Selasa, 27 Desember 2011
---Tentang Kepala Yang Sakit---
Tiga hari baru saja berlalu, saat mengantarnya pulang dari kampus. Pada waktu itu, ia di daulat jadi asisten bagi mahasiswa FKM asal Gorontalo yang datang praktek di laboratorium bersama FKM Unhas. Sebelum berangkat ke kampus, ia memberi tahu saya lewat sms kalau keadaannya lagi kurang fit. Ia mengalami sakit kepala dan sedikit mual. Awalnya saya menganggapnya sakit biasa, dan tak jadi soal. Dan dia pun menganggap demikian. Ia memaksakan diri berangkat ke kampus, sebelumnya terlebih dahulu ia singgah di tempat kerjanya. Di Rumah Sakit Pendidikan Unhas.
Ada cerita lucu ketika dia singgah. Ia ditegur atasannya karena memakai celana jeans. Dia sms ke saya “ Sayang, ditegur ka karena make celana jeans ke kantor.” Membaca sms itu, saya hanya bisa tersenyum geli. Saya tak bisa membayangkan mukanya pada saat di tegur. Pasti lucu. Ato malah sebaliknya, menyeramkan. Saya tahu, pasti dia sangat malu ditegur meski itu hanya teguran sepele. Tokh memang tujuan awal dia mau ke kampus, bukan ke kantor. Bagi saya, itu taka pa. Saya memberi tahunya lewat sms agar tak usah memikirkan soal tadi. Angap aja itu hal speele, keluar telinga kanan masuk telinga kiri.
Belum lupa saya akan kejadian tadi, di hp tiba2 berdering. Saya membacanyta. Saya melihat ada sms dia. Dia bilang kalau keplanya tambah sakit, ia juga sempat muntah. Dia meminta antuan saya untuk membelikan obat pereda nyeri. Tapi saya tak membelikannya, saya justru membelikannya obat maagh. Saya piker mungkin dia maag, makanya muntah. Saya membelikan juga susu, mungkin tadi pagi dia belum makan.
Di kampus saya menemuinya di lt.3, saya lihat mukanya sedikit pucat. Kasian dia. Padahal sehrusnya hari ini dia sehat, dia harus sehat agar bisa bisa menuntun praktikan dengan lebih baik. Tapi sayang, Tuhan mungkin terllau menyanyaginya. Saya meberikan obar dan susu yang saya bwa. Dia bertanya, kok obat maag? Saya bilang, tadi saya naya sama apotekernya kalau sakit kepa gak ciocok minum obat pereda nyeri. Dia mengeti juga rupanya. Dia kemudian msuk kembali tanpa lupa bilang terimaksih. Kata terimaksh dari mulutnya paling syaa benci. Seolah-olah apa yang saya lakukan membutuhkan pamrih. Saya tahu, pada saat saya menyatakan suka padanya, pada saat itu pula kewajibab menjanya melekat. Saya berjannji untuk menjaganya, dalam suka maupun duka. Meski saya tahu, saya belum bisa menjaganya secra ituh. Ada wilayah-wilayah yang tak bisa saya langgar. Kami belum resmi secara syah menjadi sebuah pasangan. Kami belm legal sebagi sebuah suami istri. Saya coba membatasi diri.
Sememtara dia melanjutkja kegiatanya, saya turun menuju perpustkaan. Sambil menunggu, siapa tahu dia ambah parah. Kalau saja tambah parah, saya kan memintanya pulang dan minta dia izin keatsannya. Saya takut dia apa-apa. Saya menunggu dengan was-was. Belum cukup 1 jam saya di perpust, dia membritahu say lewat sms klaau dia mutah lagi. Dia meminta sya ke atas, dan seklaigus mengantar pulang. Dia sudah tak tahan sakitnya. Saya buru-buru menuju lantai 3. Menemuinya. Tapi tak saya lihat. Agaknya dia masih di dalam. Say meng-sms dia agar keluar. Tapi sms nya tertunda. Jaringan lagi error. Beberapa menit kemudian, alya, teman nya yang juga teman saya, menelpon saya gar datang menjempunya di lt.3. saya bilang saya ada di lt.3. beberpa detik kelmudian saya melihat dia di depoan pintu,dengan muka yang snagat pucat. Saya menghampirinya. Dan bilang supaya dia siap-iap untuk pulang saja. Dia msuk sebentar mengambil tasnya. Dan kemi sama-sam turun dari lantai 3. Waktu itu, saya ingin seklai emmapahnya, tapi saya tak berani terllau jauh, tak enak nnati kalau da orang lain atau siapa yang melihat. Nanti bisa menimbulkan fitnah. Saya tak mau itu.
Saya mengantar di apulang dengan motor butut, motor kesayangan ku. Di tengah jalan, dia menyandarkan kepal anya pada bahu ku. Saya kasian dia. Agaknya kepalnya sakit sekali. Mukanya tambah pucat. Kami lmelewati jalan tanpa helm. Dan diseberang jalan ada polisi. Dengan sok saya menatap polisi itu, dan dia terlihat was-was, kalau saja polisi itu mengejar. Tapi saya ingatkan kalau tak usah khwatir. Saya kebal polisi, kataku menenangkan.
Kami ampai di rumahnya. Sebelum turun, saya mewanti dia agar lekas makan dan langsung tidur. Sgaknya dia capek. Sousinya ya iistrahat. Hanya itu cara paling jitu. Di jalan, saya was-was kalau terjadi apa2 dengan dia, say takut kehilangan dia. Saya tahu, saya mencintainya melebihi diriku. Say merindukannya bahkan dihampir tiap perpindahan jarum detik jam. Saya tak tahu, apa bisa kau hidup tanpamya. Aku merindukannya.
Siang itu dia istrahat. Saya meg sms dia pada sore hari. Mennayakan tentang sakitnya. Alhamdulilah sudah cukup sehat, dan tak terllau sakit. Say amnegucap syukur pada tuhan, karena telah menyembuhkannya hari itu. Terimakasih Tuhan, kalu telah menyembuh kannya. Begitulah sekelumit cerita kami tentang kepal yang sakit.
---Fajar Itu Disana, Di Sudut Bola Matamu---
“Kami menjalaninya dengan resmi pada suatu malam yang panjang, di sebuah café, Makassar Town Square. Saya merasa, malam itu awal dari sejarah yang akan kami ukir, minggu 10 Desember 2011 pukul 20.00 Wita.”
Sore hari, seperti biasa, ada deringan nada getar dari Hp butut merek Nokia N1200 yang saya simpan tergeletak di atas tempat tidur kusam. Saya belum lagi bangun dari pembaringan. Dua minggu belakangan ini segala aktivitas hancur berantakan. Entah kenapa, semenjak kehadiran dia, aku tak bisa menjalani semuanya dengan benar. Semua daya pikiran terfokus padanya. Padahal saya belum memilki hubungan apa-apa denganya.
Saya dengan mata sedikit terpejam, membuka sms itu dan terkaget saat melihat dia mengajak saya keluar. Saya seketika terbangun dari tempat tidur, pergi ke kamar kecil sekaligus mencuci muka. Saya buru-buru kembali ke kamar dan meraih hp di atas meja. Saya membuka kembali sms tadi, siapa tahu salah baca, atau tadi saya lagi ngigo. Berkali-kali saya buka itu sms, hasil nya tetap sama, yang terbaca “Malam minggu keluar yuk, ke Popsa.”
Saya sebenarnya sudah tak ingin berhubungan dengannya, cukup saja persoalan 2 minggu lalu membuat saya kapok. Ya, waktu itu saya memutuskan untuk tidak “mengejarnya” lagi, lantaran dia menolak meresmikan hubungan menjadi sebuah ikatan resmi bernama pacaran. Saya berpikir, itu semacam cara paling halus dari sebuah penolakan. Saya paham itu, sangat paham.
Dengan hati yang agak berat, saya mengatakan “ya’. Saya berpikir, tak ada salahnya saya menemaninya, tokh mungkin ini cara saya melupakannya dengan tak lari darinya. Saya tahu, semakin saya melupakan dia, semakin sadar, perasaaan ini tambah besar. Rindu saya bertambah. Ini rindu terlarang bukan? Tapi persetan, saya siap mencintainya dalam diam, mencintainya dengan kesendirian. Mencintai kan tokh tak harus memiliki? Cinta itu adalah bagaimana cara kita merelakan semuanya, berjalan sesuai kenyataan.
Jeda antara dia sms dengan waktu pertemuannya adalah dua hari. Jeda waktu itu, saya berpikir keras, pergi tidak ya? Pergi berarti siap mengingat kembali dan membuat rasa ini makin menggebu. Tidak berarti lari dari kenyataan. Semua serba rumit.
Saya menjemputnya dengan persiapan ‘matang’, dengan celana yang masih basah. Sudah tiga hari ini hujan terus, celana itu saya cuci kemarin, saya berpikir, celana ini akan kering tepat saat saya akan berangkat. Tapi ternyata kenyataan berkata lain. Celana itu masih basah, serius, masih basah. Meski begitu, kretivitas tak lantas hilang, saya mengambil jalan pintas, dengan menyetrikanya. Tapi mungkin dasar lagi apes, listrik lagi tak bersahabat. Tenaga listrik tak bisa menghanagtkan setrika, tegangan seharian itu lagi turun. Bayangkan saja, bagaimana paniknya saya. Saya tak boleh tampil seadanya. Saya harus tampil perfek, paling tidak saya berusaha. Berusaha membuat dia terpikat. Itulah cara pecinta yang naïf belajar bagaiamana menghargai perasaan dan kata hati.
Sore itu saya menjemput di rumahnya, tepat setelah kami sholat magrib. Dengan keyakinan penuh meluncur menuju rumahnya. Sesampainya disana, saya sms dia kalau udah nyampe. Dia keluar dengan, seperti biasa, senyuman yang selalu membuat saya mati kutu. Saya suka mengatakan itu sebagai seyuman maut. Senyuman mematikan, sebab apalagi bertingkah, berkutik saja hati saya sudah tak mampu.
Sebelum berangkat, saya disuruh masuk, orang tuanya mau kenal saya. Saya memang pernah bilang, “kamu kasi kenal saya ma ortu mu dong.” Biar saya enak bawa kamu pergi keluar. Tapi apa yang terjadi, saya kaget minta ampun, dia mirip mama saya. Atau itu hanya halusinasi … ya sudah, lewat aja.
Kami tak jadi ke tempat tujuan awal, sebab sore itu lagi hujan rintik, kami kemuadian memutuskan menuju Makassar Town Square (Mtos), kami sepakat datang nonton aja malam itu. Tapi sesampainya di studio, kami tak jadi nonton, waktu itu, dari list film yang ada, tak ada film yang membuat kami sepakat untuk menontomnya. Filmnya tak ada yang berkualitas. Semua film tentang pocong dan hal turunannya. Pokoknya tak ada! Titik!
Kami keluar dari studio, menuju toko buku yang ada disebalah, kami keliling mencari judul buku yang berkualitas. Tapi kami tak menemukannya. Ditempat itu, kami bercerita, dan saya agaknya merasakan hal lain, dia memegang dan sedikit manja. Saya awalnya menganggap itu sebagai hal biasa. Ya sudah, kami terus keliling sambil bercerita tentag suatu hal, tentang filsafat lah, tentang cinta, agama.
Sekira 40 menit kami berjalan disitu, kami memutuskan untuk turun ke lantai satu. Saya mengajak dia untuk jalan-jalan di luar saja, entah itu balapan dijalan melepas penat, ke pantai, atau kemana aja. Tapi ternyata langit sedang tak bersahabat, hujan masih rintik. Kami kemudian memutuskan naik ke atas, ke lantai tiga, menuju kafe. Dia bilang, ingin bercerita tentang suatu hal yang serius. Saya waktu itu, tahu apa yang akan dibicarakan. Tapi saya harus bersikap ‘kalem’. Tokh saya sudah janji tak akan memaksanya lagi untuk meresmikan hubungan. Saya tak ingin jadi lelaki egois dan arogan. Saya cukup satu kali diberi tahu.
