Rabu, 12 Maret 2008

DOSENKU MULTILEVERs

Sorot matanya lemah, suaranya pelan tanpa gairah. Kehidupan yang keras menjadikan rambut tebalnya putih sebelum waktunya. "aku banyak mengikuti MULTI LEVEL MARKETING tapi tidak pernah kaya?". ujarnya diakhir promosi singkatnya sehabis kuliah. lalu kami menertawainya. Dosen yang payah, ketusku dalam hati. Ternyata predikat sebagai intelektual tidak bisa menjadikannya bijak memaknai dunia. Begitu hebat gempuran iklan yang memaksa imaji tidak bisa tenang dan menerima hidup apa adanya. Perang yang tak pernah menemukan titik akhirnya.

Menertawakannya bukanlah pilihan yang tepat, tidak ada riuh tawa untuk sebuah tragedi. Aku terdiam saja, tenang mendengar oceh tangis kehidupan. Kekejaman dunia memaksa ia tanpa malu menjual otaknya demi harta dan materi. Kaum intelektual benar-benar kehilangan akal sehatnya, pikirannya tentang pengetahuan telah dimodifikasi menjadi pikiran materil semata. Banyak kali aku mendengar dosen terlibat MLM (multi level marketing). Aku sedikit sanksi dengan itu, terus terang. Dan tidak akan mempermasalahkannya sepanjang tidak keluar dari jalur yang ditetapkan bersama. Bukankah dunia ini adalah konsensus?. Sekali lagi hatiku miris, inginku menangis dan berteriak pada dunia. Kenapa engkau begitu kejam?. Ia seorang dosen, dosen tidak pernah diajarkan untuk pamrih. Pahlawan tanpa jasa slogannya.

Aku masih saja terdiam, walaupun desakan nurani memberontak terhadap perilaku dosen begitu menggebu. Berdiam boleh jadi pilihan terbaik menurutku untuk suasana seperti ini. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkannya. Ada realitas yang harus dipertanyakan. Sejahterakah dosen ataupun guru hari ini?. Ia tidak salah pada wilayah itu, ia hanya terpaksa. Tidak ada cara lain. Mungkin hanya itu yang bisa dia lakukan ditengah keterbatasannya. Ia tahu ada tanggung jawab yang dia pikul. Dia rapuh oleh kerasnya arus kehidupan. Tidak ada lagi harga diri, toh harga diri bisa dibeli. Nanti bila kaya!.

Kaya. selalu menjadi modus utama dunia sekarang. Kaya yang dahulunya bermakna luas kini dipersempit oleh pengertian yang mngacu ke hal yang bersifat materil. Orang tidak butuh kaya hati, kaya nurani. Orang hanya peduli kaya materi. Kaya hati, kaya materi bisa dibeli. Bisakah?.

Dosenku multilevers, ia menjajakan dagangannya di ruang-ruang kuliah. Diatas topeng-topeng intelektualitas. Ia sekaligus menjajakan harga dirinya. Kampus seharusnya bukan tempat untuk bertransaksi bisnis, walaupun tidak salah. Jam kuliah jangan dipotong demi promosi MLM. "Baiklah sekarang kalian mau jadi apa?". Jadi kaya teriak teman-temanku. Kaya lagi-kaya lagi. Tiadak adakah pilihan selain itu?. Begitu sempitklah dunia ini?. Kenapa orang mengidentikkan kata kaya dengan materi semata?.

Oh...ingin kumaki dirimu. Dosenku. Enyahlah engkau dari lorong-lorong kehidupanmu. Sekarang lari dan kejarlah impianmu itu. Duniamu terlalu jauh bagi kami, orang-orang idealis.

Memang, tidak ada yang bisa memungkiri kenyataan hidup yang engkau jalani. Engkau selalu bercerita pada kami disela-sela waktu mengajarmu, dan bukan hanya engkau. Engkau menceritakan tentang istri dan anakmu yang ingin beli ini beli itu. Sementara gajimu hanya cukup membiayai hidup sebulan. " kenapa istriku mengidentikkan kaya dengan materi". Kami tahu engkau tersiksa. Istri dan anakmu mendesak meminta tanggung-jawabmu. "Pa...kapan kita punya mobil?". Jadilah engaku mengkreditnya dengan memotong gaji yang pas-pasan. Untung tidak ada ruang untuk korupsi. terlalu banyak badan-badan pemberantas korupsi.

Pak...!!! kami paham dan sangat memahami. Slogan pahlawan tanpa jasa masih berdengung. untuk provesimu. Padahal dunia yang engkau alami tidak pernah mau menukar jasamu dengan honda jazz kesukaan anak dan istrimu. Kesukaan orang kebanyakan. Sangat tidak adil.

