang dan tidak lebih adalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SEKS&lt;/span&gt;. Wallahualam&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-8763671283053585203?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/8763671283053585203/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=8763671283053585203' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/8763671283053585203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/8763671283053585203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2009/04/antara-cinta-seks-dan-kesetiaan.html' title='Antara Cinta, Seks dan Kesetiaan'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-8357913138380420954</id><published>2009-02-12T08:00:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T09:28:46.061-08:00</updated><title type='text'>Mereguk cinta, dari warnet ke warnet</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cinta itu merupakan kemisteriusan. Bagiku, memahami cinta sama rumitnya dengan mempelajari seribu kehidupan. Tidak dapat ditebak, apalagi dibuat alurnya sesuai kehendak hati penikmatnya. cinta ibarat sihir. Ia akan berubah petaka ketika kita tidak mampu mengendalikan diri, untuk menangkal pengaruh jahatnya. Mantra penangkal harus diamalkan setiap saat agar terhindar darinya. Sebab, tidak ada sesuatupun didunia ini yang luput dari sihirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anak adam telah terkena sihirnya, ia akan lupa terhadap dirinya, lupa pada aturan-aturan sosial yang melingkupinya. Seorang manusia akan menjadi licik, tamak, demi pemenuhan hasrat cintanya. kalau sudah begitu, segala jalan pun akan ditempuh. Suasana paling disukainya adalah suasana sunyi. Sebab dengan itu, ia bisa dengan leluasa melepas hasratnya. Kalaupun bukan suasana sunyi, paling tidak mencari tempat yang orang lain tidak melihat apa yang dilakukannya. Dan warnet pun jadi tempat faforit beberapa pesakitan-pesakitan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima bulan lalu, entah karena aku lalai berdoa, jin jahat yang membawa sihir itu terasa memasuki diriku. Detik-detik dalam hidupku sedikit demi sedikit pun mulai berubah. Hidupku perlahan dipenuhi hasrat menggebu. Alhasil, tidak kurang dari satu bulan aku pun menjadi pesakitan, begitupun pasangan ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi sekitar pikul 09.00 wita, aku dan dengan pesakitan pasangan ku berjanji bertemu. Tempat bertemu bukan kos ataupun hotel yang sedikit punya ruang privasi, tapi salah satu warnet di sekitar kampus yang punya penghalang agak tinggi. Dalam ruangan tersebut, pengguna warnet praktis tidak saling melihat dengan pengguna warnet lainnya. Kondisi yang sangat aku inginkan kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku kesana-kemari memerhatikan apakah ada orang lewat, sementara itu tangan kiri ku masukkan lewat celah-celah kosong bajunya. Aku naikkan sedikit demi sedikit, meraba dengan tenang, mencari gunung pembawa petaka. Jika telah dirasa pas, daging tumbuh yang terasa kenyal tersebut mulai kuremas-remas, dengan tenang, perlahan-lahan penuh hasrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lebih dari lima menit, bola mata gadis pesakitan ini pun menerawang langit-langit. Nafasnya mulai tersengal-sengal, namun agak ditahannya oleh karena takut kedengaran. Sesekali ia menjerit kesakitan. tapi apa peduli ku. aku masi terus saja meremas, malah tambah keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan kanan gadis pesakitan kekasihku tadinya memencet tuff keyboard komputer. Namun nampak digesernya perlahan menuju pahaku lalu ia meremasnya, tapi nyatanya paha bukan media yang pas untuk itu. Merasa tidak puas, tangan mungil gadis jangkung berjilbab itu pun sedikit demi sedikit di naikkannya menuju celah sempit sabuk pengaman celana yang telah aku buka. Dan tidak kurang 15 detik, tanpa malu-malu benda pusaka ku pun telah diraihnya dan diremasnya, ah...lumayan sakit tapi enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan....apa yang terjadi selanjutnya tak seorang pun yang tahu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-8357913138380420954?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/8357913138380420954/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=8357913138380420954' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/8357913138380420954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/8357913138380420954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2009/02/mereguk-cinta-dari-warnet-ke-warnet.html' title='Mereguk cinta, dari warnet ke warnet'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-7624558606646825414</id><published>2009-01-27T06:49:00.000-08:00</published><updated>2009-01-27T06:51:47.363-08:00</updated><title type='text'>Cita-citaku</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;kala pagi tak lagi buta,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;mentari bersinar diantara dedaunan hijau nan-rimbun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;disana, ada seberkas harapan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;yang setiap detik mekar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;terus rumbuh &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;tanpa ada yang mampu menepisnya,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;keinginan dan hasrat itu begitu besar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;sebesar cita-cita kita kawan....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;terus semangat, tetap berjuang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;walau hidup cuma soal bertahan, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;perjuangan itu tak akan sia-sia,....&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-7624558606646825414?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/7624558606646825414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=7624558606646825414' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/7624558606646825414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/7624558606646825414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2009/01/cita-citaku.html' title='Cita-citaku'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-2655044170158240323</id><published>2008-12-15T21:43:00.000-08:00</published><updated>2009-01-07T21:01:26.773-08:00</updated><title type='text'>Awas...ada harimau</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUdB5Y1fhfI/AAAAAAAAAFQ/7sClpmLA5GQ/s1600-h/PICT0288.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUdB5Y1fhfI/AAAAAAAAAFQ/7sClpmLA5GQ/s400/PICT0288.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280261542290359794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-2655044170158240323?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/2655044170158240323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=2655044170158240323' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/2655044170158240323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/2655044170158240323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/12/awasada-harimau.html' title='Awas...ada harimau'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUdB5Y1fhfI/AAAAAAAAAFQ/7sClpmLA5GQ/s72-c/PICT0288.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-3876970985276901646</id><published>2008-12-15T21:32:00.000-08:00</published><updated>2008-12-15T21:38:03.023-08:00</updated><title type='text'>Nge-Mall Dulu Ah.....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUc-fip2iZI/AAAAAAAAAFA/U3s1496iI9U/s1600-h/PICT0304.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUc-fip2iZI/AAAAAAAAAFA/U3s1496iI9U/s400/PICT0304.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280257799714408850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-3876970985276901646?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/3876970985276901646/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=3876970985276901646' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/3876970985276901646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/3876970985276901646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/12/nge-mall-dulu-ah.html' title='Nge-Mall Dulu Ah.....'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUc-fip2iZI/AAAAAAAAAFA/U3s1496iI9U/s72-c/PICT0304.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-547115957922303719</id><published>2008-12-13T11:41:00.000-08:00</published><updated>2009-01-09T03:29:02.264-08:00</updated><title type='text'>Mari Pejamkan Mata</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Belantara dunia yang luas seakan sempit oleh tangan-tangan keserakahan. Kemunafikan menyebar kemana-mana. Ketidak-adilan seolah menjadi sesuatu yang lumrah terjadi. Pembantaian ummat manusia tidak lagi menampilkan pilu. Ketidak-adilan bermotif suku, ras dan agama terjadi seakan hanya salah satu suku tertentu yang punya legalitas mencerap ciptaan Tuhan. Kebebasan manusia dibatasi, atas nama agama dan tradisi yang mereka katakan adi-luhung itu. Sungguh, dunia ini semakin edan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudah seminggu ini, rakyat palestina dibantai. Tidak ada suara tegas dari dunia, khususnya negara islam untuk menyuarakan gencatan senjata. Apalagi ikut terlibat membantunya. Puluhan rakyat tidak berdosa jadi korban. Anak-anak dan wanita tidak berdaya, berpasrah menerima nasib yang malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-547115957922303719?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/547115957922303719/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=547115957922303719' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/547115957922303719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/547115957922303719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/12/jika-aku-adalah-juliet.html' title='Mari Pejamkan Mata'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-1501060618753493372</id><published>2008-12-13T11:40:00.000-08:00</published><updated>2009-01-09T02:39:22.915-08:00</updated><title type='text'>Tunggu: Akan ku lamar engkau dengan sekali onani</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tadi, aku malu bukan main?. Orang tuanya mengusirku tanpa perasaan. Harga diriku sebagai lelaki dan juga sebagai manusia terinjak-injak. Untung saja, hanya ada beberapa orang diruang tamu rumahnya yang megah. Diriku, kedua orang tuanya dan dua orang temanku.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;           &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Di momen bersejarah ini, dimana aku seorang lelaki yang miskin papa datang berniat melamarnya, seorang anak bangsawan kaya keturunan Bone, yang mengharuskan harta dan gelar sebagai syarat mutlak. Jangankan emas segempok, uang sepeser pun aku tidak punya. Hanya keberanian dan cinta yang ku andalkan. Lebih dari itu, aku tak memilikinya. Kalaupun ada, aku hanya mempunyai sperma. Beberapa kali ku katakan, aku ini bukan bangsawan, tidak berharta dan berpendidikan, namun ia tetap saja memaksaku meminangnya.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dua tahun lalu, tepat tahun 2005 setelah menamatkan studi ditingkat SMA di daerah asal ku, Dompu NTB, aku nekat dengan uang 500 ribu, yang kuperoleh dengan menjual sawah sepetak satu-satunya yang diwariskan bapak sebelum meninggal berangkat mengadu nasib  untuk kuliah menuju kota daeng Makassar. Dengan uang sekian, aku dituntut ekstra hemat membelanjakannya agar bisa sampai ke kota tujuan. Dalam hati, aku berharap semoga sesampai di kota &lt;span style="font-style: italic;"&gt;angingmamiri&lt;/span&gt; mencari pekerjaan secepatnya demi memperoleh uang pendaftaran masuk universitas. Agak aneh memang, dengan modal uang yang semestinya habis di perjalanan aku kok berani berniat kuliah?.  Bagiku, hidup ini bukan cuma uang, hidup butuh kenekatan dan kerja-keras, tidak sedikit orang yang tidak memiliki apapun mampu bangkit dan keluar dari penderitaan yang dialaminya. Aku ingat kata bapakku sebelum ia meninggal, "nak, uang bukalah segalanya uang itu cuma alat, yang utama itu kemauan dan kerja keras".  Kata-kata tersebutlah yang terus memotivasiku dalam menjalani kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Tepat pukul 14.00 wita kapal Tilongkabila jurusan Bima-Makassar yang kutumpangi merapat dipelabuhan Soekarno-Hatta. Kota tujuan telah ada depan mata. Namun, ketakutan menghantuiku, uang ku hanya tersisa Rp. 100.000,-. Perlahan aku menarik dompet ku yang telah usang dimakan usia. Mencari selembar kertas berisi alamat kampus yang aku peroleh dari tetangga yang dulu pernah bekerja sebagai cleaning servis di Unhas. Jl. Perintis Kemerdekaan IV km.10, begitulah nama alamatnya. Tanpa menunggu, aku langsung bertanya ke petugas pelabuhan yang kebetulan lewat di depanku. Dia menyarankanku menaiki becak menuju pasar sentral setelah itu menaiki mobil jurusan Daya. Walhasil, aku pun sampai di pintu 1 kampus unhas tamalanrea, aku sengaja meminta sopir menurunkanku disitu.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sampai disitu, masalah belum kunjung selesai, justeru inilah awal dari cobaan yang akan datang bertubi-tubi. Yang kelak mengajarkan ku arti kehidupan sesungguhnya. Aku tidak tahu entah dimana aku berteduh malam ini. Sementara itu, perlahan namun pasti matahari masuk ke peraduannya untuk beristrahat sejenak menyongsong hari esok yang berarti malam segera tiba. Kala itu, aku bingung bukan main, kemana harus aku melangkah lagi, aku tidak memiliki teman apalagi saudara disini. Bermodal keberanian, aku menuju kampus, siapa tahu disana ada orang baik yang memberiku tempat menginap. Ditengah perjalanan, sekitar 20 meter dari pintu masuk aku melihat ada mesjid, dan terlintas dalam benakku untuk menginap disitu. Lega rasanya hari ini, paling tidak ada tempat untuk berteduh dari dingin dan hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;nyambung ntar ya?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-1501060618753493372?