Tapi dia mengawalinya sendiri. ‘Bagaimana kalau kita resmikan.”. maksudnya? Saya kemudian menjawab dengan sedikit pura-pura ‘bego’. Ada banyak hal yang kami bahas di tempat itu, termasuk mendengar curhatnya yang gak penting, gak penting karena bikin saya jadi gak enak hati alias jeales.
Tapi saya mau juga mendengarnya. Tak apa. Ini konsekuensi. Kami banyak bercerita, termasuk soal bagaimana hubungan kami ke depan, tiga bulan lagi saya harus pergi jauh, mengejar cita yang sempat tertunda. Setelah semua kami bahas, kami pun bersepakat mendeklarasikan hari itu sebagai hari jadian kami. Tanggal 10 Desember 2011 pukul 20.00 Wita. Itulah awal dari sejarah itu, sejarah yang akan terukir kelak. Saya sangat bahagia. Tak tahu, masih adakah hal di dunia yang membuat saya bahagia setelah malam itu. Wallahualam.
Tapi ada satu hal yang saya tangkap dari dia, ada keraguan d matanya. Pada secercah kalimat yang dia utarakan, tersembunyi keraguan yang menggunung. Saya maklumi, saya orang jauh. Bahkan lebih jauh dari yang diperkirakan. Sebab meskipun kami telah kenal sudah hampir enam tahun, tapi saya baru benar-benar mengenalnya 2 bulan belakangan ini saja. Saya menganggap keraguan itu merupakan hal wajar. Tinggal ke depan, saya mesti membuktikan kalau saya bisa dia percaya. Titik!
Malam itu, saya menjalani dengan indah, tak tahu dia, apakah mengalami hal yang sama. Semua masih misteri bagi saya. Saya juga malu menanyakannya.
Tapi ada satu hal yang perlu dia tahu, bahwa bagaimana pun, anugrah cinta yang Tuhan titipkan akan saya jaga dengan baik. Saya kan memupuknya, terus merawatnya hingga menjadi besar, seperti pohon-pohon di hutan Amazon sana. Saya berjanji pada diri untuk menghargai rasa yang dia simpan pada sudut kamar hati ku. Saya mencintainya dengan tulus, ingin memilikinya dengan pretensi tapi saya paham, semua itu harus dijalani dengan perlahan.
Semua itu mesti dijalani dengan hati-hati, sebab didepan ada banyak kerikil tajam menghadang. Saya bilang padanya, kita mesti saling menguatkan kalau hubungan kita mau langgeng. Hanya itu cara saya untuk mengingatkannya. Saya yakin, pada suatu titik kenangan itu, pada sebuah perjalanan panjang nan melelahkan. Saya yakin pada fajar disana, di sudut bola matanya yang jujur, tujuan itu bersembunyi dengan lugunya, ya, pada dirimulah saya akan datang kelak, mencuri kembali hartaku yang telah kau rampas. Sayang, maukah kau menjadi istriku?
Kamis, 02 Juni 2011
Membincang Kembali Teori Evolusi
Waktu itu, Darwin baru berumur dua puluh dua tahun. Darwin berangkat berlayar diatas kapal H.M.S Beagle tahun 1831. Lima tahun Darwin mengarungi dunia, dua pertiga waktunya dihabiskan di darat. Ia menyusuri pantai Amerika Selatan, menyelidiki pulau Galapagos dan menembus pulau-pulau Pasifik, samudra Hindia hingga selatan Samudra Atlantik. Dan kita tercengang: ‘pemalas’ ini berhasil mengguncang dunia.
Selama berlayar, Darwin membaca buku Charles Lyell, Princip of Geology. Buku itu berisi penjelasan penampilan geologis sebagai akibat proses bertahap selama proses yang panjang. Selama perjalanan, ia banyak menyaksikan keajaiban alam. Ia mengunjungi suku-suku primitif, menemukan fosil-fosil, meneliti tumbuhan dan juga binatang. Buku itu sangat membantunya, hingga suatu saat ketika ia mengirim surat ke keluarganya, “saya menyaksikan tanah-tanah seolah-olah saya mempunyai mata Lyell.”
Ia mencatat secara rinci dan panjang atas apa yang dilihat dan dialaminya dalam perjalanan. Berkat “kegemarannya” menulis itulah yang membuatnya kelak mendapat gelar naturalis sejati. Dan tulisan itulah yang membuatnya menjadi teoritis terkemuka dunia. Tulisan itu pula yang kedepannya menjadi kontroversial bagi agamawan, ilmuawan, dll. Darwin berkesimpulan, manusia itu berasal dari kera. Ia menamakan teori barunya sebagai teori evolusi.
Seabad lebih telah berlalu semenjak kontroversi itu pecah, di Ankara Turki lahirlah seorang penulis bernama Adnan Oktar. Pemuda yang taat beragama ini memiliki nama pena Harun Yahya kelak menjadi antitesa bagi pemikiran Darwin. Harun terbukti getol membantah teori evolusi Darwin. Sama seperti Darwin, walaupun tak memiliki latar sebagai ahli Biologi, berkat kegemarannya membaca ia akhirnya berhasil menerbitkan buku-buku yang menentang teori evolusi. Karya-karyanya disambut hangat pembaca dari Eropa hingga Indonesia.
Di Universitas Mimar Sinan tempatnya menuntut ilmu, Harun resah ke setiap orang, termasuk mahasiswa dan staf pengajar. Di setiap forum diskusi, di kantin kampus, di koridor-koridor kampus, seseorang dapat melihat Harun sedang menjelaskan kelemahan dan kesalahan teori evolusi. Menurutnya, teori itu dimunculkan oleh kelompok tertentu untuk melawan fakta penciptaan. Dengan menggunakan kedok sains, teori tersebut sebenarnya bertujuan untuk meracuni dan menghancurkan akidah dan akhlaq pemuda. Jika kebohongan ilmiah ini tidak dibongkar, maka akan muncul generasi yang tak memiliki nilai spiritual, moral dan religius.
Dari puluhan buku yang ditulisnya, harus dengan keras mengkritik filsafat materialistik yang menunggangi teori evolusi. Menurutnya, ini adalah agenda tersembunyi—yang belakangan—Harun menyebut kelompok itu sebagai Freemasonry. Kaum Freemason ini memiliki tujuan menghancurkan islam. Tentu harus dicatat, inilah kelemahan terbesar pemikiran Harun. Memulai sesuatu dari stereotype, tentu ini tak dibenarkan. Walaupun Harun dengan susah payah membuktikan kenyataan diatas. Tapi tetap, asumsi itu tak bisa dibenarkan.
Kalau kita amati seluruh buku tentang atheisme kontemporer, memang hampir semua argumen-argumennya bermuara pada Darwinisme, pada teori evolusi, pada teori seleksi alam. Jadi apa yang dicurigakan Harun ada benarnya. Hanya saja, bangunan epistemologis Harun terkesan tendensius.
Begitu mengakarnya Darwinisme, Lutfi Assyaukani pentolan JIL sampai membuat judul makalah yang terdengar profokatif. Bagi umat islam judul itu sangat dekat dengan syahadat. Kira-kira ashadu an laa ilaaha ila Allah ia ganti dengan ashadu an la ilaaha illa Darwin, tidak ada Tuhann selain Darwin. Artinya, tak ada Tuhan selain Darwin.
Di Prancis, jauh sebelum Harun lahir ada seorang ahli bahasa bernama Ferdinand D. Saussure. Ia belakangan disebut-sebut sebagai peletak dasar strukturalisme. Dalam teori strukturalis sebuah kata terdiri dari penanda dan petanda. Penanda adalah aspek material dan petanda adalah aspek mental. Contohnya buah Apel, ketika kita menyebut Apel, Apel (bunyinya) dan Apel (makna yang ada dibenak kita). Lalu apa kaitannya dengan teori evolusi? Begini, saling serang wacana antara kaum agamawan yang menentang teori evolusi dan kaum sekuler yang mendukungnya selama ini tak menemui jalan keluar, bahkan bisa dibilang buntu. Semua pihak saling mengklaim dirinya yang paling benar. Tapi apakah saling klaim itu hal yang benar? Disitulah teori strukturalisme disini layak diketengahkan.
Dalam teori pascastrukturalis, yang ditandai itu menjadi tidak penting karena penanda itu yang bermain. Makna itu lahir dari perbedaan antara penanda. Jadi kalau kita bicara tentang kucing, apa kucing? Kita tidak mendefinisikan satu binatang yang kita juga tidak bisa definisikan. Artinya tidak bisa mendefinisikan kucing, apa definisi kucing? Tidak bisa kan? Karena kucing baru kita mengerti kalau kita bandingkan dengan anjing. Juga soal teori evolusi itu hanya pengertian-pengertian lahir, makna yang lahir dari perbedaan, yang tidak pernah final, yang selalu ditunda makna finalnya. Tidak ada teori yang mutlak benar. Kita harus menyadarinya.
Salah seorang pemikir pascastrukturalis terkemuka, M. Faucault bahkan lebih jauh membuat kesimpulan. Pengetahuan itu berkelit-kelindan dengan kekuasaan, begitupula sebaliknya. Artinya, segala klaim atas kebenaran merupakan efek permainan kuasa. Siapa yang paling berkuasa, dialah yang menang dan dianggap sahih. Begitupula tentang dengan teori evolusi, kita sendiri tak punya otoritas untuk mengklaim teori itu salah? Apakah kita cukup representatif untuk mengklaim kebenaran? Dulu, orang yang mengatakan bumi mengeliling matahari pasti akan dicap gila. Lihat saja Copernikus yang di cap kafir, Descartes yang dibunuh. Tapi belakangan kita mahfum, ternyata pendapat mereka benar. Lalu bagaimana kalau suatu saat teori evolusi terbukti benar?
Kalau semua adalah relatif, dimana kita memposisikan diri dalam menanggapi teori evolusi? Solusi yang paling baik adalah dengan melihat dunia dengan tertawa. Tertawa adalah bagian dari cara kita melihat kebenaran, melihat dunia. Tertawa adalah cara orang melihat kebenaran supaya tak menjadi dogma. Tertawa juga menjungkirbalikkan apa yang telah ada. Intinya, semua memiliki potensi untuk memposisikan diri sebagai benar. Tinggal kita bijak memposisikan diri. Akhirnya semua adalah proses menjadi. Kita hanya bisa melihat teori evolusi sebagai hal yang ironik.
Selama ini kita menyikapi teori evolusi dengan kenak-kanakan. Menurut Richard Rorty, segala sesuatu harus dilihat dari gunanya. Kita mestinya berhenti berbicara tentang konsep atau gagasan yang hanya berputar-putar dengan masalah metafisis-filosofis. Kalau teori evolusi menyebabkan sikap rasialis, yang menggap ras Eropa sebagai makluk sempurna, maka silakan teori itu dienyahkan, titik!
Jumat, 06 Mei 2011
‘Seksualitas menyimpang’ dalam telaah Faucault
Selain video, berita terkait juga di incar masyarakat, baik di media cetak maupun media elektronik. Hal ini bisa dibuktikan dengan meningkatnya rating pemberitaan acara televisi, khususnya infotainment. Indikasi lainnya bisa dilihat dari sepuluh informasi yang paling banyak diakses masyarakat dalam satu bulan terakhir.
Besarnya perhatian masyarakat mengakibatkan sejumlah kalangan angkat bicara. Mulai dari agamawan, sosiolog, dan seksolog. Mereka semua menghujat perilaku tersebut. Seksolog ternama, dr Boyke Dian Nugraha sampai mengatakan Ariel sudah tak waras. Dalam istilah medisnya, skopofolia yaitu kelainan seks dengan menonton adegan syur dirinya sendiri untuk memperoleh kenikmatan. Ini disimpulkannya setelah mendengar kabar adanya 29 video serupa dengan wanita lainnya yang belum di publikasikan.