Slogannya perlu dipertanyakan sekarang. Berteriaklah dan tuntut hak-hakmu. Upah yang memadai untukmu. Buatlah revolusi besar-besaran. Bukan cuma petani yang perlu revolusi, tapi juga kalian. Pekerja-pekerja kere. Bila perlu buat partai sendiri ataupun kalau mau negara sendiri yang menghargai dirimu bukan dengan slogan. Pilihlah pemimpin dari kalanganmu agar kelak dia bijak dan mau memperhatikan engkau. Kami pasti mendukung, Pak!!!

Aku jadi teringat bapakku. Ia seorang guru. Aku jadi teringat saat diriku meminta kiriman uang tiap bulannya, sementara gajinya sudah tidak ada. Gajinya dipotong pinjamannya di Bank. Aku menitikkan air mataku, selama ini uang yang dikirimkan dari mana?. Apakah ia mencuri atau korupsi?. Setahuku ia tidak punya penghasilan lain. Atau mungkin ia hutang sana-hutang sini. Seberapa banyak hutangnya?. Aku malu memikirkannya, apalagi mendengarkannya bercerita. Dan memang ia tidak pernah mau bercerita. Apalagi bekeluh-kesah. Ia tida pernah jujur saat aku tanya, uang ini dari mana papa?. Ia bungkam. Mungkin ia malu padaku. Ia hanya menjawab " tidak usah dipikirkan kamu kuliah saja, cepet-cepat selesai". Kata itu biasa terucap saat mengakhiri pembicaraan dan menutup teleponnya. (makassar, 13 maret 2008. saat kuliah metodologi).

MENERIAKKAN DUNIA

Dimana kita mau bertanya,
Sedangkan orang-orang pada apatis
Pasif dan pasrah menerima kenyataan
Pesimisme bagai hantu gentayangan
Membayangi jejak langkah dan pikitran manusia

OH...optimisme yang hilang
Cepat datang rebut pikiran manusia
Kembalikan seperti masa renaisans
Cambukkan cemeti imajimu
Balikkan kembali seperti masa Marduk dan Tiamat
Berperang.............lah
Gairah memabra dalam dialektika tak berbatas

cinta...oh cinta

Engkau ratu hatiku yang tersimpan di lubuk hatiku yang terdalam, dalam kepenuhan pikiranku, di sana ... ilahi yang tak dikenal! Oh, dapatkah aku sungguh-sungguh mempercayai dongeng-dongeng si penyair, bahwa ketika seseorang melihat sebuah obyek cintanya, ia membayangkan bahwa ia sudah pernah melihatnya dahulu kala, bahwa semua cinta seperti halnya semua pengetahuan adalah kenangan semata, bahwa cinta pun mempunyai nubuat-nubuatnya di dalam diri pribadi. ... tampaknya bagiku bahwa aku harus memiliki kecantikan dari semua gadis agar dapat menandingi kecantikanmu; bahwa aku harus mengelilingi dunia untuk menemukan tempat yang tidak kumiliki dan yang merupakan misteri terdalam dari keseluruhan keberadaanku yang mengarah ke depan, dan pada saat berikutnya engkau begitu dekat kepadaku, mengisi jiwaku dengan begitu dahsyat sehingga aku berubah (transfigured) bagi diriku sendiri, dan merasakan sungguh nikmat berada di sini.

—Søren Kierkegaard, Journals[5] (2 Februari 1839)