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/1501060618753493372/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=1501060618753493372' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/1501060618753493372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/1501060618753493372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/12/tunggu-akan-ku-lamar-engkau-dengan.html' title='Tunggu: Akan ku lamar engkau dengan sekali onani'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-2632287919225284990</id><published>2008-12-12T06:21:00.000-08:00</published><updated>2008-12-12T06:52:55.096-08:00</updated><title type='text'>Izinkan Aku Menyetubuhimu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semua berawal dua bulan lalu, aku menawarkan dirimu yang berada nan jauh disana untuk menemuiku. Bermula dari hasrat dan keinginan melepas rindu yang lama tertahan. Rasa yang tidak mampu ditepis dan butuh diaktualisasikan. Bertatap muka adalah obat terbaik untuk mengobatinya. Maka dari itu engkau rela membohongi semua orang, demi tercapainya sebuah pertemuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kini waktu telah dekat, satu minggu lagi engkau akan berangkat dari NTB, demi cintamu yang tulus engkau rela menyebrang pulau, melewati lautan, menemuiku di kota &lt;span style="font-style: italic;"&gt;angingmamiri&lt;/span&gt;. Dengan sedikit keraguan engkau mengungkapkan kepadaku mengenai perasaan mu yang sedang bergejolak: apakah aku tidak akan melampiaskan keberingasan ku di atas kelaminmu, merenggut keperawananmu. Sebagai lelaki, aku tidak ingin menampik semuanya. Aku manusia normal. Butuh seks, butuh kasih sayang. Namun, yang perlu engkau ketahui tanggung jawab bagiku segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa dipungkiri, kehadiranmu memberiku segudang kesempatan. Sesaat aku berpikir, terlalu picikkah aku yang coba memanfaakan kesempatan langka ini?, atau terlalu bodohkan aku yang tidak memfaatkannya. Bagiku, menyetubuhimu merupakan harapan besar, cita-cita utamaku. Maka izinkan aku dengan segala cintaku memintanya dengan hormat, bukan dengan paksaan dan gombalan, namun dengan cinta yang menggebu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-2632287919225284990?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/2632287919225284990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=2632287919225284990' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/2632287919225284990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/2632287919225284990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/12/izinkan-aku-menyetubuhimu.html' title='Izinkan Aku Menyetubuhimu'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-2637520733922979457</id><published>2008-12-12T03:39:00.000-08:00</published><updated>2009-01-07T20:47:58.476-08:00</updated><title type='text'>Menanti Cerah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudah setengah hari ini aku hanya berbaring malas di kamar. Hujan membuatku tidak berkutik menerjangnya sekadar keluar menuju kios, membeli krupuk ikan kesukaanku untuk sarapan. Padahal hari ini aku berniat menuntaskan tugas foto yang sudah tiga minggu ini tertunda (tugas penggodokan red). Belum lagi aku di sms redaktur untuk menjepret kegiatan pelatihan soff skill yang diadakan di lantai 1 rektorat. Apes banget hari ini, hujan telah membuat seabrek rencana kacau dan tertunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan turun sedari pukul 00.00 belum menunjukkan tanda-tanda akan reda, malahan semakin deras saja. Membuat air selokan meluap sehingga menggenangi halaman rumah kos. Kekacauan kecil juga terjadi di dalam, tiba-tiba atap kembali bocor  sehingga air turun membasahi kamar beberapa penghuni. Kok masih saja bocor, padahal baru-baru ini diperbaiki. "Mungkin pekerjaanya kurang profesional", ketus sarkawi salah seorang tetangga kamar. Benar saja, ternyata yang mengerjakannya adalah tukang batu yang sok berani mengambil alih tugas tukang kayu. Ini dibenarkan bapak kos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia ini telah ditata sedemikian rupa oleh Tuhan sehingga setiap makhluk yang ada dimuka bumi ini menjalani setiap hal menurut keahliannya. Sehingga dalam proses pengerjaannya berjalan maksimal, tidak serampangan dan asal jadi. Contoh konkritnya adalah kejadian diatas, tukang batu yang mengambil alih tugas tukang kayu. Bocornya atap cukup membuktikan bahwa pekerjaan tersebut membutuhkan keahlian. Boleh saja tanpa skill, itu hanya berlaku bagi pekerjaan tertentu saja. Semisal pekerjaan menyapu, mengepel dan melempar mangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nah, dengan adanya insiden di atas semoga membuat kita jera dan mau belajar dari pengalaman, untuk memperkerjakan orang sesuai keahliannya, setidaknya belajar meghargai profesi  seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-2637520733922979457?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/2637520733922979457/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=2637520733922979457' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/2637520733922979457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/2637520733922979457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/12/menanti-cerah.html' title='Menanti Cerah'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-535404373307871230</id><published>2008-12-11T06:30:00.000-08:00</published><updated>2008-12-12T04:19:23.307-08:00</updated><title type='text'>Menjelang Pusing</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;sebentar lagi ujian semester. buku-buku berserakan diantara kasur dan bantal tidur. kertas-kertas berhamburan memenuhi kamarku yang pengap. kamarku yang biasanya lembab, kini tambah parah dengan adanya kertas dan buku berserakan. aku memang lagi malas. sudah tiga minggu belakangan aku tidak masuk kampus alias tidak kuliah. aku lebih menikmati rutunitas baruku diluar, keseharian yang selalu membuatku ceria. ya...beberapa bulan belakangan ini aku lebih aktif di organisasi ketimbang konsentrasi kuliah demi mengejar target selasai 2009 awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;organisasi ini membuatku ekstase, lupa terhadap tugas utama ku untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu, seperti yang di idamkan banyak orang. aku akui, ia begitu menyenangkan. aku bergulat terus dengan pekerjaan ini, yang sebenarnya lebih tepat disebut hobi. beberapa mata kuliah aku anggap sudah positif tidak lulus. konsekuensi memang. tak apalah. sebagai manusia dewasa, yang tahu bahwa hidup merupakan pilihan, hal tersebut bukan masalah. toh aku menyukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;identitas, itulah nama organisasi yang sedang kugeluti sekarang. identitas adalah penerbitan kampus universitas hasanuddin, tempat aku menuntut ilmu sekarang. disini aku mengambil spesifikasi fotografer, sebuah tugas--yang sekali lagi membuatku ekstase. setiap hari aku mesti merekam semua peristiwa dalam jepretan, kita diharuskan lihai mengambil gambar sehingga hasil pemotretan seolah-olah hidup dan mampu bercerita. nah, bagi yang tidak berminat terhadapnya jangan pernah menganggap ini hobi, anggaplah ini pekerjaan berat. he...he...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;minggu lalu, aku menyempatkan diri ke fakultasku. sebenarnya tidak niat kesana saat itu, tapi karena aku di telpon, ada ujian mendadak. eh...sampai di fakultas aku dikibulin. ujian yang rencananya dilaksanakan pukul 08.00 wita ditunda sampai dengan waktu yang tidak ditentukan. maksudnya sampai dosen punya kesempatan.  tapi kalau-kalau dosennya mangkat?. gimana dong!. tapi tidak apa-apa toh aku belum siap. hore!!!!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-535404373307871230?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/535404373307871230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=535404373307871230' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/535404373307871230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/535404373307871230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/12/menjelang-pusing.html' title='Menjelang Pusing'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-7527962040604749278</id><published>2008-12-11T06:24:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T06:29:48.246-08:00</updated><title type='text'>yang pake jas merah and pegang daun mmmm....daun apa ya?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUEjjbbnxnI/AAAAAAAAAE4/-jK57h46I7E/s1600-h/DSCI0310.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUEjjbbnxnI/AAAAAAAAAE4/-jK57h46I7E/s400/DSCI0310.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278539329820935794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-7527962040604749278?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/7527962040604749278/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=7527962040604749278' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/7527962040604749278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/7527962040604749278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/12/yang-pake-jas-merah-and-pegang-daun.html' title='yang pake jas merah and pegang daun mmmm....daun apa ya?'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUEjjbbnxnI/AAAAAAAAAE4/-jK57h46I7E/s72-c/DSCI0310.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-235723440488160357</id><published>2008-12-11T06:20:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T06:24:28.823-08:00</updated><title type='text'>cape' deh!!!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUEiTDaxbAI/AAAAAAAAAEw/GHGifxZMwBo/s1600-h/DSCI0242.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUEiTDaxbAI/AAAAAAAAAEw/GHGifxZMwBo/s400/DSCI0242.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278537948985388034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-235723440488160357?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/235723440488160357/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=235723440488160357' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/235723440488160357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/235723440488160357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/12/cape-deh.html' title='cape&apos; deh!!!'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUEiTDaxbAI/AAAAAAAAAEw/GHGifxZMwBo/s72-c/DSCI0242.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-1745850711984984022</id><published>2008-12-11T06:16:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T06:19:27.820-08:00</updated><title type='text'>enam sekawan (aku yang pake jas merah)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUEg_GSKyaI/AAAAAAAAAEo/QXJWB85-MbA/s1600-h/S4023660.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUEg_GSKyaI/AAAAAAAAAEo/QXJWB85-MbA/s400/S4023660.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278536506645596578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-1745850711984984022?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/1745850711984984022/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=1745850711984984022' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/1745850711984984022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/1745850711984984022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/12/enam-sekawan-aku-yang-pake-jas-merah.html' title='enam sekawan (aku yang pake jas merah)'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUEg_GSKyaI/AAAAAAAAAEo/QXJWB85-MbA/s72-c/S4023660.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-7815967889053410398</id><published>2008-12-11T05:52:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T05:59:24.677-08:00</updated><title type='text'>kenangan indah di suro-boyo. lagi-lagi jaket abu2!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUEcRDKp4OI/AAAAAAAAAEc/ehxMS6lvpjA/s1600-h/DSCI0231.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUEcRDKp4OI/AAAAAAAAAEc/ehxMS6lvpjA/s400/DSCI0231.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278531317488279778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-7815967889053410398?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/7815967889053410398/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=7815967889053410398' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/7815967889053410398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/7815967889053410398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/12/kenangan-indah-di-suro-boyo-lagi-lagi.html' title='kenangan indah di suro-boyo. lagi-lagi jaket abu2!'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUEcRDKp4OI/AAAAAAAAAEc/ehxMS6lvpjA/s72-c/DSCI0231.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-8050485073224039099</id><published>2008-12-11T05:45:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T05:51:24.525-08:00</updated><title type='text'>itu, yang pake jaket abu2;gue tuh!!!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUEaUWj29XI/AAAAAAAAAEU/VlbpbpOz--w/s1600-h/syukri.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 279px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUEaUWj29XI/AAAAAAAAAEU/VlbpbpOz--w/s400/syukri.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278529175210620274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-8050485073224039099?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/8050485073224039099/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=8050485073224039099' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/8050485073224039099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/8050485073224039099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/12/blog-post.html' title='itu, yang pake jaket abu2;gue tuh!!!'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUEaUWj29XI/AAAAAAAAAEU/VlbpbpOz--w/s72-c/syukri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-6684457748866576827</id><published>2008-12-11T05:39:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T05:44:58.049-08:00</updated><title type='text'>diriku;kedua dari kiri, yang pake jaket abu2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUEY34oGrwI/AAAAAAAAAEM/mmSnJd6cXgA/s1600-h/DSCI0235.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUEY34oGrwI/AAAAAAAAAEM/mmSnJd6cXgA/s400/DSCI0235.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278527586627399426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-6684457748866576827?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/6684457748866576827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=6684457748866576827' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/6684457748866576827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/6684457748866576827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/12/dirikukedua-dari-kiri-yang-pake-jaket.html' title='diriku;kedua dari kiri, yang pake jaket abu2'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUEY34oGrwI/AAAAAAAAAEM/mmSnJd6cXgA/s72-c/DSCI0235.