Indonesia sendiri telah mengenal budaya seks (baca: budaya yang melibatkan seks didalamnya) sejak lama, yaitu pada abad ke-8. Relief Karmawibangga bagian bawah di Borobudur menggambarkan posisi ideal bercinta ala Kamasutra. Hingga akhirnya ditutup pemerintah kolonialis Belanda. Alasannya, tidak sesuai norma agamanya.
Sementara itu, pada abad ke-11, muncul sekte varian Buddha di Sumatera, Jawa dan Bali. Namanya Tantra. Salah satu ajarannya, untuk berhubungan dengan Tuhan dan mencapai surga, pemeluknya harus makan ikan, menari dan bersenggama. Lalu, Candi Sukuh yang dibuat pada tahun 1437 di dinding candi banyak gambar memuat perwujudan genital pria dan wanita.
Akhirnya pada tahun 1906, seorang Mas Ngabehi, anggota dewan penasihat Raja Pakubuwana X, dipermalukan di harian Darmo Konda, harian rakyat setempat. Sang dewan ketahuan berbuat mesum dengan seorang penari ronggeng.
Seksualitas dan episteme
Dari runutan sejarah diatas dapat kita lihat konsep masyarakat mengenai apa yang dilarang dan yang tidak dilarang, apa yang benar dan salah terjadi berbedaan. Pada awalnya, sesuatu yang berbau seksualitas tidak ditutup-tutupi. Kata-kata yang bernada seks dilontarkan tanpa ragu. Bahkan secara terang-terangan seksualitas menjadi bagian penting dalam setiap acara resmi. Para pandita agung juga tak ragu untuk melukis gambar-gambar erotis di dinding-dinding candi. Baru pada awal abad ke-19 seksualitas kemudian benar-benar dibungkam.
Dalam persfektif Faucault, terjadinya perbedaan pandangan mengenai seksualitas di tiap zaman disebabkan oleh struktur diskursif yang berlaku pada zaman itu. Menurutnya, pandangan kita tentang suatu objek dibentuk dalam batas-batas yang telah ditentukan oleh struktur diskursif yaitu pandangan yang mendefinisikan bahwa yang benar ini dan lainnya tidak. Inilah oleh Faucault dinamakan episteme yaitu keseluruhan ruang bermakna, stratigrafi yang mendasari kehidupan intelektual, serta kumpulan pra-pengandaian suatu zaman.
Menurut Ankersmit, salah seorang ‘penerjemah’ pemikiran Faucault ada tiga karakteristik episteme yang diajukan filsuf kelahiran Poitiers, Prancis tersebut. Pertama, episteme menentukan cara kita melihat dan mengalami kenyataan. Kenyataan itu subjektif dan seringkali tidak disadari.
Kedua, karakter episteme yang lainnya adalah adanya larangan, penyangkalan, pengabaian dan penolakan. Episteme itu mengendalikan dan mengontrol pengetahuan manusia melalui tabu, kegilaan dan ketidak-benaran. Cap gila yang dilabelkan dr. boyke terhadap Ariel menunjukkan perannya sebagai agent pengontrol. Bidang psikiatri, ilmu kedokteran, serta ilmu lainnya inilah penanggung-jawab utama pembungkam ‘seksualitas menyimpang’.
Ketiga, dalam episteme terdapat hubungan antara bahasa dan realitas. Umumnya, bahasa dipandang sebagai medium yang transparan, bahasa adalah refleksi kenyataan. Bagi Faucault, bahasa selalu ditentukan episteme yaitu bentuk penggunaan bahasa yang dipakai untuk merumuskan kebenaran. Dengan demikian, bahasa dan episteme tidak lah pasif melainkan aktif. Bahasa turut menentukan dan menciptakan kebenaran.
Kalau kita lacak secara saksama, adanya penyangkalan terhadap ‘seksualitas menyimpang’ ala Ariel, Luna Maya dan Cut Tari terkait dengan episteme (penerimaan zaman) terhadap sesuatu yang tak bertujuan, tak bersifat produktif, dll. Intinya, adanya penolakan besar-besaran oleh masyarakat kita lebih kepada pola pokir masyarakat yang telah dijangkiti ‘virus’ kapitalisme. Segala sesuatu jika tidak diatur untuk membangun keturunan (baca: reproduktif) dan yang tidak diidealkan berdasarkan tujuan yang sama tidak lagi memiliki tempat dan tidak boleh bersuara; diusir, disangkal dan ditumpas sampai hanya kebungkaman yang tersisa. Seksualitas bukan saja tidak ada, melainkan tidak boleh hadir dan segera ditumpas begitu tampil dalam tindak atau wicara.
Penolakan pun terpaksa menerima kompromi jika berbagai tindakan ‘seksualitas menyimpang’ itu tak terelakkan. Maka dibuanglah ‘seksualitas menyimpang’ itu ditempat dimana bisa diterima, kalau bukan disektor produktif paling tidak bisa mendatangkan keutungan. Contohnya, rumah pelacuran, diskotik, dll.
Di Barat masa awal terjadinya represi seksual yaitu pada abad ke-17. Puncaknya ketika ratu Victoria memerintah Inggris. Ketika itu, seksualitas betul-betul ditabukan. Kalau kita baca sejarah secara saksama, pada abad ke-17 inilah awal perkembangan kapitalisme. Dengan begitu, riwayat sejarah seksualitas berikut riwayat represinya tidak lain merupakan sejarah kelam penguasaan alat-alat produksi.
Dalam suatu diskusi tentang pornografi dan pornoaksi, salah seorang teman saya berujar, penolakan masyarakat terhadap video Aril, Luna Maya dan Cut Tari lebih diakibatkan ketakutan mereka akan efek video tersebut bagi generasi bangsa. Menurut pemberitaan televisi swasta, video syur tersebut telah menelan beberapa korban. Salah seorang kakek tua di Sumatra memperkosa pembantunya usai menonton video Ariel. Kemudian ada seorang anak yang menjadi korban pelecehan setelah melihat adegan yang sama.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merilis kalau semenjak beredarnya video ini terjadi peningkatan kejahatan seksual terhadap anak-anak. Menurut Masnah, ketua KPAI, dari hasil survei yang mereka lalukan terjadi peningkatan kejahatan seksual terhadap anak-anak sebesar duapuluh persen semenjak video beredar. Tapi pertanyaannya, banyaknya kasus tersebut apakah punya korelasi langsung dengan beredarnya video itu? Bukankah kejadian pemerkosaan, pencabulan terhadap anak-anak juga terjadi sebelumnya. Jauh hari sebelum video ini beredar. Hanya saja KPAI terlihat bertindak serius saat kasus ini merebak. Saya beranggapan, KPAI hanya numpang tenar saja sebab isu video ini begitu menyedot perhatian media.
Mantan Presiden Indonesia, Abdurahman Wahid pernah mengatakan banyaknya tindakan kejahatan, termasuk kejahatan kelamin membuktikan kalau masyarakat Indonesia yang—katanya—beragama ternyata hanya isapan jempol belaka. Masyarakat kita merupakan masyarakat yang munafik, sibuk, dan suka menghitung-hitung sesuatu secara ekonomis. Jika tak dianggap produktif, tak bisa menghasilkan uang maka sesuatu menjadi haram, disangkal bahkan dianggap tak waras.
Nah, satu pertanyaan terakhir: Apakah Ariel, Luna, dan Cut Tari yang berani bertindak subversif dengan melanggar norma dan moralitas agama itu benar-benar tak waras lagi atau sebaliknya, dr. Boyke dan masyarakat kita yang—dengan rasa hormat—sebetulnya gila? Tabik!
Menyibak Selubung Ideologis Pemikiran Islam Mahzab Garis Keras
Dari hasil pencarian saya di beberapa kamus dan mesin pencari Google, secara bahasa kafir berasal dari kata kufur yang artinya menutupi kebenaran, melanggar kebenaran yang telah diketahui dan tidak berterima kasih. Kata jamak dari kafir adalah kaafirun atau kuffar. Kata kafir dan derivasinya disebutkan sebanyak 525 kali dalam Al Qur’an. Semuanya mengacu pada perbuatan mengingkari Allah swt. Kalau kita cermati, arti kafir yang paling dominan disebutkan dalam Al Qur’an adalah pengingkaran terhadap Allah dan Rasul-Nya, khususnya Muhammad saw. dengan ajaran-ajaran yang dibawanya.
Jadi, orang kafir adalah mereka yang menolak, menentang, mendustakan, mengingkari, dan bahkan anti kebenaran. Seseorang disebut kafir apabila melihat sinar kebenaran, ia akan memejamkan matanya. Apabila mendengar ajakan kebenaran, ia menutupi telinganya. Ia tidak mau mempertimbangkan dalil apa pun yang disampaikan padanya dan tidak bersedia tunduk pada sebuah argumen meski telah mengusik nuraninya.
Nah, disinilah titik krusialnya. Apakah islam selain tafsiran sodara Firman lantas bisa kita cap kafir? Karena banyak umat islam sendiri, termasuk para ulama (baca: ulama NU) menolak keras pendirian Negara Islam. Pada titik inilah saya berbeda pemahaman dengan sodara Firman, bukan persoalan lain. Apalagi sampai berdebat soal sejarah Kebangkitan Nasional. Bukan itu esensi tulisan yang ingin saya sampaikan.
Perlu juga diketahui, tulisan saya tidak bermaksud menimbulkan islamophobia. Saya hanya ingin semua umat manusia saling menghargai, tidak saling menghujat, cinta damai. Bisa menerima perbedaan pendapat. Dan, cita-cita inilah yang kadang disalah-tafsirkan oleh orang-orang yang membenci Nucholis Madjid dan Gusdur yang dengan gencar mewacanakan pluralisme. Bagi saya, bukan Negara Islam yang menjadi keharusan, tapi pluralisme. Sebuah sikap yang saling menghargai, saling memberikan kesempatan mengeluarkan semua potensi yang ada. Dan, inilah inti demokrasi. Lalu apa alasan menolak demokrasi?
Mungkin kita harus sedikit merenung, kenapa Tuhan menciptakan manusia dengan bersuku-suku, berbangsa-bangsa. Ini tidak lain agar mereka saling berbuat dalam kebaikan dan taqwa. Bukan malah sebaliknya, mencap orang lain kafir.
Landasan saya mengatakan pemahaman islam macam Firman bisa menggiring islam dari agama menjadi ideologi? Kalau kita ingin membuka selubung “ideologis” pemikiran Firman, kita bisa melacaknya dari landasan pemahamannya. Dalam hal ini filsafat yang mendasarinya. Meskipun saudara Firman sendiri akan membantah kalau sedang berfilsafat. Namun, kalau di lacak secara hati-hati, kita bisa menemukan bahwa sodara Firman telah terkontaminasi paradigma positivistik. Sesuatu yang tidak mungkin disadarinya, baik olehnya maupun oleh pengikutnya yang lain.
Salah seorang pendiri Mahzab Frankfurt, Max Hokheimer menunjukkan tiga pengandaian dasar yang membuat paradigma posistivistik menjadi ideologi dalam arti ketat. Pertama, paradigma positivistik mengandaikan bahwa pengetahuan manusia tidak menyejarah atau ahistoris, dan karenanya teori yang dihasilkan juga ahistoris dan asosial, maka tak salah Firman menganggap saya dan atau yang berpikiran lain dari dia sebagai kafir. Berdasarkan ciri ahistorisnya itu, muncullah pengandaian kedua, yaitu pengetahuan bersifat netral. Teori merupakan dekskripsi murni tentang fakta, yang merupakan “pengetahuan demi pengetahuan.” Akhirnya, karena pengetahuan bersifat netral, maka ia terpisah dari praxis. Proses penelitian dipisahkan dari tindakan etis, dan pengetetahuan dapat dipisahkan dari kepentingan.