Selasa, 11 Maret 2008

tanpa judul

angin sepoi menerpa diriku kala tiba ditempat DIKLAT Jurnalistik, raga yang panas langsung segar kembali. ada sebersit kebahagiaan dan rasa takjub, ternyata Tuhan sempurna mencipta kehidupan. kemaren aku selesai mengikuti pelatihan, aku bahagia sebab tiga hari telah berlalu yang awalnya terasa berat. benar kata orang, kebosanan itu hanya ada pada orang yang tak pernah merasa bersyukur. terrus terang, aku kecewa dan sedih saat harus berpisah dari teman-teman, suasana akrab telah terbangun saat kami bersama dalam suka dan duka menjalani DIKLAT. suasana terbangun sejuk, penuh inspirasi.
kemaren, pagi-pagi aku terbangun dari tidurku, aku masih merasa ngantuk saat itu, maklum semalam acaranya selesai pukul 03.00 wita. aku terpaksa bangun, jam sebelas nanti aku ada kuliah kimia. aku tidak mau mengulangi mata kuliah ini sampai empat kali. cukup sudah, aku kapok bermalas-malasan. kasian banget kan?. aku keluar kamar menuju kamar sebelah menemui temanku, kebetulan ia satu jurusan. aku langsung membangunkannya, agak kaget dia saya lihat, tapi dia langsung ke wc mencuci muka.
disaat DIKLAT, terus terang hatiku berbunga-bunga, aku dapat kiriman pulsa dari temanku yang selalu menyuplaikan kala aku benar-benar boke dan membutuhkannya. ia boleh jadi teman spesialku. dua minggu yang lalu, ia menelponku menceritakan masalah yang sekarang dia hadapi. dia katanya lagi jatuh cinta, aku bingung mau nanggapi apa, wong aku gak pernah jatuh cinta?. tapi dengan kebingungan itu membuat aku merasa kok disaat dia membutuhkanku, aku tidak bisa membantunya. teman apa kau ini?.
mencintai boleh jadi sunnatullah, kasih sayang sesuatu yang lumrah. terbesit seribu tanya, adakah itu telah mati pada diriku?. aku tidak berani jatuh cinta. salahkah aku tidak mencinta dan tidak menjawab pertanyaan teman spesialku?. aku teregun, kaget mengingat diriku. aku terbangun dari meditasi lamaku, mengekspresikan diri terkadang punya batas, punya halangan. haruskah cinta mengandalkan nafsu kelamin?. ataukah ketiadaan nafsu adalah manipulasi. justeru dengan nafsu bercinta jadi hidup, menggairahkan. ataukah kita yang terlampau egois mengendalikan diri?. tidak pernah puas dengan sesuatu yang dimiliki?. pilihan itu memang rumit, Tuhan telah adil menentukannya semua, namun apakah kita harus takluk?.
banyak cara bagi kita tuk belajar memilih, bukti kesempurnaan penciptaan. tapi kita tidak diajarkan mengetahui tanpa kriteria dan indikator. semua punya standar. disitulah kelemahan manusia, saat harus bingung dengan standar, sementara dunia penuh dengan standar-standar palsu. banyak kelompok mengklaim standarnya yang paling valid, petunjuknya yang paling sahih. tapi membuktikan kesahihan, kevalidan harus memakai apa?.
kita manusia tidak lebih dari makhluk lemah. klaim yang selama ini mengatakan kita makhluk sempurna tidak sepenuhnya benar. patut dipertanyakan?. mestinya kita membongkar segala kemapanan yang telah ada, melawan tirani yang tersebunyi. ya...harus ada yang berani menanyakan dunia ini, semua orang tampak tenang dengan apa yang dimiliki, dirasa dan dilihat. pertanyakan kawan-kawan, kenapa berzina itu dilarang?. kenapa anggur diharamkan?. walaupun hanya segelas penghangat tubuh yang dingin.
ada alasan yang disamarkan, katanya dunia perlu aturan, undang-undang dibuat untuk mengatur. siapa yang mau diatur?. dan siapa yang mengatur?. kenapa semua orang merasa risih dengan ketidak-teraturan, batas-batas seperti apa dikatakan tidak teratur?. membingungkan!. inikah dunia?.
cobalah bertanya kawan, sebelum kita semua buta. kritislah. coba lari dan menjauh dari kemapanan, berniatlah menghancurkannya. belum terlambat. masih ada cukup waktu untuk itu semua.
memang, pasti ada yang mengkritik, tulisan ini tidak lain dari bentuk kegilaan paling nyata. ketidak-teraturan tulisan, ketidakjelasan dan banyak teka-teki. tapi bukankah budaya kita mengajarkannya?.
pasti kawan, aku sebagai objek kegilaan. engkau pasti bertanya padaku apakah engkau benar-benar mengalami kegilaan?. oh...tunggu dulu, standar apa dan kriteria apa yang meneguhkan asumsimu bahwa aku mengalami kegilaan. kalian jelas bisa menjawab ini. kegilaanku terlihat dari indikasi tuliasan yang tidak teratur, bahasa yang sedikit nyeleneh dan...membingungkan. lalu izinkanlah aku bertanya, kriteria yang engkau pake berasal dari mana?. kedokteran?. psikologinya freud, ato psikologi behavioris. saya berani menyatakan kalian makhluk paling kejam, representatifkah kriteria mu bagi kegilaanku?. hanya ada satu kata, DOMINASI lah yang membuatmu berlaku begitu. coba kalian telaah dengan baik-baik, ternyata pengalaman dan kebiasaanmu mempengaruhi pikiranmu. buktinya karena engkau tidak biasa melihat tulisan seperti ini lalu kau mengklaim ini tuliasan orang gila. (buat yang kusayang)