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-2846428132104128385</id><published>2008-12-11T05:21:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T05:37:04.483-08:00</updated><title type='text'>bersama kawan dalam satu kesempatan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUEXHx-b0mI/AAAAAAAAAEE/o97M8z5HOUs/s1600-h/syuk.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 261px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUEXHx-b0mI/AAAAAAAAAEE/o97M8z5HOUs/s400/syuk.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278525660696662626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-2846428132104128385?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/2846428132104128385/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=2846428132104128385' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/2846428132104128385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/2846428132104128385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/12/bersama-kawan-dalam-satu-kesempatan.html' title='bersama kawan dalam satu kesempatan'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SUEXHx-b0mI/AAAAAAAAAEE/o97M8z5HOUs/s72-c/syuk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-3642637446799843583</id><published>2008-11-07T22:07:00.000-08:00</published><updated>2008-12-01T19:05:12.202-08:00</updated><title type='text'>Halim-Jafar: Pilkada Tidak Berkualitas</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;    Kemarin (29/10), bertempat di markas pemenangannya Jl.Sungai Tangka calon Walikota dan Wakil Walikota yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Halim Abd. Razak dan Jafar Sodding pada pukul 16.15 Wita mengadakan konferensi pers seusai mengetahui hasil perolehan sementara suara lewat metode real count yang dilakukan tim kampanyenya. Melalui ketua tim hukum dan advokasinya Ahmad Bascam, SH Halim-Jafar membeberkan upaya-upaya tidak sehat yang terjadi selama proses pemilihan kepala daerah (Pilkada). Halim-Jafar menilai pemilihan calon walikota dan wakil walikota makassar periode 2009-2014 tidak berkualitas dan jauh dari harapan. Misalnya ditemukannya indikasi &lt;i style=""&gt;money politik&lt;/i&gt; melalui oknum aparat pemerintah (Lurah, RW, dan RT) dan tim sukses guna mempengaruhi suara pemilih. Hal ini mereka buktikan dengan ditemukannya mobil tim sukses salah seorang kandidat yang berkeliaran pada malam hari sebelum pencoblosan, serta adanya sebagian besar masyarakat yang tidak mendapatkan hak pilihnya. “Anggota tim kami tadi malam melakukan penyisiran dan tepat pukul 03.00 dini hari kami menjumpai adanya mobil salah seorang kandidat yang membagi-bagikan uang”, ungkap Muzakkir, salah seorang tim pemenangan yang dimintai komentar sebelumnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;    Selain itu, rendahnya partisipasi pemilih dalam pemilu yang tidak mencapai setengah dari jumlah pemilih sebagai akibat dari buruknya kinerja penyelenggra pemilu, mulai dari pendataan, sosialisasi, hingga pendistribusian &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; pemberitahuan model C6 KWK serta kartu pemilih. Dampak dari itu semua menyebabkan perolehan suara tidak memenuhi target yang sebelumnya diprediksikan akan memperoleh 40% suara. “Kami melihat adanya upaya sistematis yang dilakukan salah satu kandidat sehingga partisipasi pemilih tidak lebih dari 50% yang berdampak langsung kepada hilangnya potensi suara ”, kata Halim menjawab pertanyaan wartawan saat ditanyai tanggapannya menyangkut penyebab rendahnya suara yang dia peroleh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;    Lebih lanjut, Halim mengatakan potensi kehilangan suaranya sebesar 20% yang diakibatkan oleh tidak sehatnya proses pemilihan termasuk yang diakibatkan tidak adanya kartu pemilih bagi pendukungnya. “Tingkat partisipasi di Tamalate sebesar 48%, padahal disana merupakan basis kita,” ujarnya dengan kecewa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;    Ahmad Bascam, SH selaku ketua tim hukum dan advokasi ditempat yang sama berjanji akan mengupayakan upaya hukum jika memang terbukti terdapat pelanggaran didalamnya. “Kita akan mengumpulkan saksi-saksi dulu baru kemudian melaporkannya ke panitia pengawas pilkada (PANWASDA), apabila hal ini memang benar kami akan menyelesaikan lewat jalur pidana”, katanya menjelaskan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-3642637446799843583?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/3642637446799843583/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=3642637446799843583' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/3642637446799843583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/3642637446799843583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/11/halim-jafar-pilkada-tidak-berkualitas.html' title='Halim-Jafar: Pilkada Tidak Berkualitas'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-8572252297051567377</id><published>2008-11-02T22:49:00.000-08:00</published><updated>2008-12-02T01:57:50.264-08:00</updated><title type='text'>Melawan perbedaan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;Bayangkan tuan adalah seorang kristen.... Bayangkan dirimu di tengah komunitas luas yang berhasrat membunuhmu. Bayangkan juga dirimu termasuk kelompok lemah dan termarginalkan. Rasakan lewat imajinasimu betapa menyakitkannya ditindas. Selami kehidupan bangsa Palestina ataupun Bosnia. Bacalah riwayat kekejaman kaum Nazi terhadap kaum Yahudi. Lalu setelah engkau menikmatinya dan merasakan, adakah kengerian ataupun kebencian dihatimu?. Bilamana engkau kebetulan seorang muslim, bagaiman reaksimu melihat kaum mu ditindas dan dianiaya, misalkan saja di Palesina dan Irak ataupun Bosnia. Pastinya, engkau akan berkata: semoga laknat Tuhan terhadapnya. Nah, coba engkau selami sekarang, bagaimana rasanya punya posisi tertindas. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;Pekan lalu, diwaktu mengantri makan di kantin asrama mahasiswa Unhas. Pada saat itu, jam menunjukkan pukul 12.00 siang. Waktu yang tepat bagi mahasiswa untuk menikmati makan siang. Ketika itu, saya bertemu teman kampus yang juga sedang ikut mengantri. Memang saat itu pembeli sedang ramai. Saya agak risih sebenarnya, tapi tidak apalah. Hal seperti ini harus dibiasakan di negeri kita.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;Tidak beberapa lama, acara mengantri pun selesai. Kami mencari tempat duduk yang sekiranya pas untuk kami berdua. Kami duduk persis samping kulkas yang disimpan depan warung. “kenapa di FKM itu rasis,”? kata teman mengawali pembicaraan. Saya masih dingin menanggapi pernyataannya. Saya belum mengetahui apakah gerangan kejadian yang membuat dia berkata demikian. Karena terdorong rasa ingin tahu, sebagai bentuk rasa peduli saya terhadap FKM, saya pun menanyakannya. “maksud kamu apaan,”? ada apa di FKM?. Teman baik saya ini tampak terkejut. “kamu tidak tahu apa-apa”?, selama ini kamu kemana saja,” katanya kebingungan sambil meraba pelan jidat saya. “apaan sih”, kataku menampik tangannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;Sejenak kami terdiam, sembari menikmati makan dengan lauk telur ditambah tempe goreng. sementara itu, piring dan sendok berbisik lembut dalam gayanya yang khas, ada sebagaian mahasiswa bercanda tawa. aku tidak tahu apa yang sedang mereka candai, yang jelas ada binar-binar kebahagiaan dimata mereka. khas ala mahasiswa unhas gitu lho!, kataku dalam hati.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;"kemarin aku dapat kabar kalau di fakultas kita terjadi insiden kecil yang menyentuh wilayah yang tidak sepantasnya kita ungkit", gumamnya sambil mengunyah makanannya pelan. universitas seharusnya bisa lebih dewasa dalam menyikapi berbagai perbedaan. pun perbedaan yang menyangkut isu SARA (Suku, ras dan agama). perbedaan merupakan realitas yang tidak bisa kita tampik dalam menjalani kehidupan. perbedaan adalah kenyataan mutlak dalam kehidupan. namun sangat disayangkan apabila terjadi perilaku yang menciderai netralitas universitas yang mengatasnamakan SARA.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;NTAR DILANJUTIN    &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;Nb.masih nyambung&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-8572252297051567377?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/8572252297051567377/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=8572252297051567377' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/8572252297051567377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/8572252297051567377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/11/melawan-perbedaan.html' title='Melawan perbedaan'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-8450056592931626168</id><published>2008-09-10T04:40:00.000-07:00</published><updated>2008-09-10T05:07:30.265-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Langit sore terlihat mendung, awan yang biasanya putih kini tampak hitam pekat dan tidak estetis dipandang mata. ia seolah seperti monster buas yang siap menerkam mangsanya. bintang-bintang yang mulai muncul perlahan menghilang dan menjauh meninggalkan cakrawala. satelit bumi bernama bulan juga tak kunjung menampakkan dirinya. sampai gelap menjelang pun, jangkrik-jangkrik yang biasanya bernyayi, berirama dalam harmoni alam, tak menunjukkan simpinonya.  malam ini terasa sepi. Hiruk pikuk tetangga yang biasanya berteriak, bertegur sapa tidak terdengar. Gonggongan anjing-anjing meneriakkan takbir kebesaran Tuhan seolah hilang ditelan bumi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;tidak terasa, tiga tahun telah aku lewati di rantauan. bagiku, tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. apalagi sebelumnya aku tidak terbisa jauh dengan orang yang aku sayangi. merantau--menurutku--kalau bukan karena cita-cita, mungkin tidak akan pernah terjadi. namun, dibulan ini merupakan momen yang sangat aku  Perasaanku kalut. Pikiranku kacau. Di pekarangan kost, dibawah pohon mangga aku duduk termenung sendirian. Pandanganku menengadah ke langit &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang masih saja terlihat buram. Aku merenung sejenak, merefleksikan hari-hariku yang lalu.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-8450056592931626168?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/8450056592931626168/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=8450056592931626168' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/8450056592931626168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/8450056592931626168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/09/langit-sore-terlihat-mendung-awan-yang.html' title=''/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-6357996892628394611</id><published>2008-08-27T22:52:00.000-07:00</published><updated>2008-08-27T23:03:52.477-07:00</updated><title type='text'>nantilah diriku di penghujung mimpi</title><content type='html'>waktu terasa cepat berlalu. tidak terasa, dua bulan telah terlewati.  pengalaman indah di kampung kini tinggal menjadi kenangan, yang kadang-kadang muncul dalam jeda rutinitas yang membosankan. ia hadir jelas dalam imajinasi. kerinduan akan menghadang, menerjang tatkala sendiri. rintikan air mata tiba-tiba keluar, sedih dan pilu tak tertahan. saat harus mengingatnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-6357996892628394611?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/6357996892628394611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=6357996892628394611' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/6357996892628394611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/6357996892628394611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/08/nantilah-diriku-di-penghujung-mimpi.html' title='nantilah diriku di penghujung mimpi'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-6698134305076450760</id><published>2008-05-26T23:36:00.000-07:00</published><updated>2008-05-27T00:10:54.953-07:00</updated><title type='text'>lagi, gak tau judulnya apa?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Langit terlihat monoton dan tidak estetis dipandang mata. Bintang-bintang entah kemana. Bulan tidak kunjung menampakkan dirinya. Jangkrik-jangkrik yang biasanya bernyayi, berirama dalam harmoni alam, tak menunjukkan simpinonya. Malam ini terasa sepi. Hiruk pikuk tetangga kost yang biasanya berteriak, bertegur sapa tidak terdengar. Gonggongan anjing-anjing meneriakkan takbir kebesaran Tuhan seolah hilang ditelan bumi. Perasaanku kalut. Pikiranku kacau. Di pekarangan kost, dibawah pohon mangga aku duduk termenung sendirian. Pandanganku menengadah ke langit &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang masih saja terlihat buram. Aku merenung sejenak, merefleksikan hari-hariku yang lalu.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Aku tiba-tiba ingin sekali tertawa. Di batas imajinasi&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt; berlalu lalang hantu pocong yang tidak lagi mengenakan kain kafan sebagai marka perbeda antara dia dengan manusia. Ia mengenakan pakaian ala anak punk. Hidungnya di tindik, rambutnya direbonding. Bibirnya merah mirip buah tomat apel yang ranum, mungkin bibirnya di polesi gincu paling mahal. Bukan cuma itu, celanya yang ia pakai pun terlihat kebotol-botolan. Bajunya kurang seperempat sampai pusarnya. Lubang kecil &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;pusarnya&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt; itupun dibiarkan terbuka tertiup angin malam yang dinginnya tiada ampun. Pinggulnya, karena pengaruh pakeannya terlihat seperti gitar spanyol pecah. Sungguh menggelikan untuk di bayangk&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;n lagi. Belum selesai aku tertawa, hati ini mengarahkanku untuk menitikkan air mata. Berteriak dan menangis sekuatnya. Apakah dunia ini demikian edannya sampai-sampai setan ikut-ikutan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; modern. Iblis-iblis tenyata tidak bisa menghindar dan luput dari gempuran ideolog&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt; kapitalisme yang menindas. Iblis dan manusia tidak bisa dibedakan lagi sebab telah menyatu dalam satu kesamaan cultural. Kita tidak bisa membedakan lagi antara yang haq dan yang bakhil. Karena memang, yang haq dan yang bakhil itu tidak pernah sungguh-sunggu&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt; eksis. Yang benar-benar nyata itu hanya kehendak untuk kuasa. Tidak ada moralitas, tidak ada agama, tidak ada kebaikan, yang abadi hanya kehendak untuk kuasa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Aku menangis sejadi-jadinya. Kenapa dunia ini demikian absurd?. Inginku berlari menjauh meninggalkan dunia yang ironi. Yang tidak lagi mampu membedakan antara bahagia dan sedih. Mena&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;gis dan tertawa. Apalah arti mena&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;gis&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;?