Lebih lanjut Hokheimer menjelaskan, sifat ideologis paradigma positivistik itu tampak dalam tiga gejala. Pertama, dengan anggapan teori itu ahistoris, ia mengklaim diri universal, berlaku dimana saja secara transendental dan suprasosial sehingga melupakan proses kehidupan dalam masyarakat real. Maka tak salah saudara Firman kemudian ingin menerapkan Negara Islam di Negara Indonesia yang majemuk ini. Ia tidak akan mau tahu akan perbedaan konteks antara Negara Timur-tengah sana dengan Indonesia. Bagi dia, pemikiran yang berbeda dengan mereka adalah salah dan kufur. Salah dan kufur artinya apa? Bahwa pemikiran yang sah ada di muka bumi hanya pemikiran kelompoknya, selain itu harus dibumihanguskan. Inilah kenapa saya mengatakan bahwa islam tak akan jauh dari bayang-bayang totaliterianisme.
Kedua, dengan mengangap diri netral, paradigma ini berdiam diri terhadap masyarakat yang menjadi objeknya dan membenarkan kenyataan tanpa mempertanyakannya. Firman tak mempertanyakan pemikirannya sendiri, dan menerapkan teorinya secara taken for granted. Ciri-cirinya, tafsirnya lah yang paling sahih. Ketiga, yang tak kalah pentingnya, dengan memisahkan diri dari praxis, ia hanya mengejar teori demi teori dan karenanya tidak memiliki implikasi praktis.
Dari penjelasan diatas, tak salah kalau senior saya Muh Absariarpin mengatakan antara islam versi Firman dengan Marxisme ortodoks tak ada bedanya. Menurutnya, kedua pemikiran tersebut meskipun saling bertentangan, sama-sama berlandaskan diri pada paradigma positivistik. Bagi Marxisme, kebenaran itu hanya ada dan pasti ada di Sosialisme Komunisme, sementara bagi Firman, kebenaran itu hanya ada di Negara Islam. Peran subjek kemudian diabaikan, gerak sejarah dilepaskan dari subjek penggerak sejarah itu sendiri.
Kalau Kampus?
Andai kampus adalah tempat berkumpul, saya lebih suka mendatangi mall dan tempat nongkrong di luar, disana kita bisa menemukan teman baru
Tapi kalau kampus merupakan tempat belajar, mengapa tak ada riak manusia berdiskusi. Tak ada suara orang berdebat
Mari, saatnya kita berubah! Awali semua dengan senyum dengan sebuah buku di tangan. Tak ada salahnya kita jadikan kampus tempat belajar. Tempat kita merenda asa!
Hakikat Kaum Intelektual
Kebebasan untuk mengungkapkan kebenaran itu tak dibatasi oleh aturan formal organisasi. Seorang intelektual sejati konsisten dengan tujuannya untuk membebaskan masyarakat dari kungkungan struktur yang menindas. Ia melakukan semua itu dengan ikhlas meskipun harus mengorbankan dirinya sendiri sekalipun.
Secara sosiologis, keberadaan kaum intelektual merupakan kelompok creative elite dalam suatu susunan masyarakat yang berfungsi sebagai early warning system dalam kehidupan masyarakat. Entah itu masyarakat akademis ataupun masyarakat ‘awam’. Kelebihan kaum intelektual adalah kemampuannya untuk menjadi prototype bagi masyarakat diluar dirinya. Kaum intelektual sebagai kaum yang memiliki daya kreatif untuk menciptakan solusi cerdas bagi masalah ummat yang sedang terjadi. Dengan begitu, seluruh pemikirannya bisa menjadi daya tawar bagi masyarakat untuk menghadapi kehidupan di masa kini dan masa yang akan datang.
Jadi hakikat kaum intelektual dapat dilihat dari corak pemikirannya yang dapat melampaui zamannya. Pada posisi inilah kaum intelektual kadang-kala menjadi kontrovesial, karena terang-terangan menggugah kemapanan kehidupan pada saat itu. Lihat saja bagaimana Friederick Niezche yang dituduh kafir lantaran berani mengkritik arus pemikiran pada zamannya. Atau tengok saja Michael Faucault yang dituduh gila. Cermin paling kuat untuk ini adalah para nabi, yang meskipun harus bertaruh nyawa tak pernah lari untuk memperjuangkan keyakinannya.
Bagaimana menjadi kaum intelektual?
Tapi kemudian menjadi persoalan: bagaimanakah cara menjadi kaum intelektual? Mungkin banyak kalangan yang berniat menjadi kaum intelektual, tapi jalan untuk memperoleh predikat itu tak seperti membalikkan telapak tangan. Diperlukan orang-orang yang siap hidup “asketis” dan bersemangat juang tinggi. Jalan menuju kesana penuh dengan kerikil tajam.
Menjadi intelektual, diperlukan seorang yang bisa melihat realitas dengan mata malaikat. Mata malaikat disini artinya seorang yang bisa membedah realitas secara empiris. Tak hanya terlibat dalam diskusi-diskusi yang abstrak tentang Tuhan dan kebenaran yang sifatnya trasendental, tapi jauh melampaui itu, yaitu membicarakan masyarakat yang riil.
Dengan peran fundamentalnya untuk meningkatkan martabat kehidupan manusia untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Dalam bahasa yang lebih sederhana, kaum intelektual berguna untuk melaksanakan “pemberdayaan” masyarakat yang sedang berada dalam fase kejumudan, ketertinggalan, ketertindasan dan lain sebagainya.
Maka, tak ada jalan yang bisa ditempuh selain belajar sekuat tenaga. Dalam belajar itu, diperlukan sarana yang sangat fundamental, yaitu buku. Buku merupakan jalan utama menjadi kaum intelektual. Tanpa buku, kita hanya bisa ber-angan-angan dan tertunduk lesu melihat realitas yang sebetulnya kita muak melihatnya. Pepatah mengatakan, “buku adalah jendela dunia.” Begitu besarnya peran yang dimainkan buku.
Kamis, 20 Januari 2011
Hakikat Kaum Intelektual
Kebebasan untuk mengungkapkan kebenaran itu tak dibatasi oleh aturan formal organisasi. Seorang intelektual sejati konsisten dengan tujuannya untuk membebaskan masyarakat dari kungkungan struktur yang menindas. Ia melakukan semua itu dengan ikhlas meskipun harus mengorbankan dirinya sendiri sekalipun.
Secara sosiologis, keberadaan kaum intelektual merupakan kelompok creative elite dalam suatu susunan masyarakat yang berfungsi sebagai early warning system dalam kehidupan masyarakat. Entah itu masyarakat akademis ataupun masyarakat ‘awam’. Kelebihan kaum intelektual adalah kemampuannya untuk menjadi prototype bagi masyarakat diluar dirinya. Kaum intelektual sebagai kaum yang memiliki daya kreatif untuk menciptakan solusi cerdas bagi masalah ummat yang sedang terjadi. Dengan begitu, seluruh pemikirannya bisa menjadi daya tawar bagi masyarakat untuk menghadapi kehidupan di masa kini dan masa yang akan datang.
Jadi hakikat kaum intelektual dapat dilihat dari corak pemikirannya yang dapat melampaui zamannya. Pada posisi inilah kaum intelektual kadang-kala menjadi kontrovesial, karena terang-terangan menggugah kemapanan kehidupan pada saat itu. Lihat saja bagaimana Friederick Niezche yang dituduh kafir lantaran berani mengkritik arus pemikiran pada zamannya. Atau tengok saja Michael Faucault yang dituduh gila. Cermin paling kuat untuk ini adalah para nabi, yang meskipun harus bertaruh nyawa tak pernah lari untuk memperjuangkan keyakinannya.
Bagaimana menjadi kaum intelektual?
Tapi kemudian menjadi persoalan: bagaimanakah cara menjadi kaum intelektual? Mungkin banyak kalangan yang berniat menjadi kaum intelektual, tapi jalan menuju predikat itu tak seperti membalikkan telapak tangan. Diperlukan orang-orang yang siap hidup “asketis” dan bersemangat juang tinggi. Jalan menuju kesana penuh dengan kerikil-kerikil tajam.
Untuk menjadi kaum intelektual, diperlukan seorang yang bisa melihat realitas dengan mata malaikat. Mata malaikat disini artinya seorang yang bisa membedah realitas secara empiris. Tak hanya terlibat dalam diskusi-diskusi yang abstrak tentang Tuhan dan kebenaran yang sifatnya trasendental, tapi jauh melampaui itu, yaitu membicarakan masyarakat yang riil.
Dengan peran fundamentalnya untuk meningkatkan martabat kehidupan manusia untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Dalam bahasa yang lebih sederhana, kaum intelektual berguna untuk melaksanakan “pemberdayaan” masyarakat yang sedang berada dalam fase kejumudan, ketertinggalan, ketertindasan dan lain sebagainya.
Maka, tak ada jalan yang bisa ditempuh selain belajar sekuat tenaga. Dalam belajar itu, diperlukan sarana yang sangat fundamental, yaitu buku. Buku merupakan jalan utama menjadi kaum intelektual. Tanpa buku, kita hanya bisa ber-angan-angan dan tertunduk lesu melihat realitas yang sebetulnya kita muak melihatnya. Pepatah mengatakan, “buku adalah jendela dunia.” Begitu besarnya peran yang dimainkan buku.
Mahasiswa merupakan bagian dari masyarakat yang berpotensi menjadi kaum intelektual, tanpa menafikkan elemen masyarakat lainnya. Hanya mahasiswa yang belum terlalu tercemar oleh berbagai macam kepentingan pragmatis. Di universitas, beragam kelompok atau organisasi yang merupakan wadah untuk mewujudkan cita-cita menjadi kaum intelektual. Salah satu organisasi itu adalah pers mahasiswa. Tak diragukan lagi, dengan keaktifannya dalam kegiatan tulis-menulis, terkhusus kegiatan jurnalistik membuat mereka selalu tersentuh dengan hal baru. Karena itu, pemikiran mahasiswa yang tergabung dalam pers mahasiswa tak pernah sempit, termasuk dalam melihat realitas yang mapan. Mereka terbukti lebih kritis dibanding dengan kelompok mahasiwa lainnya.
Sebagai bagian dari pers mahasiswa, Pk.identitas seharusnya menjadi organisasi yang bisa menggodok generasi muda menjadi kaum intelektual. Bukan hanya menggodok orang untuk menjadi jurnalis siap pakai. Tapi lebih dari itu, bisa menjadi calon kaum intelektual terkemuka. Sebagai salah satu organisasi pers mahasiswa tertua, dengan beban sejarah yang dimilikinya, tak ada salahnya kita menggantungkan cita-cita itu.
Melihat besarnya peran yang dimainkan buku dalam “menciptakan” kaum intelektual, kemudian mengilhami saya membuat perpustakaan mini Pk.identitas. Saya menyadari, perpustakaan mini ini belum lah representatif sebagai wadah dalam menciptakan kaum intelektual, seperti yang saya jelasakan diatas. Saya berharap, perpusatkaan mini ini menjadi starting point bagi kru identitas dalam menggapai predikat: kaum intelektual. Semoga!
Sabtu, 18 Desember 2010
Identitas dan Menginap
Di Jakarta dan kota besar lainnya, kolong jembatan, trotoar, dijadikan sebagian orang yang tak beruntung sebagai sebuah rumah. Orang-orang seperti inilah yang kemudian dinamakan masyarakat jalanan. Mereka tak memiliki rumah permanen untuk digunakan sebagai tempat tinggal. Bagi mereka, setiap tempat adalah rumah. Mereka inilah sedikit dari banyaknya orang yang menjadi korban ganasnya kota.
Belakangan, pemerintah dan masyarakat dalam bentuk Lembaga Swadaya Masyarakat membuat sebuah program yaitu rumah singgah. Rumah singgah sendiri di buat hanya sebagai tempat menginap (baca: singgah). Bila matahari mulai terbenam, mereka akan berbondong-bondong datang. Bagi mereka, rumah singgah merupakan alternativ. Tempat itu masih baik ketimbang menginap di kolom jembatan, trotoar dan pinggiran toko.
Rumah singgah bukan tempat yang permanen, yang bisa mereka tempati selamanya. Rumah singgah, seperti namanya, hanya dijadikan tempat singgah sementara pada malam hari. Keesokan harinya, mereka meninggalkannya untuk mencari kehidupan. Bagi mereka tak ada kalimat: Rumah ku, surga ku. Sebab itu bukanlah rumahnya. Rumah singgah hanyalah tempat berteduh sementara waktu.
Rumah singgah bukanlah tempat bagi proses pencapaian sebuah tujuan. Maksudnya, rumah singgah tak bisa menawarkan sebuah harapan bagi hidup yang lebih baik. Beda dengan rumah pada umumnya yang digunakan sebagai bagian dari elemen pendukung pencapai cita-cita. Di rumah kita bisa belajar, bermain, membikin anak maupun lainnya. Rumah tinggal bukanlah sebuah alternatif.
Identitas, Bukan Rumah Singgah
Lalu apa kaitannya rumah singgah dengan identitas? Beberapa hari lalu teman saya bilang begini: Saya mau cari kos, mulai bosan ma nginap di identitas, gak ada yang temani. Pertanyaan sederhananya, di posisi manakah kita menempatkan identitas? Apakah sebagai rumah singgah atau rumah dalam artian umum. Kalau kita sepakat dengan pilihan pertama, menginap bukan lagi kewajiban. Tapi jika pilihan jatuh pada poin kedua, menginap merupakan kewajiban. Saya mengatakannya wajib sebab kalau kita tak lagi menginap disitu, tak ada lagi artinya sebagai rumah. Sebab tak di tinggali. Dikatakan rumah jika ada yang meninggalinya. Jika semua orang yang merasa memiliki nya tak lagi berada disitu, dia kemudian hanya menjadi bangunan. Dan tak ada bedanya dengan toko, kantor, dan hotel.
Realitasnya, saya melihat identitas tak lagi di jadikan sebagai sebuah rumah. Banyak orang-orang di dalamnya menggunakannya sebagai tempat untuk sekadar singgah karena capek seharian kuliah, atau sekadar sebagai ajang kumpul-kumpul. Atau hanya sebagai tempat singgah karena tak memiliki kos atau rumah tinggal. Saya berani berkata demikian karena saya tak lagi melihat identitas digunakan sebagai tempat untuk menapaki kehidupan mencapai cita-cita. Misalnya, untuk diskusi, belajar dll. Kita hanya datang, duduk di ruang tamu cerita yang tak jelas, atau nonton Televisi, sesaat kemudian ambil posisi kemudian tidur.
Maka tak lah salah kalau ada sebagian, termasuk saya memilih menginap di rumah sendiri. Bukan di identitas. Menurut saya, tak ada lagi hal yang membuat identitas istimewa dari rumah sendiri. Tokh di identitas kita hanya datang tidur, lalu beramal buat sang nyamuk yang banyak nya minta ampun. Atau sebagai tempat meluapkan rasa sepi. Hanya orang sepi yang mencari keramaian.
Mungkin sudah saatnya kita merubah itu semua, menganggap identitas tak lagi sebagai rumah singgah tapi lebih dari itu rumah yang ideal. Yang di dalamnya kita ditempa untuk mencapai cita-cita dengan berdiskusi, berdiskusi dan membaca. Sehingga identitas layak di beri label, SURGA.
Catatan Untuk Aminah
Seminggu sebelum ia menceritakan pengalaman bejatnya ini, saya kebetulan ketemu dengan Aminah. Pada kesempatan itu kami berdiskusi panjang tentang banyak hal. Termasuk tentang agama. Yang diperdebatkan apakah agama itu punya kontribusi bagi perbaikan moralitas seseorang. Bagi dia, agama sangat memiliki peran untuk itu. Tapi bagi saya, agama sudah tak lagi punya taji.
Aminah adalah seorang mahasiswi universitas bergengsi di Makassar. Saya mengenal Aminah tahun lalu. Pertama kali bertemu Aminah, tak terbersit sedikit pun pikiran kalau ia cewek ‘tak baik’. Ia tampak kalem. Kalau melangkah kelihatan hati-hati. Memakai pakaian muslimah dengan jilbab yang lebar sampai mendekati lutut. Saking perfect nya, saya melihat semua perilakunya sesuai dengan tuntutan ayat dan hadist. Inilah wanita, dalam Alquran sebagai penghuni surga. Saya kaget saat pertama kali tahu kalau ternyata berpacaran dengan teman saya.
“Islam itu agama yang sempurna, tak tersisa sedikit pun pertanyaan untuknya.” Itulah sedikit kalimat yang keluar dari mulut manis Aminah saat berdiskusi. Aminah membantah pernyataan saya kalau kita tak butuh agama. Menurut Aminah, agama penting untuk menjaga moralitas manusia. Dengan beragama kita bisa menghindarkan bangsa dari jurang kehancuran. Dalam Alquran tercatat ada banyak umat manusia dimusnahkan Tuhan karena menolak kebenaran suatu agama. Lihat saja bagaimana sejarah umat Nabi Luth yang membangkang tersapu gelombang tsunami.
Tapi saya keukeh beranggapan agama tak lagi punya relevansi bagi perbaikan moralitas umat di era modern ini. Agama hanya dijadikan lukisan penghias dinding kehidupan. Agama tak lagi dihayati secara esensial. Tapi telah menjelma menjadi sebuah ritual yang bersifat formal semata. Orang kini memperlakukan agama layaknya buku-buku yang hanya disimpan di rak sebagai penghias agar terkesan intelek. Di umbar di Kartu Tanda Penduduk sebagai penyelamat dari hukuman negara karena melarang tak beragama.
Aminah tak mau menerima argumen itu. Ia malah memperlihatkan muka tak bersahabat. Dengan sedikit jengkel berseru, “semoga Allah menujukkan mu jalan menuju pada-Nya.”
Merasa kondisi memanas, dengan memperkecil intonasi saya menjelaskan secara hati-hati landasan pemikiran saya. Saya mengatakan kalau kapitalisme telah merubah semuanya secara drastis. Seseorang yang mengkonsumsi barang tak lagi bermaksud memperoleh manfaat. Dikatakan bermanfaat bila memenuhi kepuasan untuk memenuhi kehidupan semata. Di era globalisasi ini mengkonsumsi barang tak lagi dilihat dari manfaat an sich, namun sudah jauh melampauinya. Yaitu sebagai pendongkrak prestise atau harga diri. Maka tak salah orang berlomba-lomba membeli Handphone blackberry, padahal blackberry tak beda jauh dengan Handphone merk Mito. Begitu pula yang terjadi dengan agama. Agama hanya dimanfaatkan sebaga “juru selamat” dari represivitas negara.
Contoh paling riil untuk Aminah, setelah seminggu berdiskusi dengan saya. Dimana posisi Tuhan saat jari teman saya memasuki wilayah tak terlarangnya? Apakah Tuhan ada di jari-jari? Dalam agama, aturan tentang zina sudah diatur secara jelas. “Laa Takrabul zinna,” Janganlah sekali-kali mendekati zina. Jangankan memasukkan jari, mendekati saja dilarang. Inikah arti agama? Wallahu alam!
Sabtu, 09 Oktober 2010
Tak Sekadar Pembelajaran, tapi Arena Perjuangan
Belakangan ini saya resah, benci, marah dan entah apapun namanya. Saya sendiri kadang bingung benci dengan apa dan siapa? Tak jelas subjeknya? Pokoknya saya hanya benci, titik! Ini berdampak pada sikap saya yang cenderung emosional, tidak bisa mengendalikan rasa amarah—yang—padahal ‘berkutat’ dengan hal sepele. Persoalan ini membuat saya gamang menjalani rutinitas. Saya sendiri akhirnya memutuskan untuk berpikir dan menjauh sejenak dari aktivitas. Sudah seminggu terakhir ini saya berkontemplasi, berpikir tentang hal apakah yang membikin gejolak ini muncul. Inilah hasil perenungan itu.
Tapi lambat-laun, saya mulai merasa tak nyaman dengan aktivitas di UKPM. Energi menulis tak pernah tersalurkan. Penerbitan Buletin Caka (Nama Buletin UKPM, red) hampir tak pernah memenuhi jadwal yang ditentukan. Mereka, anggota UKPM lebih sibuk aksi dan lupa akan tugas utamanya sebagai pers mahasiswa, yaitu menyuarakan perjuangan lewat pena. Tapi saya dibuat sedikit lega, karena setiap minggu UKPM selalu membuat diskusi. Tapi selalu saja diskusinya seputar Marxisme dan turunannya yang kolot itu. Rasa bosan makin kuat saja merasuki pikiran.
Di Pk identitas, saya menjalani pemagangan psosesnya panjang dan berliku. Mungkin karena merasa diri ‘senior’ makanya banyak bertingkah. Kalau disuruh cuci piring, membersihkan ruangan langsung menghindar. Siapa ‘senior’ yang mau disuruh cuci piring? Sementara di fakultas memainkan telunjuk ‘dewa’.
Sering saya di maki oleh senior—yang kalau indikatornya angkatan, ia termasuk junior saya—tapi selalu banyak cara bagi saya untuk sekadar mangkir. Sewalaupun pada kondisi tertentu tak bisa lagi menghindar, terpaksalah mencuci piring dengan berat hati. Karena alasan itulah, saya kemudian di juluki raja kalasi.
Hampir satu tahun saya menjalani magang. Saya belum sedikit pun mendapatkan bukti jika cibiran tadi itu benar. Di ruang rapat anggota redaksi dengan bebas mengusulkan berita. Tak ada tanda-tanda jika usulan yang sedikit ‘frontal’ di buang. Saya hanya menyaksikan anggota redaksi tidak menguasai isu. Dan ditolak jika tak punya data-data riil. Saya semakin dibuat penasaran oleh Pk identitas.
Seingat saya, hal pertama yang menjadi alasan di DO ketika memutuskan untuk pulang kampung. Aturan Pk identitas waktu itu melarang calon reporter untuk itu. Tapi saya bersikeras lantaran sudah tiga tahun tak pulang. Orang tua meminta saya pulang karena alasan rindu. Saya tak bisa berbuat apa-apa. Saya sendiri sebenarnya tak mau pulang. Saya pikir tidak ada gunanya pulang lantaran tidak ada aktivitas di kampung. Paling banter pergi tidur dan makan. Dan, kegiatan itu tokh bisa juga dilakukan di Makassar.
Alasan kedua, saya malas mengerjakan tugas redaksi. Saya benci dengan cara membentaknya yang tidak ‘manusiawi’. Dulu, semua teman-teman seangkatan merasakan hal yang sama. Kalau kami ke Pk identitas, biasanya berjanji pergi bersama-sama. Sebelum berangkat, berkumpul dahulu di bawah Lt 1 Gedung Perpustakaan Pusat Unhas menunggu semua hadir. Setelah teman-teman berkumpul, barulah kami bergegas ke Pk identitas. Itupun sesampainya di Pk identitas, tidak langsung masuk ke ruang utamanya, tapi memilih ke Ruang Pusdok, yang memang agak tersembunyi. Waktu itu, kami betul-betul merasa segan bertemu senior yang ‘ganas’.
Yah, ternyata ‘senior’ juga punya rasa takut. Tapi jujur, sebenarnya tak takut, mungkin karena ego yang tinggi, saya malas ke ruang utama lantaran tak mau langsung di suruh cuci piring. Sebuah strategi bodoh, karena tetap juga di datangi untuk mengerjakan tugas itu.
Terakhir ketika saya memobilisir teman-teman untuk memboikot rapat redaksi. Waktu itu saya telah jadi repoter dan juga fotografer. Ceritanya, saat itu kami tidak sepakat dengan kebijakan redaksi yang tak memasukkan nama salah satu teman, yang kebetulan keluar, dalam rubrik dapur redaksi yang biasanya terbit pada edisi khusus akhir tahun. Mungkin karena komunikasi yang kurang jalan, ada sebagian teman yang ‘berkhianat’. Hanya ber-empat dari tujuh teman yang konsisten terhadap keputusan awal. Karena ada sebagain yang hadir, strategi itu hancur berantakan.
Saya pikir—karena strategi hancur—saya mesti buat stategi baru. Ini untuk menyelamatkan teman-teman saya. Saya tak terlalu penting. Waktu berkarir tinggal sedikit, lagipula saatnya saya konsentrasi menyelesaikan studi. Waktu itu, tugas redaksi saya hentikan.