&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;pa&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;kah&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt; arti tertawa. Kita tidak pernah mampu mengetahui esensi mena&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;gis dan tertawa. Kita latah. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Te&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;rtawa karena kita melihat orang lain tertawa. Mena&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;gis saat orang lain juga menangis. Kita sebutir pasir di tengah gurun yang luas. Setetes air di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;padang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tandus. Kita bukanlah apa-apa. Makhluk hasil rekayasa sejarah lewat wacana-wacana pengetahuan &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;di &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;universitas-universitas ternama, khotbah rahib agung di pusat-pusat peribadata&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;n.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Saatnya kita mendeklarasikan kematian. Kematian subjek yang selama ini suka membusungkan dada berbicara mengenai kebenaran. Yang suka mengklaim dan rela mati demi arogansi butanya. Tidakkah kita sadar, manusia telah mati. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Bernyanyilah wahai umat manusia. Lantunkan kidung kematian. Lakukan perlawanan terhadap segala bentuk kekuasaan. Rombaklah nilai-nilai yang ketinggalan zaman dan yang telah usang. Bila perlu merontalah sekuatmu. Melawanlah sampai batas kekuatan. Bila mulut tidak mampu di buka. Lidah telah kelu. Maka rayakanlah kekalahanmu. Sebab bagi zaman kita, kalah dan menang sekadar permainan bahasa. Tidak ada yang benar-benar menang atapun kalah. Lihatlah sekelilingmu, saat iblis dan malaikat berperang, berkonfrontasi atas nama kebaikan dan kejahatan. Ia memang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak nampak, tapi selalu hadir dalam imajinasi kita. Dan disitulah ia berada. Berdiam dalam kotak khayalan manusia. Di tempat itulah dunianya. Pikiran kita merupakan Tuhannya. Tapi akhirnya mereka menari larut dalam kebahagiaan. Berbicara mesra sambil tertawa meratapi kobodohan serta kepongahan egonya, kemarin. Mereka kini adalah sahabat. Di titik inilah kesadaran tertinggi mereka. Evolusi keberadaanya telah mencapai puncak sehingga mereka, walaupun sadar berbeda, tapi perbedaanya bukanlah alasan untuk saling menyakiti. Dan itulah mengapa pada zaman ini kita mesti dengan rendah diri mengakui bahwa pusat telah tiada, atau paling tidak mempunyai aturan baku untuk mengklaim ini adalah pusat bagi yang lainnya. Tidak ada normal dan abnormal, baik dan jahat, wanita dan laki-laki, yang ada hanya kehendak untuk kuasa. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Aku akui, tulisanku terlalu membingungkan untuk dipahami. Terlalu abstrak bagi realita vulgar hari ini. Baik, aku akan berikan contoh kokrit tesisku. Beberapa minggu yang lalu, pada acara bedah buku menteri kesehatan St. Fadilah supari yang katanya kotroversial itu. Di rungan mewah fakultas kedokteran universitas hasanuddin. Kalau tidak salah ingat. Ruang lt.5. selagi membedah buku, seorang pemateri mengatakan untuk mengatasi dan mencegah tindakan atau perialaku tidak adil dalam mengelola alam yang tinggal menunggu waktu kehancuran.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Harus di terapkan secara universal ideologi islam. Ideologi yang paling sahih. Paling mampu menghadapi tantangan zaman. Lalu yang jadi pertanyaanya, islam yang dimaksud islam yang mana?. Islamnya Hambali kah?. Syafi’i kah? Atau Hanafi?. Jelas bagi kita semua islam tidak satu. Islam itu banyak. Semenjak wafatnya baginda Muhammad SAW, tidak ada lagi seorang pun anak manusia yang representatif dalam menafsirkan aturan islam. Menafsirkan al-qur’an dan sunnah. Apakah sistem khalifah yang ditawarkan dan di gembar-gemborkan representatif dalam menghadapi tantangan zaman. Kalau memang itu representatif, otoritas apa yang melegitimasinya. Di titik terakhir kita akan menemukan, ternyata ini semua tidak lebih dari strategi kehendak untuk kuasa. Harusnya kita mulailah mencoba untuk keluar dari jargon pemahaman yang menyesatkan ini. Agar kita semua tidak terjebak pada usaha klaim kebenaran. Kebenaran wafat semenjak manusia juga wafat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Masih saja—mohon aku tidak di cap kafir—kita umat islam bermain pada kesadaran simbolik. Kesadaran paling rendah. Tidak bisakah islam di dakwahkan tanpa menyebut nama islam, sebagai identitas. Identitas cenderung anarkis. Ia berputar di lingkaran setan egosentrisitas umat manusia. Kita mesti beranjak dan meninggalkan kesadaran naif ini untuk berhijrah menuju kesadaran akan cinta. Cinta tidak mensyaratkan identitas. Tidak mengharuskan persamaan. Karena dengan perbedaan keindahan itu dapat dirayakan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Maka inilah yang di kritik oleh si filosof godam Nietsche. Mendeklarasikan kematian rasionaliatas. Rasionaliatas ala aristotelian-newtonian yang reduksionis-instrumentalis. Logika binerian yang hirarkis serta dominatif. Manusia mencipta berhala bagi dirinya sebagaimana disabdakannya dalam otobiografinya yang mengasikkan untuk dibaca “ecce homo”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Realitas telah di rampas nilainya, makananya, kejujurannya hingga ketingkat yang sama seperti dunia isdeal yang telah dipalsukan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;  selesaikan semuanya, bangkit dan mulailah belajar!!!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-6698134305076450760?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/6698134305076450760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=6698134305076450760' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/6698134305076450760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/6698134305076450760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/05/lagi-gak-tau-judulnya-apa.html' title='lagi, gak tau judulnya apa?'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-3285692240732373264</id><published>2008-04-15T20:56:00.000-07:00</published><updated>2008-05-16T04:34:41.228-07:00</updated><title type='text'>Kurenungkan hari ini</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku tak memiliki arti, kehadiranku bukanlah angan yang pernah engkau impikan. Aku tahu, cinta itu tidak pernah hadir dari ruang yang hampa, selalu ada awal. Tidak seperti orang bijak berujar, “pada suatu titik sesuatu itu berasal dari ketiadaan”. Tapi kau tahu, kita bukanlah titik itu, kita lah dunianya. Selalu ada awal bagi hubungan kita. Namun, pernahkan kau bertanya, adakah diriku keawalan itu?. Jawabannya tidak!. Aku bukanlah al-awwal, aku mungkin al-akhir! Atau akulah ketidak-jelasannya.  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Engkau tahu, pikiran ini, perasaan ku, kebingungan akan kejelasan esok. Ketersiksaan eksistensial yang diliputi pertanyaan bodoh “adakah engkau mencintaiku?”. Kejelasan macam apa yang bisa menjadikanku yakin!. Percaya terhadap komitmenmu!. Cintamu!.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Kobodohanku memang, atau inilah realitasnya?. Dunia terlampau absurd bagi suatu kejelasan, tidak ada yang betul-betul mampu mencapai kebenarannya!. Bahkan rahib agung sekalipun!. Yang nyata hanya hari ini, esok itu absurd, tidak jelas, membingungkan! Dan keberadaan waktu justeru semakin mempertegasnya!.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-3285692240732373264?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/3285692240732373264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=3285692240732373264' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/3285692240732373264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/3285692240732373264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/04/kurenungkan-hari-ini.html' title='Kurenungkan hari ini'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-7454583922146192960</id><published>2008-04-13T20:15:00.000-07:00</published><updated>2008-04-13T20:18:19.851-07:00</updated><title type='text'>lawan israel!!!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SALMzsRtyZI/AAAAAAAAACM/GaT_-JGUn5Q/s1600-h/syuk.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SALMzsRtyZI/AAAAAAAAACM/GaT_-JGUn5Q/s400/syuk.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188934909115091346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-7454583922146192960?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/7454583922146192960/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=7454583922146192960' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/7454583922146192960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/7454583922146192960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/04/lawan-israel.html' title='lawan israel!!!'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_CkjllOyqojE/SALMzsRtyZI/AAAAAAAAACM/GaT_-JGUn5Q/s72-c/syuk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-2981461365082980433</id><published>2008-04-06T22:23:00.000-07:00</published><updated>2008-04-06T22:24:42.042-07:00</updated><title type='text'>KAU HADIR DARI KETIADAAN, SAYANG!</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tidak meyakini kesempurnaan cinta, apatis terhadap bunga-bunga perasaan yang disemai Tuhan lewat special relation. Kehampaan makna bisa diatasi dengan buku dan aktivitas, “kataku suatu saat”. Dengan begitu kita hidup dalam sebuah ekstase rutinitas, berusaha keluar dari jargon cinta yang tak produktif. Asumsi-asumsi yang membuatku terus bertahan dalam kesendirian sampai beberapa tahun belakangan. Ironisnya, asumsi tersebut kemudian dipraksiskan dalam sikapku sehari-hari, dengan menolak sama sekali benih-benih cinta yang kadang tumbuh. Bahkan aku beranggapan cinta tidak lain merupakan bentuk paling halus dari nafsu kelamin. Cinta murni itu tidak ada, itu omong kosong yang mesti dibuang di keranjang sampah. Menikahpun tidak lebih dari kegiatan prostitusi yang dilegalkan. Pikiran ini terlalu picik untuk kenyataan, seolah-olah keluar dari konteks ruang dan waktu yang melingkupi, mencoba menutup segala kemungkinan yang terjadi dan terkesan memutlakkan asumsi dalam teoritisasi yang universal. Oh … Alangkah piciknya aku saat itu !!! &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kini dunia memperhadapkanku pada suatu realita yang sulit kuterima. Pilihan yang membingungkan. Cintakah? Atau Kesendiriankah?. Omong-kosongkah itu cinta, realitiskah itu kesendirian? Ataukah—seperti tulisanku terdahulu—kita hanya kecewa dengan kenyataan. Sampai-sampai mengkonstruk asumsi ini sebegitu jauhnya. Apakah cinta memang inherent dengan nafsu, apakah memisahkan nafsu dari cinta justeru mengindikasikan pemikiran yang reduksionis, seperti diktum Rene Descartes, Cogito Ergo Sum. Aku berpikir maka aku ada. Yang memisahkan antara pikiran dan tubuhnya. Bisakah manusia berpikir tanpa tubuh?. Otak maksudnya!&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kehadiran dikau menggugurkan asumsiku. Meruntuhkan semua bangunan pemahamanku tentang cinta dan kasih sayang. Engkau seolah datang dari ketiadaan, dalam kemisteriusan sebagai juru selamat atas kesesatan jalanku. Kesempurnaanmu, dimataku, mengantarkan aku dari keterpenjaraan mendobrak dari pikiran sempit hakikat cinta. Engkau setara dengan Jesus Kristus bagi umat nasrani, dan Budha Gautama bagi agama Hindu. Engkaulah penyelamat bagiku! &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dulu, yang ku pahami cinta adalah seks, penguasaan, dan egoisitas. Cinta bagiku hanyalah bersifat keduniawian semata, oleh karena itu aku menolak cinta. Tapi itu dulu, hari ini aku ingin berteriak mendeklarasikan kepada dunia, “Aku salah!”. Cinta itu luas, tidak ada definisi atau konsep &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;baku&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Membakukan definisi cinta berarti meng-Universalkan hakikatnya bagi setiap insan penikmat cinta dan bukan pemujanya. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sayang, sengaja kutorehkan pikiranku disini agar dikau membacanya, menghayatinya, menginterpretasinya sepuas mungkin tanpa harus takut akan kesalahan penafsiran. Kubebaskan dikau menafsirkannya menurut versimu. Memaksamu menafsirkan sepertiku sama artinya dengan menyuruhmu tunduk terhadapku. Aku tidak mau hal itu terjadi. Bukankah bahasa sangkar ada?. Kebenarannya terikat ruang dan waktu dan tidak mengherankan kalau Plato mengatakan “Kata-kata tidak akan pernah bisa dan mampu mewakili pikiran dan perasaanku”. Kata-kata itu lemah untuk sebuah kenyataan.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apabila engkau telah membacanya, kusarankan engkau berpikir sejenak, sehari ataupun dua hari. Menghayati dan merefleksikan kembali dirimu. Apakah kehadiranku menjadi berhala baru bagimu. Aku tidak menginginkan itu terjadi. Aku terlalu naïf untuk kau kultuskan. Aku bukan Sang Hyang Widi. Tidak pantas bagiku dalam pikiran dan perasaanmu duduk setara dengan sang penguasa &lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang tidak diadakan, ada yang berdiri sendiri, yang mutlak, kreatif dan tanpa definisi. Kuharapkan cintailah diriku sesuai porsi yang seharusnya, tidak berlebihan. Yang berlebihan itu tidak baik!. Cobalah tidak mencintai sepenuh hatimu, aku makhluk yang sewaktu-waktu bisa lenyap, menghilang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Aku adalah kemisteriusan, dan engkau kemisteriusan juga bagiku. Kita sama-sama adaan, sama dengan lemari, kursi, panci, dll. Cuma kita punya kelebihan, sedikit. Yang bisa mempertanyakan masa lalu, mempermasalahkan keberadaannya, serta menyangsikan adakah diriku?. Tentu, kau janganlah sombong dengan predikatmu, tanpa palu, rumah, atau karena engkau anak……..tanpa rumah sakit, tanpa pulpen, tanpa adanya anak-anak kekurangan gizi, maka jelas tidak akan pernah ada dirimu. Seorang mahasiswi Gizi.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;untuk LuphieQuw&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-2981461365082980433?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/2981461365082980433/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=2981461365082980433' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/2981461365082980433'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/2981461365082980433'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/04/kau-hadir-dari-ketiadaan-sayang.html' title='KAU HADIR DARI KETIADAAN, SAYANG!'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-1304174843788353472</id><published>2008-04-06T07:41:00.000-07:00</published><updated>2008-04-06T07:48:13.740-07:00</updated><title type='text'>BINGUNG MAU KASIH JUDULNYA APA?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Baiknya, semua kritik, apapun sifatnya entah positif atau negative semestinya ditanggapi secara bijak, bukan malah sebaliknya. Sebagai ajang debat kusir yang tiada henti di mading-mading universitas dan fakultas, atau di forum-forum diskusi. Sementara realitas sosial yang terjadi terabaikan tanpa diperhatikan. Dan, sudah selayaknya kita sebagai mahasiswa pengemban tugas berat yang termaktub dalam tiga fungsi mahasiswa, agent of a change, moral force dan sosial control. Meskipun ketiga hal tersebut masih layak diperdebatkan. Benarkah mahasiswa sebagai agent of a change, moral force dan sosial control?. Agaknya butuh tempat tersendiri membahasnya, disini kita terkendala ruang dan takutnya melenceng dari tujuan awal tulisan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Beberapa minggu yang lalu terjadi peristiwa besar menggemparkan seantero Sulawesi khususnya Makassar. Kematian seorang Ibu beserta anaknya, daeng besse sungguh ironis untuk didengarkan ditengah daerah yang terkenal dengan lumbung padinya, sebab kematian mereka didiagnosis akibat kelaparan dan menderita gizi buruk. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;UNHAS? TANGGUNG-JAWABNYA MANA?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kita semua pasti mengetahui—yang tidak tahu keterlaluan—bahwa unhas merupakan universitas wilayah Indonesia timur yang paling disegani, baik karena predikat universitas terbesar di wilayahnya maupun karena banyak dosennya yang menyandang gelar professor. Saya tidak ingin memasukkan data-datanya disini, pembaca bisa baca di buku panduan universitas maupun media penyaluran sifat narsistiknya. Ada banyak, silakan berusaha. Lagian pokok bahasan kita bukan menyangkut melubernya dosen yang bergelar professor namun miskin karya. Mungkin hanya simbolitas saja kali. Atau seperti bahasa teman saya, professor karena pangkat. Disini saya coba mengetengahkan pembahasan menyangkut unhas khususnya medical compleks, khususnya lagi fkm dan yang paling khususnya jurusan gizi dalam menghadapi atau merespon isu kesehatan terkini serta tindakan yang dilakukan secara konkrit, bukan konsep atau wacana yang dimuat di Koran-koran dengan tendensi simpati dan empati palsu. Bahasa ekstrimnya cari muka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dunia tidak butuh bahasa-bahasa apologi, apalagi opini kosong tanpa aksi. Saat ini kita semua butuh langkah konkrit pemecahan masalah bangsa yang makin kompleks. Pun menyangkut gizi buruk yang kembali mecuat ke permukaan setelah di bombardir media lewat wacana lambannya kinerja pemerintah. Hal ini juga diperparah oleh sikap mahasiswa yang terkesan apatis. Cenderung lari dari kenyataan, malah asyik-masyuk dengan ritual aneh yang bernama Mubes serta wisata angkatan. Padahal dunia tempatnya bernaung membutuhkan uluran tangannya sebagai agen perubah (agent of a change).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Fenomena ini bisa kita lacak, beberapa minggu yang lalu jurusan Kesling adakan Mubes, AKK, dan kemarin (4/4/08) jurusan gizi melakukan wisata ke bili-bili, bersamaan dengan angkatan 2005 yang berwisata ke pangkep. Belum lagi BEM FKM yang dingin-dingin, lebih antusias mengurus dies natalies keluarga mahasiswanya ketimbang turun kejalan mengadvokasi kebijakan penguasa, ini menjadi sesuatu yang urgen mengingat tipikal birokrat kita seolah-olah mengalami ketidak-normalan pendengaran, masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Tapi belakangan saya lihat mereka (bem,red) berencana mengadakan seminar. Semoga seminar tersebut bukan sekadar formalitas belaka supaya tidak dibilang tidak ada kerjaan. Biasa latah organisasi!.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;SOLUSI!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sulawesi adalah salah satu lumbung padi nasional Negara kita, jadi tidak ada alasan menganggap kejadian besse sebagai akibat kekurangan pangan. Nah, kalau begitu yang bermasalah apanya?. Pemerintahkah?. Atau bukan. Saya kira pemerintah itu sesuatu yang abstrak, sama misalnya masyarakat. Yang otentik individu-individu, bukankah masyarakat hanya akumulatif dari individu-individu?. Lalu siapa yang perlu disalahkan atau yang perlu bertanggung-jawab?. Jelas, yang paling berhak bertanggung-jawab atas problema ini kepala pemerintahan, presiden, gubernur, bupati/walikota serta jajaran terkait. Mereka, agen-agen kaum kapitalis serakah. Dalam artian hanya mewakili kepentingan kaum borjuasi dan mendiskreditkan proletariat. Ada kepentingan sistem yang bersifat laten dibaliknya. Itupun kalau indikasinya benar. Tapi semuanya bisa kita lacak saat pemilu, baik pemilu presiden, gubernur, maupun walikota/bupati. Begitu banyak dana dihamburkan hanya untuk kegiatan kampanye saja. Yang menjadi pertanyaan kita semua dana tersebut berasal dari mana?. Jelas disini, dana tersebut pasti berasal dari pemodal dengan janji memberi akses bagi pengembangan usahanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Intelektual dibagi dua, intelektual organic dan intelektual tradisional. Intelektual organic adalah kaum yang berani mempertanyakan secara kritis fenomena yang terjadi dilingkungannya dan berani memperjuangkannya sampai titik darah penghabisan. Sedangkan intelektual tradisional dia tahu dan paham dengan fenomenanya namun tidak berani kritis. Saya menduga inilah intelektual pesimis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dari pembagian tersebut, kita sebagai mahasiswa harusnya berada dalam lingkup intelektual yang kedua. Intelektual organic. Oleh karenanya kita mesti secara total memperjuangkan segala ketimpangan yang terjadi dengan tidak lagi mengandalkan gerakan yang berbasiskan moral tapi mesti menaikkan kesadaran ke gerakan politik. Permasalahan bangsa kita adalah masalah sistem, sistem yang tidak mewakili kepentingan umum. Sistem kapitalis dengan agenda neo-liberalisme nya disegala bidang, termasuk yang marak terjadi akhir-akhir ini, wacana liberalisasi pendidikan. Mestinya kita terjun dalam politik, mengintervensi pemilu, merebut parlementer dari kaum pro-kapitalistik. Lalu membuat agenda nasional:&lt;/p&gt;  &lt;p class="ListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Nasionalisai perusahaan tambang untuk pendidikan dan kesehatan gratis&lt;/p&gt;  &lt;p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Meghapus utang luar negeri atau memohon memotarium (menunda pembayaran utang sampai waktu yang tidak ditentukan, sampai bangsa kita mampu membayarnya)&lt;/p&gt;  &lt;p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sita harta koruptor&lt;/p&gt;  &lt;p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="ListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;Dari solusi diatas, perlu diketahui bukanlah mutlak benar bagi pemecahan masalah keummatan. Ini bentuk lain solusi yang coba ditawarkan dalam mengadapi konteks zaman. Wacana dan diskusi harusnya digalakkan, rasionalitas komunikatif ala jurgen habermas dan tidak bersifat semu dan procedural semata. Bukan rasionalitas instrumentalis yang reduksionis-atomistik ala Cartesian-newtonian. Logika binerian Aristotelian yang memisahkan objek-subjek. &lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="ListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;MAKASSAR--BUAT LuphieQuw &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-1304174843788353472?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/1304174843788353472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=1304174843788353472' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/1304174843788353472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/1304174843788353472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/04/bingung-mau-kasih-judulnya-apa.html' title='BINGUNG MAU KASIH JUDULNYA APA?'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-8680882630639495791</id><published>2008-03-21T01:45:00.000-07:00</published><updated>2008-03-21T02:24:11.585-07:00</updated><title type='text'>SEKELUMIT PERJALANAN HIDUP</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;(ada spirit revolusi dalam setiap momen hidup)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Setelah ujian berakhir, aku langsung disuruh orang tuaku ke &lt;st1:place st="on"&gt;Makassar&lt;/st1:place&gt;. Kebetulan ada kapal. Padahal aku sedianya berniat ke jawa, ke jokjakarta, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; pelajar. Kapal besar berwarna kuning gading mengantarku berlabuh dipulau daeng. Agak asing perasaanku menginjakkan kaki disini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;        Hampir sebulan aku di &lt;st1:place st="on"&gt;Makassar&lt;/st1:place&gt;, menunggu pembukaan pendaftaran SPMB. Waktu sebanyak itu aku manfaatkan untuk ikut bimbingan belajar sebagaimana yang di intruksikan orang tua yang mulia. ”&lt;i style=""&gt;Ya…sekalian isi waktu luang bisikku”&lt;/i&gt;. Bimbel, sesudah satu bulan aku jalani ternyata tidak seperti yang diopinikan orang kebanyakan. Katanya, ikut bimbel diajarkan cara-cara jitu memecahkan soal. Tapi apa yang aku dapatkan, bimbel hanya mengajarkanku cara cepat yang sebenarnya tidak masuk dalam akal sehatku. “&lt;i style=""&gt;Dasar wong deso kataku dalam hati&lt;/i&gt;”. Susah beradaptasi dengan pola-pola praktis orang &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Aku sedari sekolah dasar diajarkan mengerjakan soal selalu berdasarkan prosedur yang biasa dan umum. maklumlah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                                                          &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;         Esok, sebulan penuh aku di &lt;st1:place st="on"&gt;Makassar&lt;/st1:place&gt;, tepat 30 hari aku mendiami pulau orang yang terkenal dengan kerasnya budaya dan tabiatnya ini. Pagi-pagi aku bangun dari tidurku, langsung lekas mandi cepat-cepat, sebelumnya aku mencuci baju yang tertumpuk banyak dikamar. Dengan status kamar tumpangan, agak malu juga rasanya sama yang empunya. Kebiasaan lama dikampung terbawa juga kesini. Kebiasaan jelek yang selalu membiarkan baju menumpuk berminggu-minggu diatas keranjang merah tempat baju kotorku. Aku tidak menyucinya sebelum ibuku marah-marah sambil mengancam memotong uang saku ku. Sikap ku seperti anak kecil. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;        Diluar, aku diteriaki sepupuku. &lt;i style=""&gt;“cepat ko mandi cezt, nanti ketinggalan ujian, jam delapan itu mulai ujian SPMB”,&lt;/i&gt; teriaknya dengan logatnya yang khas &lt;st1:place st="on"&gt;Makassar&lt;/st1:place&gt;. Aku kalang kabut jadinya, terbangun dari khayalan indah masa silam. Buru-buru aku mandi dan membilas pakaian. Akhirnya selesai juga kataku saat keluar wc.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Hari itu, aku memakai kameja hitam polos bermotifkan linking park, grup band ternama yang aku beli kemaren sore. Itu baju pertama aku beli semenjak berada di sini. Yang nantinya menjadi baju bersejarah dalam perjalanan hidupku. Aku tidak lupa menyetrikanya, aku tidak terbiasa memakai baju acak-acakan, walaupun bajunya masih rapi. Tapi perasaanku tidak enak aja. Emang benar kata orang, perasaan lebih mendominasi dari pada kebenaran. Perasaan lebih kuat mempengaruhi pilihan seseorang dari pada kenyataan yang terjadi. Baju ku tidak perlu disetrika, sebenarnya. Tapi kedepannya, entah aku tidak tahu apa yang terjadi apakah aku masih bisa bertahan dengan perasaan seperti ini atau tidak. Lingkungan mahasiswa tidak selalu mengajarkan kita untuk berpenampilan rapi ala eksekutif. Terpengaruh kaum capital katanya. Yang aku sendiri bingung, apakah kaum capitalis pernah mendeklarasikan dirinya dengan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; seperti tadi. Mahasiswa terlalu phobi dengan capitalis sampai-sampai penampilan pun mereka lawan. Ataukah dunia ini pertarungan symbol?. Makanya kita harus melawan dengan symbol juga. Lawan dan lawan!!!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Aku keluar dari kost yang berukuran 5x5 itu, terlebih dahulu aku berdoa, semoga hari ini aku dapat meraih mimpiku, mimpi anak desa yang termarjinalkan. Pagi itu aku berjalan menunduk melintasi gang-gang kecil. Sesekali aku melihat tikus-tikus got, aku kaget bukan main. Tikus-tikus itu besarnya mirip kucing kesayanganku dikampung. Ah…mungkin mitos superioritas kucing terhadap tikus akan terbantahkan melihat kenyataan yang aku lihat. Aku hampir tidak bisa berbuat apa-apa. Ketakjubanku membuatku diam seribu bahasa. Sekaligus menertawakan diri yang kampungan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sesampai ditempat ujian, aku langsung masuk ruangan. Kemaren sore, sehabis nge-mall aku mengeceknya bersama sepupu ku. Kak linda, kak sri dan kak bia. Terimakasih banyak buat kalian, aku akan selalu mengingat jasa-jasamu. Mengingat saat kita bercanda sambil makan bersama dalam susahnya merantau. Mencari sedikit titik terang bagi nasib kita. Kaum-kaum termarjinalkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Aku memandangi sekeliling ruangan, melihat rona-rona wajah baru yang kelihatan sombong dan angkuh. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; pula yang terlihat diam dan menunduk. Mungkin mereka dari kampung. Orang kampung biasanya begitu, berpenampilan norak dan kelihatan tidak percaya diri. Lama aku terbang melayang jauh melintasi batas kedirianku, memasuki relung-relung lorong gelap imaji. Sesekali aku menghayalkan diriku kelak bisa seperti mereka. Orang &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;“tolong tasnya disimpan didepan, yang boleh ada dimeja hanya pensil, penghapus, dan penggaris. Bagi yang memilki Hp diharapkan menitip ke pengawas”. &lt;/i&gt;Ketus pengawas ujian kami. Lalu aku mengeluarkan tasku dalam laci meja, kemudian berlari kecil menyimpannya didepan. Disamping pengawas yang kelihatan sangar. Aku jelas belum punya Hp saat itu. He…he…maklum dari kampung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Hampir 120 menit aku berkutat dengan soal yang super sulit, bagi kami orang kampung yang jauh dari akses informasi. Praktis soal-soalnya sulitnya minta ampun. Seumur hidupku belum pernah diperhadapkan pada soal seperti ini. Ternyata perbedaan antara &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; dan desa bukan cuma pada gedung-gedung menjulang tapi juga akses buku-buku dan pengetahuan. Aku jadi perpikir, kenapa pemerintah tidak adil dalam hal ini, orang desa sekali lagi selalu dimarjinalkan. Dianggap warga Negara kelas dua. Atau kami dianggap bukan warga Negara?. Kenapa dunia begitu tidak adil, haruskah perbedaan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; dan desa menjadikan kita bodoh?. Tidak memperoleh kesetaraan akses pendidikan. Realitas yang menjadikanku pesimis. Akankah aku berhasil lulus nanti?. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dalam teriknya matahari siang yang tak hentinya memancarkan cahayanya kesegala penjuru dunia. Dia seolah tidak pernah lelah dan bosan menjalani rutinitas yang monoton. Menyinari dunia merupakan tugas abadinya sampai ia sendiri luluh bersamanya. Bersama makhluk sombong dan serakah sekaligus bodoh bernama manusia. Terlalu banyak sejarah menceritakan semuanya. Sejarah tentang penyembahan matahari oleh manusia. Imaji manusia berani melampaui dirinya sendiri. Hewan-hewan kurban berserakan diantara bangunan candi dan altar-altar pemujaan. Kesucian kebenaran dicampur-adukkan dengan pikiran manusia lewat jargon klaim intelektulitas. Rasio mampu mencapai kebenaran hakiki ungkap filsuf. Akhirnya, begitu banyak klaim-klaim kebenaran oleh beberapa golongan atau kelompok. Sepertinya mereka ingin menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri. Simbol-simbol pun dipuja melebihi nilainya. Keberagaman diperkosa lewat bahasa dan kesejahteraan manusia. Makna dan nilai dikesampingkan. Adakah hal yang bisa menyatukan kita selain nilai-nilai universal?. Bukan berdasarkan symbol semata.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Aku termenung sejenak merefleksikan kembali hari yang telah lampau. Hari-hari yang penuh keceriaan dan ketenangan. Aku ingat saat padi mulai menguning, kami berlomba-lomba seusai sekolah pergi kesawah membantu orang tua kami menjaga padi dari serangan burung pipit. Kami biasanya membuat perangkap untuknya, menangkap dan menjadikan kawan bermain yang menyenangkan. Bila matahari telah masuk keperaduannya, kami anak-anak petani berlari ceria diatas pematang sawah sambil berteriak memanggil teman-teman mengajak pulang bersama. Nanti malam kami mengerjakan tugas sekolah dan mengaji bersama. Sungguh indahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Kini aku tidak bisa menikmati hari indah lagi, mimpi-mimpi mengharuskan aku jauh dari realitas hidupku. Disini aku hanya bisa bernyanyi mengenang masa kecilku, dengan menyanyi aku bisa merasakannya kembali. Menjauh dari rasa alienasi yang menyakitkan.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;Di sini negeri kami&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;Tempat padi terhampar&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;Samudera kaya raya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;Tanah kami subur Tuhan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;Dinegeri permai ini&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;Berjuta rakyat bersimbah luka&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;Anak kurus tak sekolah&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;Pemuda desa tak kerja&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;Mereka dirampas haknya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;Tergusur dan lapar&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;Bunda relakan darah juang kami&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;Tuk membebaskan rakyat&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;Mereka dirampas haknya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;Tergusur dan lapar&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;Bunda relakan darah juang kami&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;Padamu kami berjanji&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 36pt;" align="right"&gt;(lagu pembebasan)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Haruskah menyembah kebodohan kami lagi Tuhan?. Kembali menjalankan ritus-ritus aneh. Jauh dari gemerlapnya dunia. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Bersambung…………&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-8680882630639495791?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/8680882630639495791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=8680882630639495791' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/8680882630639495791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/8680882630639495791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/03/sekelumit-perjalanan-hidup.html' title='SEKELUMIT PERJALANAN HIDUP'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-5132916129004699650</id><published>2008-03-12T21:45:00.000-07:00</published><updated>2008-03-13T04:57:25.367-07:00</updated><title type='text'>DOSENKU MULTILEVERs</title><content type='html'>Sorot matanya lemah, suaranya pelan tanpa gairah. Kehidupan yang keras menjadikan rambut tebalnya putih sebelum waktunya. "aku banyak mengikuti MULTI LEVEL MARKETING tapi tidak pernah kaya?". ujarnya diakhir promosi singkatnya sehabis kuliah. lalu kami menertawainya. Dosen yang payah, ketusku dalam hati. Ternyata predikat sebagai intelektual tidak bisa menjadikannya bijak memaknai dunia. Begitu hebat gempuran iklan yang memaksa imaji  tidak bisa tenang dan menerima hidup apa adanya. Perang yang tak pernah menemukan titik akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Menertawakannya bukanlah pilihan yang tepat, tidak ada riuh tawa untuk sebuah tragedi. Aku terdiam saja, tenang mendengar oceh tangis kehidupan. Kekejaman dunia memaksa ia tanpa malu menjual otaknya demi harta dan materi. Kaum intelektual benar-benar kehilangan akal sehatnya, pikirannya tentang pengetahuan telah dimodifikasi menjadi pikiran materil semata. Banyak kali aku mendengar dosen terlibat MLM (multi level marketing). Aku sedikit sanksi dengan itu, terus terang. Dan tidak akan mempermasalahkannya sepanjang tidak keluar dari jalur yang ditetapkan bersama. Bukankah dunia ini adalah konsensus?. Sekali lagi hatiku miris, inginku menangis dan berteriak pada dunia.  Kenapa  engkau begitu kejam?. Ia seorang dosen, dosen tidak pernah diajarkan untuk pamrih. Pahlawan tanpa jasa slogannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Aku masih saja terdiam, walaupun desakan nurani memberontak terhadap perilaku dosen begitu menggebu. Berdiam boleh jadi pilihan terbaik menurutku untuk suasana seperti ini. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkannya. Ada realitas yang harus dipertanyakan. Sejahterakah dosen ataupun guru hari ini?. Ia tidak salah pada wilayah itu, ia hanya terpaksa. Tidak ada cara lain. Mungkin hanya itu yang bisa dia lakukan ditengah keterbatasannya. Ia tahu ada tanggung jawab yang dia pikul. Dia rapuh oleh kerasnya arus kehidupan. Tidak ada lagi harga diri, toh harga diri bisa dibeli. Nanti bila kaya!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Kaya. selalu menjadi modus utama dunia sekarang. Kaya yang dahulunya bermakna luas kini dipersempit oleh pengertian yang mngacu ke hal yang bersifat materil. Orang tidak butuh kaya hati, kaya nurani. Orang hanya peduli kaya materi. Kaya hati, kaya materi bisa dibeli. Bisakah?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dosenku multilevers, ia menjajakan dagangannya di ruang-ruang kuliah. Diatas topeng-topeng intelektualitas. Ia sekaligus menjajakan harga dirinya. Kampus seharusnya bukan tempat untuk bertransaksi bisnis, walaupun tidak salah. Jam kuliah jangan dipotong demi promosi MLM. "Baiklah sekarang kalian mau jadi apa?". Jadi kaya teriak teman-temanku. Kaya lagi-kaya lagi. Tiadak adakah pilihan selain itu?. Begitu sempitklah dunia ini?. Kenapa orang mengidentikkan kata kaya dengan materi semata?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Oh...ingin kumaki dirimu. Dosenku. Enyahlah engkau dari lorong-lorong kehidupanmu. Sekarang lari dan kejarlah impianmu itu. Duniamu terlalu jauh bagi kami, orang-orang idealis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Memang, tidak ada yang bisa memungkiri kenyataan hidup yang engkau jalani. Engkau selalu bercerita pada kami disela-sela waktu mengajarmu, dan bukan hanya engkau. Engkau menceritakan tentang istri dan anakmu yang ingin beli ini beli itu. Sementara gajimu hanya cukup membiayai hidup sebulan. " kenapa  istriku  mengidentikkan kaya dengan materi". Kami tahu engkau tersiksa. Istri dan anakmu mendesak meminta tanggung-jawabmu. "Pa...kapan kita punya mobil?". Jadilah engaku mengkreditnya dengan memotong gaji yang pas-pasan. Untung tidak ada ruang untuk korupsi. terlalu banyak badan-badan pemberantas korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Pak...!!! kami paham dan sangat memahami. Slogan pahlawan tanpa jasa masih berdengung. untuk provesimu. Padahal dunia yang engkau alami tidak pernah mau menukar jasamu dengan honda jazz kesukaan anak dan istrimu. Kesukaan orang kebanyakan. Sangat tidak adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Slogannya perlu dipertanyakan sekarang. Berteriaklah dan tuntut hak-hakmu. Upah yang memadai untukmu. Buatlah revolusi besar-besaran. Bukan cuma petani yang perlu revolusi, tapi juga kalian. Pekerja-pekerja kere. Bila perlu buat partai sendiri ataupun kalau mau negara sendiri yang menghargai dirimu bukan dengan slogan. Pilihlah pemimpin dari kalanganmu agar kelak dia bijak dan mau memperhatikan engkau. Kami pasti mendukung, Pak!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Aku jadi teringat bapakku. Ia seorang guru. Aku jadi teringat saat diriku meminta kiriman uang tiap bulannya, sementara gajinya sudah tidak ada. Gajinya dipotong pinjamannya di Bank. Aku menitikkan air mataku, selama ini uang yang dikirimkan dari mana?. Apakah ia mencuri atau korupsi?. Setahuku ia tidak punya penghasilan lain. Atau mungkin ia hutang sana-hutang sini. Seberapa banyak hutangnya?. Aku malu memikirkannya, apalagi mendengarkannya bercerita. Dan memang ia tidak pernah mau bercerita. Apalagi bekeluh-kesah. Ia tida pernah jujur saat aku tanya, uang ini dari mana papa?. Ia bungkam. Mungkin ia malu padaku. Ia hanya menjawab " tidak usah dipikirkan kamu kuliah saja, cepet-cepat selesai". Kata itu biasa terucap saat mengakhiri pembicaraan dan menutup teleponnya.  (makassar, 13 maret 2008. saat kuliah metodologi).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-5132916129004699650?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/5132916129004699650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=5132916129004699650' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/5132916129004699650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/5132916129004699650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/03/dosenku-multilevers.html' title='DOSENKU MULTILEVERs'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-8107513754831497652</id><published>2008-03-12T21:39:00.000-07:00</published><updated>2008-03-12T21:45:26.762-07:00</updated><title type='text'>MENERIAKKAN DUNIA</title><content type='html'>Dimana kita mau bertanya,&lt;br /&gt;Sedangkan orang-orang pada apatis&lt;br /&gt;Pasif dan pasrah menerima kenyataan&lt;br /&gt;Pesimisme bagai hantu gentayangan&lt;br /&gt;Membayangi jejak langkah dan pikitran manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        OH...optimisme yang hilang&lt;br /&gt;        Cepat datang rebut pikiran manusia&lt;br /&gt;        Kembalikan seperti masa renaisans&lt;br /&gt;       Cambukkan cemeti imajimu&lt;br /&gt;        Balikkan kembali seperti masa Marduk dan Tiamat&lt;br /&gt;       Berperang.............lah&lt;br /&gt;       Gairah memabra dalam dialektika tak berbatas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-8107513754831497652?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/8107513754831497652/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=8107513754831497652' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/8107513754831497652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/8107513754831497652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/03/meneriakkan-dunia.html' title='MENERIAKKAN DUNIA'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-5275315739198909318</id><published>2008-03-12T06:57:00.000-07:00</published><updated>2008-03-12T07:04:54.333-07:00</updated><title type='text'>cinta...oh cinta</title><content type='html'>&lt;blockquote class="toccolours" style="padding: 10px 15px; float: none; display: table;"&gt; &lt;p&gt;Engkau ratu hatiku yang tersimpan di lubuk hatiku yang terdalam, dalam kepenuhan pikiranku, di sana ... ilahi yang tak dikenal! Oh, dapatkah aku sungguh-sungguh mempercayai dongeng-dongeng si penyair, bahwa ketika seseorang melihat sebuah obyek cintanya, ia membayangkan bahwa ia sudah pernah melihatnya dahulu kala, bahwa semua cinta seperti halnya semua pengetahuan adalah kenangan semata, bahwa cinta pun mempunyai nubuat-nubuatnya di dalam diri pribadi. ... tampaknya bagiku bahwa aku harus memiliki kecantikan dari semua gadis agar dapat menandingi kecantikanmu; bahwa aku harus mengelilingi dunia untuk menemukan tempat yang tidak kumiliki dan yang merupakan misteri terdalam dari keseluruhan keberadaanku yang mengarah ke depan, dan pada saat berikutnya engkau begitu dekat kepadaku, mengisi jiwaku dengan begitu dahsyat sehingga aku berubah (&lt;i&gt;transfigured&lt;/i&gt;) bagi diriku sendiri, dan merasakan sungguh nikmat berada di sini.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: right;"&gt;&lt;cite style="font-style: normal;"&gt;—Søren Kierkegaard, &lt;i&gt;Journals&lt;sup id="_ref-Dru_1" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/S%C3%B8ren_Kierkegaard#_note-Dru" title=""&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/2_Februari" title="2 Februari"&gt;2 Februari&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1839" title="1839"&gt;1839&lt;/a&gt;)&lt;/i&gt;&lt;/cite&gt;&lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-5275315739198909318?