Strategi lain itu adalah menjadikan saya sebagai tumbal, agar kemarahan jajaran atas bisa tersalurkan. Orang yang paling di incar mereka adalah saya. Dan itu berhasil. Saya dihabisi, dibuat malu. Karena malu yang amat besar, tanpa pikir panjang, saya memilih lari keluar dari ruang sidang Pk identitas. Yang penting teman-teman selamat, pikir saya. Jujur, saat itu saya lari karena—maaf—saya bawa barang tajam, seandainya masih disitu, kemungkinan amarah tak tertahan, dan pasti beberapa dari jajaran atas bisa jadi korban.
Tiba-tiba terdengar suara, “tunduk ko!” Saya tak menghiraukannya. “Oe, kamu mau di terima ato tidak, tunduk ko disitu,” suara itu mulai terdengar keras. Dengan suara rendah saya menjawab, “saya tidak akan tunduk.” Pikiran saya bergejolak, adatnya tak beda dengan Opspek Mahasiswa Baru (maba). Bagi saya, cukup saat maba saya melakukan hal konyol itu. Kali ini tidak akan!
Karena tak mendengar instruksi untuk tunduk, saya lalu disuruh keluar. “Kau tak diterima, silakan pulang,” ungkap salah seorang senior dengan nada sinis. Saya sendiri tak tahu siapa yang menyuruh saya keluar saat itu.
Tapi akhirnya, salah seorang senior memanggil kembali tepat saat saya berlari keluar. Lama saya bercerita dengannya. Ia menjelaskan beginilah tradisi Pk identitas. Jadi harus siap. “Menjadi wartawan itu harus punya mental kuat, kalau tidak engkau akan tergerus zaman,” ceritanya. Saya kemudian disuruh bergabung kembali dengan teman menunggu giliran, “pi mako sama teman mu, kasi tenang pikiran mu, nanti dipanggil jako,” tuturnya singkat.
Ternyata benar, setelah semua teman-teman usai di screening. Kini giliran saya dipanggil untuk kedua kalinya. Kali ini saya menyerah, karena letih semalaman tak tidur, semua instruksi bodoh pun saya ikuti. Malam itupun menjadi sejarah panjang perjalanan karir saya di Pk identitas yang kemudian nanti penuh dengan krikil-krikil, romantisisme, pesimisme dan harapan.
Cara-cara ini mengadopsi prinsip kerja jurnalisme mainstream. Keras, dan tidak ‘berperikemanusiaan’. Kalau tidak begitu, mana bisa penerbitan—apalagi mahasiswa—menerbitkan secara rutin selama dua kali sebulan. Sementara tugas kuliah menumpuk. Laporan tugas laboratorium bertumpuk dengan segala tetek bengeknya.
Ini pembuktian positif saya. Sikap profesionalitas. Tapi diluar, sikap otoriter itu dijadikan cibiran oleh pesaing Pk identitas yang sebenarnya inferior dengan kemampuan Pk identitas menerbitkan secara berkala dan tepat waktu. Beda dengan mereka, penerbitannya tidak jelas. Tidak ada manajemen redaksi. Yang ada hanya kebebasan, anti-otoritarian, tapi penerbitan tak jalan. Penerbitan apa namanya itu?
Lihat saja bagimana citra Sulsel sekarang? Ini tentu tak lepas dari peran besar wartawan—yang kebetulan—banyak senior Pk identitas. Dengan gaji yang tak seberapa, dengan gencar memuat berita tentang anarkisme mahasiswa, padahal itu tak sepenuhnya benar. Aksi anarkisme itu tidak lebih dari setitik aksi dari beribu aksi yang dilakukan mahasiwa. Terkadang juga substanti aksi tidak ditonjolkan, ini karena apa? Karena mereka tidak paham dengan wacana dan politik pencitraan. Miris kan? Apa ini yang diingankan Pk identitas?
Saya merasakan, Pk identitas betul-betul kering akan wacana. Saya pernah bingung mencari teman diskusi lantaran semua kelompok diskusi saya dulu, saya tinggalkan untuk fokus di Pk identitas. Saya berpikir, wacana bisa diperoleh di Pk identitas.
Tapi semua harapan itu sia-sia, teman di Pk identitas itu lebih banyak apatis terhadap persoalan fundamental yang membedakan kita dari media mainstream. Mereka lebih cenderung mengasah kemampuan teknis menulis, yang sebenarnya tak pernah tuntas, ketimbang penguasaan wacana. Paling tidak ada balance.
Tapi saya menganggap, ini konsekuensi yang harus saya jalani. Saya harus bertahan untuk memenuhi tujuan saya tadi. Yaitu mengetahui apa itu Pk identitas? Sebab baru mendapatkannya sedikit.
Akhirnya, pada 2009 lalu, terjadi pemilihan Pimred. Saat itu, ada tiga orang yang ingin maju jadi Pimred. Semuanya kader terbaik Pk identitas, tapi ada satu yang menurut saya openmind untuk merubah Pk identitas menjadi pusat wacana, paling tidak pada tataran internal redaksi.
Bagi saya, tujuan awal tadi telah berubah, dari sekadar ingin mengetahui, menjadi ingin merubah. Menjadikan Pk identitas sebagai pusat kritik, pusat wacana, pusat segala sesuatu di Unhas. Saya kira itu bukan tujuan yang utopis, Pk identitas punya segalanya.
Akhirnya, jagoanya saya terpilih. Dalam program kerjanya ia memiliki visi dan misi yang istimewa untuk ukuran Pk identitas saat itu. Saya menganggap ia luar biasa. Tapi belakangan pandangan itu berubah, tidak ada lagi diskusi, apalagi kajian terhadap isu terbaru di Unhas, atau nasional. Awalnya memang ia intens membikin diskusi, tapi hanya berjalan sesaat. Yaitu tiga bulan awal saja. Dan yang membuat saya berang, dia tidak tegas terhadap jajaran atas yang keluar tanpa prosedur. Tapi saya tak perlu mengulas itu.
Beberapa teman yang dulu saya minta mendukungnya bahkan melontarkan kata-kata tak enak terhadap saya. Kata mereka, “kau telah menjerumuskan saya, lihat Pimred yang kau rekomendasikan.” Tapi saya selalu meyakinkan mereka kalau tunggu saja beberapa waktu, kita lihat bagaimana kebijakannya.
Tapi itu di tolak. Mereka beralasan semua harus diberi kesempatan, biarlah alam yang akan menseleksinya. Alasan bodoh bukan? Lihat saja bagaimana semakin tahun kualitas pemberitaan dan kualitas kru Pk identitas makin buruk, saya sendiri juga tak sepenuhnya baik, sebab dihasilkan dari sistem yang buruk. Ini adalah langkah awal, sebuah langkah revolusioner, menurut saya.
Bagi saya sendiri, Pk identitas tak seharusya hanya menjadi media pembelajaran, tapi harus lebih daripada itu, media perjuangan. Peduli setan dengan rektorat, jika ia khilaf, mesti di kritik walaupun dengan acaman pemberedelan. Saya kira kita harus siap dengan kondisi itu jika sewaktu-waktu di bredel, dan mental itu harus kita bikin sekarang, bukan esok. Kita hanya perlu langkah awal, sekali lagi sebuah langkah revolusioner.
Saya setuju dengan perkataan salah seorang dosen komunikasi, Drs Mauliadi Mau kepada forum Diklat lanjut UKPM Unhas tahun 2009. “Pk identitas itu corong rektorat, hanya menciptakan wartawan bobrok Sulsel yang menghamba pada kapitalis, lihat saja semua seniornya jadi pemimpin media kapitalis di Sulsel saat ini,” ungkapnya sinis. Itulah kurang lebih sepenggal kalimat yang ia lontarkan ke khalayak umum yang ikut Diklat dari seluruh Indonesia itu. Saya kira itu benar dengan catatan, tidak ada track record senior identitas sebagai wartawan amplop. Atau wartawan lainnya. Mauliadi Mau terkesan ‘ngawur’ dan sembrono dalam beberapa titik.
Mauliadi benar jika dikaitkan dengan citra Sulsel yang memburuk. Sebab hampir semua pimpinan media di Makassar adalah senior Pk identitas. Tapi ia salah karena sebagai Dosen Komunikasi membiarkan hal ini terus berlangsung. Harusnya ia mem-back up Pk identitas. Dengan memberikan pembelajaran wacana agar hal itu disadari. Dan, itu semakin membuat semangat saya terpacu untuk ber-identitas.
Lalu apa yang terjadi? Yang keluar adalah opini tentang Syiah. Siapa yang tidak kecewa? Sekali lagi, Pk identitas itu ruang perjuangan, bukan pembelajaran semata. Bagi saya, siapa pun yang menolak demokrasi, yang tidak menghargai sesama dalam kesederajatan, yang ingin mengganti negara Indonesia yang nasionalis dan demokratis dengan Negara Islam harus di lawan. Dan inilah posisi peran perjuangan Pk identitas yang saya maksud. Lagipula, sodara Pimred terlampau terburu-buru karena ternyata dia tak mengikuti perkembangan wacana Pk identitas. Dia tidak membaca opini balasan itu, sebab hanyalah penjelasan rinci atas kesalahan penafsiran oleh penulis HTI. Untuk penjelasan lebih lanjut, akan saya bahas pada tulisan saya lainnya, tentang agenda Setting Media.
Saya paham kalau dalam media berlaku sistem secara struktural. Segala pemberitaan yang terbit tergantung keinginan Pimred. Tidak ada alasan, semua titik. Tapi bukankah kita media kampus? Medianya mahasiswa yang menggaungkan demokrasi. Apa pantas hal itu dilakukan, paling tidak sebelum di hapus, Pimred berusaha mengkomunikasikannya. Saya tentu akan menerimanya dengan lapang dada. Bagi saya, itu sepenuhnya wilayah Pimred. Saya ini hanya ‘pembantu’.
Sikap ini akhirnya membuat saya menolak meng-edit opini edisi berikutnya, saya merasa tidak lagi punya kapabilitas. Saya telah terbukti gagal menjalankan amanah. Dan, saya tidak akan menjilat lidah saya sendiri. Sekali berkata tidak, kata itu akan berlaku selamanya. Entah apapun konsekuensinya. Terakhir, saya diberi surat teguran pertama. Surat itu saya sobek. Surat itu tidak punya efek apapun terhadap saya. Karena pada saat itu, saya menganggap diri benar dengan pilihan saya. Dan sodara Pimred, adalah orang bodoh se-Dunia.
Ber-identitas, berarti siap menjadi ‘penjual sate’
Bukan cuma itu, ber-identitas sama saja dengan menjadi ‘penjual sate’. Sebuah tradisi yang harus segera diputus. Bayangkan saja, saat saya menjadi Steering Diklat Dasar Jurnalistik tahun lalu, saya dibuat repot setengah mati, karena baik jajaran atas maupun reporter masing-masing memiliki bahasa sendiri yang sulit saya pahami. Mereka—jajaran atas—bangga dengan ke-atasannya dan tidak mau menyentuh hal ‘bawah’, macam membantu kegiatan. Mereka ber-apologi, ini sudah mereka rasakan, ini tradisi, kalian harus mengerjakannya. Sementara reporter, juga larut dalam ‘kebawahannya’ sehingga bebal dengan segala macam marah dan kritik yang saya lontarkan.
Tapi saya tahu, personil reporter yang menjadi panitia tidak cukup pengalaman dan tenaga di tengah kuliah yang padat untuk membikin Diklat. Jadilah Diklat itu sebagai tempat saya dan beberap teman redaktur dan reporter beralih profesi menjadi ‘penjual sate’. Menjadi ‘penjual sate’ lantaran menusuk, mengipas, tapi di makan bersama. Kita yang capek membuat kegiatan, sementara jajaran atas yang mendapatkan enaknya. Ironis bukan? Itulah Pk identitas.
Inilah poin selanjutnya yang harus di lakukan Pk identitas. Memupuk sikap peduli. Kita ini adalah tim. Inilah poin yang segera harus dibenahinya. Caranya, tentu dengan melakukan upgrading panitia pelaksana sebelum melakukan sebuah kegiatan. Kemudian, semaksimal mungkin menyaring kru yang punya pengalaman organisasi. Bagaimana pun minimnya pengalammnya. Karena, ber-identitas bukan sekadar ajang pembelajaran, tapi juga sebuah arena perjuangan.
Bukti selanjutnya dari sifat ini adalah adanya kegiatan PJTLN yang tanggal 13 oktober akan diadakan. Semua panitia, Steering dan jajaran atas kocar-kacir memikirkan kegiatan ini baru pada saat kegiatan ini akan dilaksanakan. Efektifnya mereka serius mengurus kegiatan ini justru satu bulan—kalau mau dibilang tidak cukup—sebelum kegiatan berlangsung. Lagi-lagi, ironis bukan?
Saya sendiri memilih ‘hengkang’ dari kegiatan itu dengan alasan bahwa tidak ingin jadi ‘penjual sate’ untuk kedua kalinya. Saya mahasiwa, bukan ‘penjual sate’. Apapun opini yang keluar dari jajaran atas dan teman-teman, terserahlah, ini pilihan? Saya bukan orang bodoh. Hanya orang bodoh yang jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya, dan paling bodoh untuk yang ke-tiga kalinya.
Tapi perlu diketahui, saya sebenarnya sudah menolak untuk membikin kegiatan ini. Saya dahulu berpikir, Diklat Dasar saja masih tak becus, bagaimana Diklat Nasional yang memerlukan profesionalitas tinggi? Tapi kala itu, semua kru menolak rasionalisasi saya, mereka bilang kita bisa! Tapi mereka lupa, tidak memperhitungkan secara matang segala aspek.
Saya sedikit paham tentang manajemen organisasi, saya mendapatkan di bangku kuliah. Untuk menentukan prioritas kegiatan, terlebih dahulu kita mempertimbangkan aspek Sumber Daya (SD) yang ada. Apa itu sumber daya? Yaitu segala aspek yang memungkinkan pencapaian tujuan. Tapi apakah Pk identitas saat ini memilik SD untuk membuat kegiatan? Untuk beberapa hal mungkin punya, seperti, machine, money, tapi kita lupa dua hal, kita tak punya man, dan method? Kalau pun ada, tidak terlatih. Disitulah saya sendiri melihat pilihan untuk ber-PJTLN adalah—dalam manajemen—sebagai pilihan yang irasional. Dikatakan irasional karena tidak mempertimbangkan SD yang ada.
Mungkin PJTLN yang direncanakan itu saat ini berjalan. Tapi apa ia berjalan sesuai tujuan? Saya kira kegiatan ini berjalan diatas ‘nyawa terakhir’. Lihat, bagaimana rasionalisasi Steering saat saya mempertanyakan kenapa spanduk dan baliho tidak segera dipasang. Ia berpendapat kalau Baliho dan Spanduk tidak terlalu penting dipasang karena tujuan peserta bukan dari Makassar, tapi dari luar, padahal saat itu efektinya tiga minggu sebelum acara berlangsung. Namun apakah itu benar? Saya kira tidak, karena dibuatnya kegiatan nasional ini yaitu juga untuk memperkenalkan Pk identitas dimata mahasiswa baru Unhas. Saya banyak bertanya kepada mahasiswa angkatan 2008 dan 2009, banyak dari mereka yang tak tahu apa itu Pk identitas. Dan sangat lucu kalau orang luar tahu Pk identitas tapi mahasiswa Unhas tidak. Nah, itu yang tidak dilihat Steering dan Panitia. Dan prioritas macam inilah yang perlu dijadikan program kerja unggulan.
Beberapa kali saya mempertanyakan hal ini dalam rapat, tapi ini tidak di dengar, mereka berkilah, kita tunggu saja Baliho dan Spanduk yang dibuat sponsor. Tapi kapan? Mungkin tahun depan?
Bagi saya, ini membulatkan tekat saya untuk—sekali lagi—setelah sebelumnya merasa kecewa untuk betul-betul malas peduli dengan kegiatan. Tak berarti rapat. Tokh rapat hanya mendengarkan keluh kesah tanpa mencoba mencari solusi. Tak ada resolusi yang baik. Saya kira rapat itu tujuannya mencari resolusi.
Rabu lalu, (6/10) Baliho itu terlihat dipajang di Spanduk Center Fakultas Kedokteran Gigi. Di pasang dengan keadaan ‘semaunya’. Tampak tidak ada keseriusan terhadapnya. Lalu inikah gambaran kegiatan nasional?
Akhir Dari Keluh Kesah Adalah Permintaan Maaf
Mungkin keluh kesah ini terlalu panjang, dan terlampau subjektif. Bukankah keluh kesah itu pengalaman subjektif? Dan mungkin, buat teman yang terus berjuang ‘di jalan yang salah’ sadarlah, anda itu bukan ‘penjual sate’. Anda mahasiswa.
Terakhir, dengan segala hormat saya minta maaf atas sikap saya. Mungkin juga kalian tidak akan memaafkan saya, saya terlalu kejam untuk dimaafkan!
Saya kutip sair lagu ST 12 untuk kalian, “Satu jam saja, ku telah bisa cintai kamu seutuhnya namun bagiku, melupakan mu butuh waktu ku seumur hidup.” Saya mencintai Pk identitas melebihi pacar. Saya menyayangi kalian melebihi saudara saya sendiri, makanya saya peduli. Walaupun awalnya saya hanya ingin mengetahui. Mungkin cara saya yang salah, manifestasi cinta saya yang tak benar. Tapi yakinlah, ini untuk kalian. Untuk Pk identitas ke depan. Maukah kalian terus mewariskan profesi ‘penjual sate’ kepada generasi selanjutnya? Maukah kalian mewariskan generasi ‘bodoh’ wacana? Saya kira tidak! Tidak untuk saat ini dan selamanya!
Senin, 20 September 2010
Arung dan Ekstasi
Catatan Pendamping Goenawan Muhamad untuk buku St. Sunardi berjudul: Nietzsche
“Saya harus hanya memercayai seorang Tuhan yang mengerti bagaimana menari”
(Also Spach Zaratustra)
Nietzsche hadir tidak hanya dengan niat mengejutkan, ketika ia mengatakan bahwa “Tuhan sudah mati”. Ia lebih radikal ketimbang seorang ateis biasa. Beberapa pernyataan yang termasuk termasyhur bahkan menyebabkan ia bisa ditafsirkan sebagai filsuf yang bukan saja menampik filsuf (yang pernah ia cemo’oh sebagai kegiatan yang mirip vampir: menghisap darah dari kehidupan) dan menentang metafisika, tetapi juga seorang pemikir yang menampik adanya kebenaran. Baginya, kebenaran adalah ilusi. “Kebenaran”, begitu pernah ia katakan, “adalah sejenis kesalahan yang bila tanpa itu sejenis makhluk tak dapat hidup.” Bahkan kehendak untuk mendapatkan kebenaran pernah dianggapnya sebagai ekspresi dari ideal yang tidak disukainya, yakni ideal zahid, atau “asketik”, yang menampik kehidupan.
Memperkenalkan Nietzsche ke kalangan yang lebih luas di Indonesia, seperti yang dengan bagus dilakukan oleh St. Sunardi, berarti menyediakan satu kesempatan—kepada mereka yang tertarik akan soal-soal ide-ide—untuk ikut serta dalam suatu penjelajahan yang mengguncang, menjebol batas, menemui malam, memasuki sebuah gelora yang merangsang, karena kita senantiasa dikejutkan oleh tendensinya, yakni bahaya. Nietzsche sendiri mengatakan apa yang kita alami dalam arung itu dalam satu aforisamenya yang terkenal, sebagaimana dikutip St. Sunardi dalam buku ini:
Kita meninggalkan daratan dan sudah menuju kapal! Kita sudah membakar jembatan di belakang kita—dan lagi, kita sudah menghapuskan daratan di belakang kita! Dan kini, hati-hatilah, kau kapal mungil! Samudra raya mengelilingimu: memang benar, dia tidak senantiasa mengaum, dan kadang-kadang ia tampak lembut bagaikan sutera, emas dan mimpi yang indah. Namun, akan tiba waktunya bila kau ingin tahu, bahwa dia itu tak terbatas. Oh, burung yang malang yang merasa bebas dan kini menabrak dinding-dinding sarangnya! Ya, bila kau merasa rindu akan daratmu… yang seolah-olah menawarkan kebebasan lebih banyak—dan tak ada “daratan lagi”.
Ia pasti bukan suara yang putus asa setelah mengatakan bahwa “kebenaran adalah ilusi”. Yang terbersit dari kata-kata itu justru sebuah isbat kepada hidup, dengan segal rindu yang tak sampai, rumah yang tak pernah tegak, petaka yang tak pernah putus, didalam kancah kelezatan tubuh dan angan-angan. Amor fati: kita menerima nasih dengan semacam rasa cinta. Tanpa miris, bahkann dengan gairah. Di dalam masa ketika aman dan tertib merupakan nilai yang diunggulkan—tidak hanya dalam kehidupan sosial, tetapi juga dalam pemikiran dan keyakinan—di masa ketika banyak orang ingin berlindung di bawah otoritas negara ( “monster yang paling dingin”, kata Nietzsche), atau dibawah iman dan ilmu, pemikiran Nietzsche bisa dianggap semacam ekstasi: yang didapat dari sana adalah pembelotan, kegilaan, khaos, keasyikan dan niat kembali terus menerus, dengan berahi. Bedanya dengan obat perangsang biasa ialah dari Nietzsche kita bisa, kalau kita terbuka untuk itu, memperoleh keberanian yang tertuntas. Dengan Nietzsche kita ibarat mendaki mahameru untuk mencapai puncak dalam panggilan sang hero yang tragik.
Juga sebuah hidup yang kreatif. Juga pandangan yang riang dan ringan hati. Ketika Zaratustra, dalam Also Sparch Zaratustra, mengatakan bahwa ia “harus hanya memercayai seorang Tuhan yang mengerti bagaimana menari”, ia agaknya meringkaskan suatu letmotiv dalam pandangan hidup Nietzsche: bahwa seandainya pun ada suatu sumber yang esa, kalaupun ada pondasi dari segala hal ihwal, maka suatu sumber atau fondasi itu sesuatu yang bergerak senantiasa, mencipta senantiasa, berubah senantiasa, seperti penari di dalam suatu koreografi yang membersit dari dalam diri sendiri, tanpa mengikuti pakem dan bentuk, tanpa telos atau tujuan yang dipatok. Suasana bukanlah semangat yang memberat, sebab semangat itulah justru musuh. “Akulah musuh Semangat Memberat,” ujar Zaratustra, yang merasa diri ibarat burung, selalu siap dan tak sabar untuk selalu terbang. Menjadi burung yang terbang bukanlah menjadi burung onta yang berlari lebih cepat ketimbang kuda, tetapi sementara itu membenamkan matanya sarat ke dalam tubuh—dan menyebut bahwa bumi dan hidup itu berat.
Bagi Nietzsche: tarian dalam nasib yang dahsyat ini adalah tarian yang ringan, terbang, bermain, bahkan tertawa…
Mereka yang tak terbiasa dengan semua ini mungkin akan bertanya (dengan sedikit “semangat memberat”): jika demikian, dimana tanggung jawab, disiplin, hidup yang tahu apa dituju? Bagaimana kau akan menghadapi orang-orang yang malang, dan bagaimana kau menghadapi maut, yaitu hari akhir, yang bisa membuat eksistensi sebagai alur, atau suatu tema? Dan mengapa harus ringan, terbang, bermain bahkan tertawa?