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/5275315739198909318/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=5275315739198909318' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/5275315739198909318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/5275315739198909318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/03/cintaoh-cinta_12.html' title='cinta...oh cinta'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-6494073157002972875</id><published>2008-03-11T07:23:00.000-07:00</published><updated>2008-03-11T08:23:48.588-07:00</updated><title type='text'>tanpa judul</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    angin sepoi menerpa diriku kala tiba ditempat DIKLAT Jurnalistik, raga yang panas  langsung segar kembali. ada sebersit kebahagiaan dan rasa takjub, ternyata Tuhan sempurna mencipta kehidupan. kemaren aku selesai mengikuti pelatihan, aku bahagia sebab tiga hari telah berlalu yang awalnya terasa berat. benar kata orang, kebosanan itu hanya ada pada orang yang tak pernah merasa bersyukur.   terrus terang, aku kecewa dan sedih saat harus berpisah dari teman-teman, suasana akrab telah terbangun saat kami bersama dalam suka dan duka menjalani DIKLAT. suasana terbangun sejuk, penuh inspirasi.&lt;br /&gt;    kemaren, pagi-pagi aku terbangun dari tidurku, aku masih merasa ngantuk saat itu, maklum semalam acaranya selesai pukul 03.00 wita. aku terpaksa bangun, jam sebelas nanti aku ada kuliah kimia. aku tidak mau mengulangi mata kuliah ini sampai empat kali. cukup sudah, aku kapok bermalas-malasan. kasian banget kan?. aku keluar kamar menuju kamar sebelah menemui temanku, kebetulan ia satu jurusan. aku langsung membangunkannya, agak kaget dia saya lihat, tapi dia langsung ke wc mencuci muka.&lt;br /&gt;    disaat DIKLAT, terus terang hatiku berbunga-bunga, aku dapat kiriman pulsa dari temanku yang selalu menyuplaikan kala aku benar-benar boke dan membutuhkannya. ia boleh jadi teman spesialku. dua minggu yang lalu, ia menelponku menceritakan masalah yang sekarang dia hadapi. dia katanya lagi jatuh cinta, aku bingung mau nanggapi apa, wong aku gak pernah jatuh cinta?. tapi dengan kebingungan itu membuat aku merasa kok disaat dia membutuhkanku, aku tidak bisa  membantunya.  teman apa kau ini?.&lt;br /&gt;    mencintai boleh jadi sunnatullah, kasih sayang sesuatu yang lumrah. terbesit seribu tanya, adakah itu telah mati pada diriku?. aku tidak berani jatuh cinta. salahkah aku tidak mencinta dan tidak menjawab pertanyaan teman spesialku?. aku teregun, kaget mengingat diriku. aku terbangun dari meditasi lamaku, mengekspresikan diri terkadang punya batas, punya halangan. haruskah cinta mengandalkan nafsu kelamin?. ataukah ketiadaan nafsu adalah manipulasi. justeru dengan nafsu bercinta jadi hidup, menggairahkan. ataukah kita yang terlampau egois mengendalikan diri?. tidak pernah puas dengan sesuatu yang dimiliki?. pilihan itu memang rumit, Tuhan telah adil menentukannya semua, namun apakah kita harus takluk?.&lt;br /&gt;    banyak cara bagi kita tuk belajar memilih, bukti kesempurnaan penciptaan. tapi kita tidak diajarkan mengetahui tanpa kriteria dan indikator. semua punya standar. disitulah kelemahan manusia, saat harus bingung dengan standar, sementara dunia penuh dengan standar-standar palsu. banyak kelompok mengklaim standarnya yang paling valid, petunjuknya yang paling sahih. tapi membuktikan kesahihan, kevalidan harus memakai apa?.&lt;br /&gt;    kita manusia  tidak lebih dari makhluk lemah. klaim  yang selama ini mengatakan  kita makhluk  sempurna tidak sepenuhnya benar. patut dipertanyakan?. mestinya kita membongkar segala kemapanan yang telah ada, melawan tirani yang tersebunyi. ya...harus ada yang berani menanyakan dunia ini, semua orang tampak tenang dengan apa yang dimiliki, dirasa dan dilihat. pertanyakan kawan-kawan, kenapa berzina itu dilarang?. kenapa anggur diharamkan?. walaupun hanya segelas penghangat tubuh yang dingin.&lt;br /&gt;   ada alasan yang disamarkan, katanya dunia perlu aturan, undang-undang dibuat untuk mengatur. siapa yang mau diatur?. dan siapa yang mengatur?. kenapa semua orang merasa risih dengan ketidak-teraturan, batas-batas seperti apa dikatakan tidak teratur?. membingungkan!. inikah dunia?.&lt;br /&gt;    cobalah bertanya kawan, sebelum kita semua buta. kritislah. coba lari dan menjauh dari kemapanan, berniatlah menghancurkannya.  belum terlambat.  masih ada  cukup waktu  untuk  itu  semua. &lt;br /&gt;    memang, pasti ada yang mengkritik, tulisan ini tidak lain dari bentuk kegilaan paling nyata. ketidak-teraturan tulisan, ketidakjelasan dan banyak teka-teki. tapi bukankah budaya kita mengajarkannya?.&lt;br /&gt;    pasti kawan, aku sebagai objek kegilaan. engkau pasti bertanya padaku apakah engkau benar-benar mengalami kegilaan?. oh...tunggu dulu, standar apa dan kriteria apa yang meneguhkan asumsimu bahwa aku mengalami kegilaan. kalian jelas bisa menjawab ini. kegilaanku terlihat dari indikasi tuliasan yang tidak teratur, bahasa yang sedikit nyeleneh dan...membingungkan.  lalu izinkanlah aku  bertanya, kriteria yang engkau pake berasal dari mana?. kedokteran?. psikologinya freud, ato psikologi behavioris. saya berani menyatakan kalian makhluk paling kejam, representatifkah kriteria mu bagi kegilaanku?. hanya ada satu kata, DOMINASI lah yang membuatmu berlaku begitu. coba kalian telaah dengan baik-baik, ternyata pengalaman dan kebiasaanmu mempengaruhi pikiranmu. buktinya karena engkau tidak biasa melihat tulisan seperti ini lalu kau mengklaim ini tuliasan orang gila. (buat yang kusayang)&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-6494073157002972875?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/6494073157002972875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=6494073157002972875' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/6494073157002972875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/6494073157002972875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/03/tanpa-judul.html' title='tanpa judul'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-4253286883568803520</id><published>2008-02-19T04:30:00.000-08:00</published><updated>2008-02-19T04:54:52.675-08:00</updated><title type='text'>sekadar curhat aja</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: lucida grande;"&gt;kemaren, aku kepengen banget buka blog ku, aku kepengen mencurahkan seluruh  unek-unek ku, kemarahanku, namun kemaren aku lagi tak punya duit, kiriman belum kunjung datang juga padahal naluri menulisku lagi gencarnya menyuruhku merangakai kata-kata disini. eh...saat uang dah ada ide yang ingin kutulis kemaren hilang entah kemana. kayaknya ditelan hantu kali. he...he....waktu aku lagi pusing nyari ide yang ilang tadi, aku jadi teringat blog temanku anak UI, kalau ndak salah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"kuncring&lt;/span&gt;" nama blognya. ya udah aku masuk aja. aku salut banget ma dia, pandai merangkai kata-kata menjadi kalimat yang--menurutku--indah banget. terus terang, dengan tidak menafikkan realita yang ada, aku sedikit mengkritik perasaannya, bukan tulisannya. ia terlalu percaya dengan dunia yang penuh dengan kemunafikan ini, ia terlalu berani jatuh cinta. adakah itu cinta?. adakah kasih sayang?. mungkin karena realitas mengajarkanku, maka dengan sangat terpaksa aku mengatakan bahwa cinta itu hanya ilusi yang mesti dilempar jauh keluar cakrawala kehidupan umat manusia. aku coba nulis tanggapan ku di pos cooment sebelah kanan bawah tulisannya, tapi gak bisa masuk. yah.... gak apalah.  ya udah aku nulis aja tanggapanku itu di blogku sendiri, siapa tahu dia membacanya. moga  aja aja ada keajaiban datang, ia tiba-tiba masuk di blogku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: webdings;"&gt;wah...lage jatuh cinta ya mba'. indah  banget tuh kata-katanya, sampe-sampe saya sendiri gak sadar bahwa itu adalah kalimat yang nyata ada. salut deh, indah banget!. oya...aku sendiri cuma kagum ma kata-katanya, kalimatnya, bukan pada hal tersembunyi dibalik kalimat indahnya, aku tak pernah percaya bahwa cinta itu benar-benar ada, cinta adalah bentuk paling indah dari nafsu kelamin. cinta murni gak ada di dunia, yang dipenuhi dengan kemunafikan dan penghianatan, ia hanya ada di langit, cinta murni itu ilusi, omong kosong. orang yang berbicara tentang cinta hanyalah sekumpulan komunitas makhluk buas yang ingin berkuasa terhadap orang lain. wallahualam...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-4253286883568803520?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/4253286883568803520/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=4253286883568803520' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/4253286883568803520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/4253286883568803520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/02/sekadar-curhat-aja.html' title='sekadar curhat aja'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-181268621845141072</id><published>2008-02-05T20:56:00.000-08:00</published><updated>2008-02-05T21:15:12.842-08:00</updated><title type='text'>dalam kekosongan</title><content type='html'>esok hari kamis tanggal 7 ferbruari 2008 yang berarti tahun baru telah berjalan satu bulan tujuh hari, umurku makin tua namun perjuangan mencari makna hidup belum-belum menunjukkan kejelasan, semakin lama makin absurd rasanya. selalu berada dalam kekosongan. semakin aku berjuang, semakin pula aku merasa kesepian dengan diriku sendiri, aku merasa orang lain mulai menjauhiku. ah...ingin ku lari dari segala rutinitas hidup ini, lari dari segala kemunafikan dan penghianatan yang mengejarku ibarat hantu-hantu. realitas hidup menjadikanku sadar "mengutip bahasanya nietsche", bahwa didunia ini tidak ada cinta dan moralitas yang ada hanya kepentingan. paling tidak hal itu yang ku lihat hari ini. orang-orang berlalu lalang, sibuk berjuang namun tidak pernah benar-benar tulus, selalu ada kepentingan yang bermain.&lt;br /&gt;ah... agaknya aku harus belajar sekarang menerima realitas. mulai mencoba mencinta kepada kesendirian, kemunafikan dan penghianatan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-181268621845141072?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/181268621845141072/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=181268621845141072' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/181268621845141072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/181268621845141072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2008/02/dalam-kekosongan.html' title='dalam kekosongan'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-8337312735026886014</id><published>2007-12-03T08:54:00.000-08:00</published><updated>2007-12-04T08:58:18.396-08:00</updated><title type='text'>Dalam Ketidakwarasan</title><content type='html'>Pernah gak sih mereka bertanya tentang kehadiranku disini, kehadiran yang bukan pilihanku ?, pernahkah kalian bertanya masih adakah segelintir motif kehidupan tertanam dibenakku?. Apa pentingnya berkoar lewat kata-kata, semua orang tidak butuh banyak omong, toh kehadiran kita tidak dibutuhkan kawan dan emang kita tidak membutuhkan, butuh kaki panjang untuk melangkah, kau tahu? Kakimu sepanjang jengkal! Hanya dua puluh senti. Perjalanannya terlalu jauh, nirwana terlalu abstrak Hanya kegilaan yang berani melangkah, langkah kecil.tak bisa di andalkan. Omong kosong! Kamu tidak waras men!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enggak terlalu berlebihan kalau esok adalah ketersiksaan tanpa batas Keberadaanku tidak lebih dari mimpi buruk, sementara ancaman siksaan terdengar dimana-mana di surau, gereja, pure, bahkan di kampus, lalu kenapa Tuhan berani menyalahkan dan menyiksa aku? Siapa yang butuh berada disini?. Kau atau aku oh...Tuhan ku. Pernahkah aku memohon padamu agar DiKau meng-ada-kan aku? Kalau emang kehadiranku karena Engkau menginginkannya, lalu kenapa aku dibuat tersiksa?. Kenapa mesti esok harus absurd? Kenapa mesti pilihanku harus kau yang menentukan? Kenapa mesti ada neraka?. Adakah makhluk yang bisa mengetahui dengan pasti pilihannya adalah yang terbaik untuknya?. Semua ini permainan Tuhan? Betul ia sedang bermain dadu.. Mampukah otakku memberi jawaban pasti terhadap teka-teki Mu?. Adakah kebenaran objektif bagi diriku?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalanku berliku, tak bisa ditebak apalagi membuat kepastian atasnya, murabbi ku mengatakan berharap kepastian hidup cuma mengindikasikan kegilaan. Pengalaman demi pengalaman aku lalui justeru semakin mengukuhkan pandangan ku, hidup tidak lebih dari ketidak-pastian yang menipu. Sementara anjing-anjing kehidupan gencar berkotbah menebar benih-benih nafsu setaniah lewat pemuasan hasrat sesaat. Ia lihai menjelma menjadi malaikat israil dengan tampilan senyuman surgawi berbingkai kebusukan. Manusia yang tidak memiliki kearifan harus rela tergusur dari kancah permainan sandiwara. Untuk hidup perlu kearifan, kearifan yang tidak kaku, dunia haruslah pragmatis, pandai-pandai memanfaatkan situasi, cerdas mengadu domba, lihai menjatuhkan kawan apalagi musuh. Kebijaksanaan seperti itulah yang kita perlukan. Apalagi kita, makhluk yang di buat lemah lewat pamflet-pamflet pengajian ataupun acara sembahyang. Kelemahan kita berakar budaya, budaya yang diciptakan segelintir orang yang gila kekuasaan dan jabatan. Ya..penyakit sadisme melanda, namun pernahkah kita menanyakan semua ini. Sampailah pada keadaan sekarang, semua orang asik bercanda dipelataran mall megah, di kamar kost yang menawarkan kenikmatan tiada tara. Siapa yang salah?.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hegel sekonyong-konyong datang, menghampiriku menawarkan secercah optimisme bahwa aku akan mampu dan menjawab semua kegelisahan ku lewat rasionalitas. Kau hanya bermimpi, rasionalitas yang bertumpu pada dialektika sejarah merupakan kaki kecil. Gak mampu berjalan jauh, engkau tidak realistis?. Optimisme mu kebalikannya bagiku, optimismemu adalah pesimisme bagiku. Tak apalah aku menjadi kaum-kaum yang tidak waras. Toh ketidak-warasanku lebih realistis dari kewarasanmu. Pesimisme ku dekat denganku, tuh di ujung jariku. Menanggapinya.  Lalu siapa yang benar? Aku dengan segala kegilaanku atau kau dengan mimpi mu menginjakkan kaki ke bulan dengan kaki kecilmu?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku gak pernah menyangkal keberadaan bulan, tak pernah me-negasi-kan keberadaan yang absolut, tapi yang aku tidak terima adalah optimisme mu akan kemampuanmu menjangkau yang absolut. Bisa gak seh yang gak absolut menjangkau yang tidak absolut?. Apakah dialektika mu punya ujung, apalagi pengalaman cinta ku dengan wanita menyurutkanku. Adalah sisi seorang wanita keturunan yang membukakan mata hatiku akan kesalahan Hegel. Pengetahuan ku mengenai tabiat sisi do’i ku tidak pernah bersifat final, ia diperbaharui dan dilengkapi oleh pengetahuanku mengenainya di waktu-waktu mendatang, sisi yang dahulu kuanggap pendiam, sabaran, pintar ternyata ia merupakan tipe cewek tempramen, banyak omong, pokoknya sangat bertolak belakang dengan sisi pada waktu baru kenal. Penilaian seperti itu dulu, dikala aku dan sisi belum begitu saling kenal tapi sekarang pengetahuanku tentangf sisi kembali seperti saat semula aku mengenalnya. Dan mana batasnya, aku hampir berpikiran persepsiku tentangnya pertama kali tidak akan berubah selamanya. Mana buktinya, kalau pun punya batas kapan aku bisa menjangkaunya?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya kita menyadari kita ini sintesis yang mewaktu dan abadi, kita adalah pengada dalam waktu, temporal, yang sekaligus mendambakan keabadian. Pernahkah kita berpikir?. Coba saja adakah makna dibalik Indeks Prestasi andaikata si Sam ayahku gak ada, atau paling pop nya do’i ku gak ada? Hidup baru memiliki makna apabila ia dirangkai dalam satu kesatuan yang utuh, ya..itulah keabadiannya kierkegaard. Kita adalah pengada yang mewaktu sekaligus juga mendambakan keabadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat, hari itu aku ikut basic training gak usahlah aku sebut nama organisasi itu. Aku di ceramahi, pemateri basic yang sok ke-ateis mendefinisikan kebenaran yang kebetulan jadi tema materi yang ia bawakan, kebenaran ujarnya adalah keselarasan antara ’ada’ dan ’apa yang dipikirkan’. Kalau aku melihat sisi dan langsung memikirkan gagasan mengenai sisi yang besar pantatnya kayak gitar spanyol dengan mulut lebar mirip petinju mike tyson lalu pinggang lebar seperti...? gak usahlah, bukan kapasitas ku mengejek nya disini. Dalam hal ini saya dikatakan memiliki kebenaran karena ada keselarasan antara apa yang saya pikirkan dengan objek yang saya lihat. Wah aku kemudian teringat bukunya Kierkegaard, di buku yang aku baca kok berbeda dengan apa yang aku dapat kan?. Identitas antara pemikiran dan (peng-)ada atau pandangan pengetahuan kita secara akurat mencerminkan realitas yang kita alami, seperti definisi diatas adalah ilusi., karena apa yang dipikirkan (sisi dengan pantatnya yang besar) bukanlah ada aktual, melainkan ada yang dipikirkan. Ketika sedang di pikirkan , ada berubah menjadi kemungkinan dan konsep ideal, karena telah dirampas atau di abstaraksi dari aktualitasnya yang terikat erat deangan partikularitasnya yang konkret. (kirkegaard;dalam pergulatan menjadi diri sendiri. Thomas hadi tjahya)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uh...kalau pilihan ku dan atau pilihan nya benar-benar merupakan pilihan yang benar, sungguh tenang rasanya hidup ini. Tapi bagaimana kalau pilihan nya salah? adakah rasionalis bagi pilihan ku mengenai keber-BEM-an ku hari ini? Benerkah rasio hanya mampu sampai pada tahap mempertimbangkan pilihan?. Kalau begitu bila aku harus memilih keluar dari rutinitas keber-BEM-an ku, apa itu pilihan yang tepat?. Andaikan pilihannya tepat, apakah lingkungan mendukung? Tidakkah harkat dan martabat yang dipertaruhkan (menurut sebagian orang) apa sikapku? Apa aku mesti menjelaskan dan mengajukan pertanyaan kepada mereka? Biar mereka paham. Perlukah orang lain paham? ada dan inheren kah dalam setiap manusia harkat dan martabat atau ia hanya produk budaya yang tak mesti dihiraukan.&lt;br /&gt;Yang paling penting saat ini bukan harkat, martabat tapi kompetensi, kapasitas dan penguasaan bidang bidang ke-ilmu-an yang kita pilih. Kalau BEM tidak bisa memberikan apa yang menjadi motif, lalu apa yang membuat kita semua mempertahankan BEM?. Mending BEM di bubarkan aja, buat Musawarah Besar Luar Biasa yang khusus mengandekan pembubaran BEM. Toh keberadaan BEM saat ini tidak berarti lagi bagi kita, pemilik kebijakan tertinggi. Buktinya berapa orang yang respek dengan BEM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ketidakwarasan aku berseru, dekontruksi BEM, hancurkan, luluhkan kemudian bangun kembali dari nol. Dengan begitu BEM lepas dari parasit yang membuatnya mandek. Mahasiswa menemukan spirit baru, BEM tidak ketinggalan zaman lagi, ia pasti hadir dengan muka bersinar menantang zaman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-8337312735026886014?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/8337312735026886014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=8337312735026886014' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/8337312735026886014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/8337312735026886014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2007/12/dalam-ketidakwarasan.html' title='Dalam Ketidakwarasan'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-1945841005499498469</id><published>2007-11-25T09:02:00.000-08:00</published><updated>2007-12-04T09:04:13.941-08:00</updated><title type='text'>PENDIDIKAN DAN KESEHATAN GRATIS; SESUATU YANG UTOPIS-KAH?</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(ia akan menjadi utopis tanpa pengawalan dan komitmen mahasiswa)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir dipastikan bahwa pada pilkada sul-sel kali ini yang menjadi gubernur terpilih adalah “kalau tidak salah ingat” calon yang menjanjikan pendidikan dan kesehatan gratis, siapa lagi kalau bukan Syahrul Yasin Limpo-Arifin Nu’mang (SAYANG). Adalah hal yang menggembirakan bagi kita semua, khususnya masyarakat Sulawesi Selatan yang telah lama merindukan pemimpin yang bisa berpihak kepada rakyat, bukan malah sebaliknya. Mimpi para pendahulu kita akan terciptanya masyarakat adil dan makmur kini di ujung mata, meskipun janji-janji saat kampanye masih di sanksikan. Namun, sebagai manusia yang punya pikiran positif, hal ini meski kita dukung dan memberikan motivasi agar programnya dapat berjalan maksimal. Tapi kita juga jangan terlalu cepat terlena dengan janji-janji, kita mesti mengawal itu agar terjadi kesesuaian antara apa yang di ucapkan dan di lakukan sejalan, sehingga kepercayaan masyarakat dapat di raih kembali. Itulah tugas kita sebagai mahasiswa, mengawal jalannya pemerintahan yang berkeadilan social.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kita sendiri, sebagai realitas yang merdeka dari segala kepentingan-kepentingan yang menyengsarakan rakyat harus bisa mendesain satu gerakan kuat agar kita tidak dilihat sebagai elemen masyarakat yang dianggap sepele. Wibawa dan kekuatan hanya bisa kita raih dengan desain gerakan dan persatuan mahasiswa.  Sudah saatnya kita berubah, bangun dari kemandekan gerakan agar kita bisa mewujudkan tri dharma perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berbicara mengenai desain gerakan mahasiswa ke depan, agaknya kita sebaiknya bercermin pada diri kita sendiri melihat realitas yang terjadi. Dekapasitasi, dekompetensi mahasiswa sungguh merupakan polemic yang crusial, dis-orientasi mahasiswa terhadap bidang keilmuan yang sedang digelutinya cukup mempengaruhinya. Saat ini misalnya, mahasiswa kesehatan lebih cenderung suka menggeluti filsafat dan bidang keilmuan umum lainnya ketimbang bidang nya, seberapa banyak mahasiswa kesehatan yang kalau indikatornya adalah penelitian, berapa yang aktif melakukan kegiatan penelitian, atau jangan yang terlalu berat, tulisan saja, seberapa banyak mahasiswa yang produktif menulis serta intens mempropaganda pemerintah untuk lebih serius melakukan pengembangan dibidang kesehatan?. Ini semua menjadi pertanyaan besar untuk kita kaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang disini saya tidak berpretensi menjustice dan menganggap remeh mahasiswa yang suka belajar filsafat dan pengetahuan umum lainnya tapi lebih kepada mengingatkan supaya tidak lupa akan tugas utama kita berada di sini, saya mengakui dengan berfilsafat kita lebih memahami ilmu kita lebih mendalam, sebab filsafat induk segala ilmu. Namun, benarkah realitas sekarang mahasiswa kesehatan patut di andalkan?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira perlu kajian yang mendalam menyangkut hal ini, agaknya saya setuju dengan pernyataan Prof. dr Razak Thaha dalam salah satu presentasinya saat seminar nasional dies-natalies FKM Unhas beberapa waktu silam. Ia mengkritik sikap mahasiswa khususnya kesehatan masyarakat yang terlalu banyak menuntut tapi tidak pernah bercermin, berteriak keras menuntut keadilan struktural meski kompetensi dan kapasitas masih di pertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada pembahasan awal, apakah dengan tidak adanya kompetensi, kapasitas kita mampu mengawal kebijakan SAYANG?. Boro-boro mau mengawal orang lain, tau tentang kesehatan saja masih jadi pertanyaan besar. Gimana caranya kita melakukan advokasi sementara kita belum menguasai cara-cara berkomunikasi yang efektif. Dan banyak hal lainnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-1945841005499498469?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/1945841005499498469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=1945841005499498469' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/1945841005499498469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/1945841005499498469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2007/11/pendidikan-dan-kesehatan-gratis-sesuatu.html' title='PENDIDIKAN DAN KESEHATAN GRATIS; SESUATU YANG UTOPIS-KAH?'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1808098259378118060.post-7947561894974156157</id><published>2007-11-25T09:00:00.000-08:00</published><updated>2007-12-04T09:02:30.357-08:00</updated><title type='text'>PEMERINTAH vs MASYARAKAT</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(BUKTI NYATA KOMITMEN PEMERINTAH DALAM MENINGKATKAN DERAJAT KESEHATAN  MENUJU SUL-SEL SEHAT 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Menilik upaya pembangunan yang dilakukan pemerintah khususnya dibidang kesehatan saat ini ternyata masih jauh dari yang kita harapkan, meskipun terjadi peningkatan yang cukup signifikan ditandai dengan menurunnya angka kematian bayi (AKB) dari 46 (SDKI 1997) menjadi 35 per 1.000 kelahiran hidup (SDKI 2002-2003), dan angka kematian ibu melahirkan (AKI) dari 334 (SDKI 1997) menjadi 307 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2002-2003). Umur harapan hidup (UHH) dalam beberapa dekade terakhir cenderung meningkat dari 41 tahun pada (1960) menjadi 66,2 tahun (susenas 2003). Peningkatan tersebut kalau kita membandingkan dengan Negara-negara tetangga, maka angka tersebut masih belum menggembirakan. AKB, AKI dan UHH tersebut meningkat namun masih terdapat ketimpangan, khususnya kawasan Indonesia timur dan penduduk dengan strata ekonomi dan pendidikan rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini kasus gizi buruk masih menjadi sesuatu yang memprihatinkan, lemahnya sistem kewaspadaan pangan dan gizi, serta menurunnya perhatian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembiayaan kesehatan per kapita di Indonesia masih berada di peringkat terendah bila dibandingkan dengan Negara-negara ASEAN lainnya. Selama sepuluh tahun terakhir, rata-rata pembiayaan kesehatan sebesar 2,21% dari PDB. Meski terjadi peningkatan setiap tahunnya, namun masih jauh dari anjuran WHO, yakni minimal 5% dari PDB. Rata-rata pembiayaan kesehatan di daerah, baru mencapai 9% dari APBD pada tahun 2001 dan 3-4% dari APBD pada tahun 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pertanyaannya apakah pemerintah betul-betul berkomitmen dalam mengawal dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat? Selama ini cukup bukti yang menunjukkan pemerintah tidak mempunyai i’tikad baik, hal ini bisa kita lihat fakta yang terjadi di masyarakat kita sekarang. Setiap tahun Indonesia menjadi langganan penyakit-penyakit menular, tidak menular dan beberapa penyakit degeneratif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan tidak akan serumit ini apabila pemerintah serius menanganinya. Ini kemudian diperparah lagi dengan kebijakan pemerintah yang lebih mengutamakan penanganan yang bersifat kuratif ketimbang preventif. Padahal kegiatan preventif merupakan tonggak utama yang menentukan derajat kesehatan suatu bangsa, dengan tidak menafikkan hal yang bersifat kuratif.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang menjadi sesuatu yang krusial apabila program kerja pemerintah tidak datang dari hati nurani untuk mensejahterakan masyarakat, sehingga program kerja yang di tawarkan pemerintah hanya terkesan prosedural semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau kita berbicara mengenai konteks sul-sel apalagi dengan terpilihnya gubernur yang baru, besar harapan masyarakat pemerintahan yang baru tersebut dapat membawa angin segar bagi perkembangan masyarakat ke depan khususnya tentang kesehatan. Diharapkan kedepan pemerintah tidak hanya obral janji semata, tapi bisa membuktikan itu dengan perbuatan riil di masyarakat. Sehingga pemerintah dapat mendapatkan kembali kepercayaan dari masyarakat, sehingga terjalin hubungan harmonis pemerintah dengan masyarakat yang berimbas pada lancarnya pelaksanaan program-program pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi itu semua, kami sebagai bagian dari masyarakat yang punya fungsi dan tanggung jawab dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang termaktub dalam tiga fungsi mahasiswa, agent of a change, social control dan moral force. Kami sebagai mahasiswa mempunyai tanggung-jawab moral untuk mengawal kebijakan pemerintah agar berpihak kepada rakyat bukan berpihak kepada pemodal-pemodal yang menyengsarakan rakyat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1808098259378118060-7947561894974156157?l=ncuhiadu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/feeds/7947561894974156157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1808098259378118060&amp;postID=7947561894974156157' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/7947561894974156157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1808098259378118060/posts/default/7947561894974156157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ncuhiadu.blogspot.com/2007/11/pemerintah-vs-masyarakat.html' title='PEMERINTAH vs MASYARAKAT'/><author><name>Muhammad Syukri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04538112948463181714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