Seorang penulis pernah mengatakan bahwa Nietzsche adalah “tokoh sentral dalam pemikiran postmodern di Barat”, suatu pemikiran yang sering kali diasosisikan dengan sensibilitas terhadap apa yang disebut Derrida sebagai konsep “permainan”. Yang kita arungi, dengan keberanian dan kegembiraan, bukanlah suatu proyek penaklukan dunia. Yang menonjol dari Nietzsche pertama-tama adalah sebagai sebuah suara kritis terhadap agenda modernitas yang dimulai dengan Descartes, yang praktis menempatkan ego dalam posisi Tuhan—sebagai awal, malah sumber, dari perpikir dan dari “meng-ada”—dan dengan demikian membuat pemikiran diskursif menjadi pembangunan dunia. Bagi Nietzsche, ego yang seperti itu hanya fiktif. Baginya, tidak ada seonggok subjek. Yang ada hanyalah pluralitas. “Kita adalah pluralitas yang membayangkan diri sebagai satu kesatuan,” kata Nietzsche. Yang ada (seperti yang kemudian bergema dalam pemikiran Julia Kristeva) adalah subjek-dalam-proses. Semua mengalir, semua menjadi. Makhluk, seperti kata orang Jawa, segala hal yang kita temui karena ada, adalah dumadi, suatu yang “dijadikan dan menjadi”.
Hanya saja banyak orang melihat air yang dibendung tidak percaya, bahwa air itu mengalir, begitulah sebagaimana yang di ibaratkan dalam Zaratustra. Mereka hanya melihat tambak, bendungan, tebing—mungkin karena itu lebih memudahkan mereka untuk berurusan praktis dengan dunia. Orang yang bertumpu pada identitas benda-benda, kepada konsep dan kepada kategori, yang konstan, utuh, beku, tak bergerak dalam perbedaan, sebab dengan itu orang bisa mengaturnya, mengontrolnya, dan menjalankan pengetahuan dengan dunia serta kekuasaan atas hidup dan hal-ihwal. Negara, modal, uang, ilmu dan teknologi bermula dari sini. Dan Nietzsche—setidaknya dalam interpretasi posstrukturalis—adalah sebuah suara alternatif dari kesibukan modernitas itu.
Tentu, tidak persis demikian. Heidegger, misalnya, mengatakan bahwa pada dasarnya tidak banyak beda antara Nietzsche dan Descartes. Dengan memastikan cogito ergo sum, Descartes telah merubah manusia menjadi sang subjek, yakni substansi atau penopang yang berperan sebagai fondasi segala yang ada (beings). Dengan demikian, keputusan tentang apa saja yang dapat dianggap sebagai “sesuatu yang ada” terletak pada manusia, dan manusia pun hadir dalam posisi dominan. Bagi Heidegger, Nietzsche pun melakukan hal yang sama. Bedanya, dalam pemikiran Nietzsche, sang subjek bukanlah ego yang spiritual, melainkan tubuh, yang ditafsirkan satu pusat hasrat dan rasa, sebagai “penubuhan” dari “der Wille zur Macht”, kehendak-untuk-kuasa. Subjek itulah yang oleh Nietzsche, menurut Heidegger, jadi ukuran keber-ada-an? Dari tiap hal yang ada: terhadap suatu benda, satu barang, satu hal yang bukan-saya yang “ber-ada” di hadapan saya, sayalah yang menetukan keber-ada-annya. Memang itu tak pernah terjadi dengan proses pemikiran diskursif seperti pada renungan Descartes. Tapi bila Nietzsche menganggap kebenaran sebagai ilusi—dan itu berarti ada yang “benar” dan ada yang “ilusi”—maka sang subjeklah yang dihadirkan sebagai suatu “kekuasaan mutlak untuk memutuskan mana yang benar dan mana yang palsu.”
Agaknya bagi pandangan Heidegger, Nietzsche masih belum beringsut dari baying-bayang humanisme. Ia belum manusia dari pusat hal-ihwal. Agaknya bagi Heidegger, yang cenderung menggambarkan manusia, atau Dasein, sebagai yang selamanya “terpikat” oleh wujud dan makhluk lain, dan mahkluk lain, dan yang kodratnya dibentuk seluruhnya oleh hubungan yang bersifat “gumati” dengan mereka, Nietzsche masih meneruskan pemikiran adanya subjek yang bukan saja berbeda, tapi juga lebih utama dari objek. Daripadanya kita memperoleh ideal sang kelana yang gagah berani, yang menuju ke kualitas Ubermens, menghadang resiko, memilih arung yang tak lazim, menjadi “tuan” dan bukan “budak”, mirip dengan sang jagoan dalam kisah perjalanan Odysseus. Tapi bukankah itu juga gambaran seorang entrepreneur, orang bisnis yang hendak merengkuh sesuatu yang besar, membentuk satu imperium, menaklukkan, dengan menempuh badai dan melawan arus? Dan bukankah Odysseus bisa dianggap (oleh Adorno, misalnya) sebagai “prototype individu borjuis”?
Heidegger, yang berbicara nuram tentang teknologi, dalam perkembangan pemikiran kemudian bahkan mengemukakan bahwa di dunia ini manusia sekadar berperan sebagai “penggembala” yang memelihara misteri dari sang Ada (Sein atau Being)—satu pernyataan yang seakan-akan memberi warna mistis bagi pandangan hidupnya, satu hal yang memang umumnya dianggap tak ada indikasinya dalam pandangan Nietzsche. Dalam hubungan inilah agaknya bagi Heidegger, Nietzsche—yang menentang metafisika, yang menyatakan tak ada dunia yang trasenden—telah melakukan apa yang oleh metafisika umumnya: mengabaikan Ada. Metafisika, bagi Heidegger, adalah sejarah surutnya Ada. Dan itu pula yang terjadi ketika Nietsche mengemukakan “kehendak-untuk-kuasa” sebagai “esensi dunia”, “esensi hidup”, bahkan “esensi segala hal yang ada”. Heidegger menganggap Nietzsche telah meletakkan Ada pada status nilai: sekadar suatu kondisi untuk mempertahankan dan meningkatkan kehendak-untuk-kuasa. Maka, apa bedanya dia dengan Descartes dan agenda modernitas dan himanisme yang bertolak dari sana?
Tetapi Heidegger telah salah membaca Nietzsche, menurut Derrida dan kaum posstrukturalis. Bagi Derrida, pemikiran Heidegger mengukuhkan kembali kedudukan logos dan kebenaran sebagai premium signatum: sebagai tanda yang dalam arti tertentu bersifat trasendental. Bagi Derrida dan kaum posstrukturalis, Heidegger benar jika ia, dalam membaca Nietzsche, bisa membiarkan bahasa Nietzsche tidak bekerja sebagai metafora. Bagi Derrida, hanya dengan menelaah bahasa Nietzsche secara demikian, Nietzsche justru akan tampak telah mampu membebaskan penanda dari sifat ketergantungannya dan derivasinya, sehingga penanda pun tidak akan ditentukan oleh dan tidak akan pula berasal usul dari logos atau konsep tentang kebenaran yang terkait.
Derrida pun mengajukan argumennya tentang “main”. “Main” adalah “tidak hadirnya petanda yang trasendental sebagai ketidakterbatasan main.”
Karena Nietzsche percaya bahwa kebenaran adalah ilusi, karena ia tidak mengasumsikan bahwa akan mungkin penanda yang cocok dengan petanda yang ditandainya, karena realitas adalah dumadi, yang terus dalam prosen menjadi, berubah, mengalir, dan tiap titik dalam air tidak pernah kembali, bahkan yang ada dalam suatu khaos, Derrida tampaknya ingin menampilkan Nietzsche sebagai isbat, suatu afirmasi, kepada gerak penanda yang putus-putusnya menandai, suatu signifiant yang menari-nari terus tanpa tempat menambatkan diri, tanpa suatu signifie, tanpa rumah asal tanpa tujuan akhir, tanpa nostalgia: yang ada sebuah tanah air pikiran yang telah hilang. Sang Ubermens, kata Derrida, membakar teks nya dan menghapus jejak langkahna sendiri, tertawa ke arah jalan kembali, dan ia akan menari, di luar kebenaran dan “rumah Ada”, lupa secara aktif …
Mari menari, mari tertawa, mari berlupa…
Derrida, seperti ditunjukkan oleh Michael Haar dalam satu esai yang cemerlang yang menggambarkan bagaimana Derrida “memainkan” Nietzsche, sebenarnya menjalani suatu startegi HyperNietzshean. Dengan mengatakan “menulis adalah permainan dalam bahasa”, di mana penanda bergerak dengan tidak lagi memiliki petanda, suatu proses main intra-linguistik yang tanpa henti, suatu proses permainan dari segala yang ada yang berlangsung di atas “papan catur tanpa dasar” yang tanpa penahan dan tanpa kedalaman—semuanya itu agaknya melebih-lebihkan apa yang disebut Nietzsche sebagai dorongan untuk bermain sebagai suatu bagian dari kehendak-untuk-kuasa.
Sebab, seperti yang dikatakan Michael Haar, bagi Nietzsche, dunia bukanlah sebuah “papan catur tanpa dasar”. Pelbagai daya yang hadir dalam khaos berlangsung dengan menopang dan mempertahankan manusia. Bagi Nietzsche, bahasa bukanlah cakrawala tanpa batas yang terus menerus tertunda garis batasnya. Menulis adalah suatu imitasi dari bicara. Memang, menulis bisa menyembuhkan bahasa dari cakap yang tanpa intensitas yang biasa disenangi orang banyak. Tapi pada dasarnya menulis hanya sebuah salinan pucat, dan sebab itu Nietzsche mengatakan: “Aku hanya suka apa yang ditulis dengan darah.”
Tidak selamanya bisa pas menang. Terutama karena “kata dibuat untuk gaya berat”, seperti yang dikatakan Zaratustra, dan hanya nyanyi, music, yang tidak berbohong pada dia yang “ringan”. Kata akan selalu dibebani makna, lagu bisa tak mengacuhkan hal itu.
Derrida bisa mengatakan bisa mengatakan bahwa justru dengan mengatakan hal itu, Nietzsche mengutamakan yang tanpa-beban-makna, yang tanpa harus terkait dengan petanda, yang mengingatkan, bahwa kebenaran adalah ilusi. Tapi bisakah sebenarnya kita mengatakan bahwa kebenaran adalah ilusi? Bukankah dengan mengutarakan kalimat itu, Nietzsche sebenarnya mengutarakan kebenaran?
Dalam bukunya, St. Sunardi cenderung mengatakan “ya”. Bagi Nietzsche, kata Sunardi, kriterium kebenaran berbeda dari yang dirumuskan Descartes. Kriterium kebenaran adalah “semakin tingginya kesadaran orang akan adanya kekuatan.” Ada yang memberi kesan dekatnya Nietzsche dengan pragmatisme disini. Pun ada yang, seperti yang dikemukan oleh Sunardi, bahkan bisa dibandingkan dengan Karl R Popper: bahwa suatu ucapan atau hipotesis bersifat ilmiah, kalau secara prinsipil terdapat kemungkinan untuk menyangkalnya. Bukankah, menurut Nietzsche, kebenaran bukanlah antithesis kekeliruan, melainkan, dalam hal-hal yang paling fundamental, hanya merupakan bentuk hubungan antara berbagai macam kekeliruan? Dengan kata lain, menurut kesimpulan Sunardi, baik Popper maupun Nietzsche memperingatkan “bahaya dogmatisme kebenaran”?
Dogmatisme: kemandegan. Maka barangkali tidak ada jeleknya kita teringat kembali bahwa Zaratustra adalah seorang penari, yang hanya mau percaya kepada Tuhan yang mengerti bagaimana menari. Kepada hidup, Zaratustra berkata: “Aku menari mengikutimu, kuturutkan kau bahkan ketika kulihat jejakmu yang paling lamat.” Kebenaran adalah Sesuatu yang didapat dari proses kreatif, tanpa dibebani pamrih, atau tanpa tujuan samping apapun; suatu proses kreatif yang menguntit hidup: itu juga sejenis “arah”, dan bisa jadi semacam “kepatuhan”, dan jangan-jangan “tanggung jawab” –setidaknya kepadasang Hidup. Saya kira, disini tampak bahwa Nietzsche memang hadir tidak untuk mengejutkan, tidak usah mengejutkan.