Selasa, 19 Februari 2008

sekadar curhat aja

kemaren, aku kepengen banget buka blog ku, aku kepengen mencurahkan seluruh unek-unek ku, kemarahanku, namun kemaren aku lagi tak punya duit, kiriman belum kunjung datang juga padahal naluri menulisku lagi gencarnya menyuruhku merangakai kata-kata disini. eh...saat uang dah ada ide yang ingin kutulis kemaren hilang entah kemana. kayaknya ditelan hantu kali. he...he....waktu aku lagi pusing nyari ide yang ilang tadi, aku jadi teringat blog temanku anak UI, kalau ndak salah "kuncring" nama blognya. ya udah aku masuk aja. aku salut banget ma dia, pandai merangkai kata-kata menjadi kalimat yang--menurutku--indah banget. terus terang, dengan tidak menafikkan realita yang ada, aku sedikit mengkritik perasaannya, bukan tulisannya. ia terlalu percaya dengan dunia yang penuh dengan kemunafikan ini, ia terlalu berani jatuh cinta. adakah itu cinta?. adakah kasih sayang?. mungkin karena realitas mengajarkanku, maka dengan sangat terpaksa aku mengatakan bahwa cinta itu hanya ilusi yang mesti dilempar jauh keluar cakrawala kehidupan umat manusia. aku coba nulis tanggapan ku di pos cooment sebelah kanan bawah tulisannya, tapi gak bisa masuk. yah.... gak apalah. ya udah aku nulis aja tanggapanku itu di blogku sendiri, siapa tahu dia membacanya. moga aja aja ada keajaiban datang, ia tiba-tiba masuk di blogku.

wah...lage jatuh cinta ya mba'. indah banget tuh kata-katanya, sampe-sampe saya sendiri gak sadar bahwa itu adalah kalimat yang nyata ada. salut deh, indah banget!. oya...aku sendiri cuma kagum ma kata-katanya, kalimatnya, bukan pada hal tersembunyi dibalik kalimat indahnya, aku tak pernah percaya bahwa cinta itu benar-benar ada, cinta adalah bentuk paling indah dari nafsu kelamin. cinta murni gak ada di dunia, yang dipenuhi dengan kemunafikan dan penghianatan, ia hanya ada di langit, cinta murni itu ilusi, omong kosong. orang yang berbicara tentang cinta hanyalah sekumpulan komunitas makhluk buas yang ingin berkuasa terhadap orang lain. wallahualam...

Selasa, 05 Februari 2008

dalam kekosongan

esok hari kamis tanggal 7 ferbruari 2008 yang berarti tahun baru telah berjalan satu bulan tujuh hari, umurku makin tua namun perjuangan mencari makna hidup belum-belum menunjukkan kejelasan, semakin lama makin absurd rasanya. selalu berada dalam kekosongan. semakin aku berjuang, semakin pula aku merasa kesepian dengan diriku sendiri, aku merasa orang lain mulai menjauhiku. ah...ingin ku lari dari segala rutinitas hidup ini, lari dari segala kemunafikan dan penghianatan yang mengejarku ibarat hantu-hantu. realitas hidup menjadikanku sadar "mengutip bahasanya nietsche", bahwa didunia ini tidak ada cinta dan moralitas yang ada hanya kepentingan. paling tidak hal itu yang ku lihat hari ini. orang-orang berlalu lalang, sibuk berjuang namun tidak pernah benar-benar tulus, selalu ada kepentingan yang bermain.
ah... agaknya aku harus belajar sekarang menerima realitas. mulai mencoba mencinta kepada kesendirian, kemunafikan dan penghianatan.

Senin, 03 Desember 2007

Dalam Ketidakwarasan

Pernah gak sih mereka bertanya tentang kehadiranku disini, kehadiran yang bukan pilihanku ?, pernahkah kalian bertanya masih adakah segelintir motif kehidupan tertanam dibenakku?. Apa pentingnya berkoar lewat kata-kata, semua orang tidak butuh banyak omong, toh kehadiran kita tidak dibutuhkan kawan dan emang kita tidak membutuhkan, butuh kaki panjang untuk melangkah, kau tahu? Kakimu sepanjang jengkal! Hanya dua puluh senti. Perjalanannya terlalu jauh, nirwana terlalu abstrak Hanya kegilaan yang berani melangkah, langkah kecil.tak bisa di andalkan. Omong kosong! Kamu tidak waras men!.

Enggak terlalu berlebihan kalau esok adalah ketersiksaan tanpa batas Keberadaanku tidak lebih dari mimpi buruk, sementara ancaman siksaan terdengar dimana-mana di surau, gereja, pure, bahkan di kampus, lalu kenapa Tuhan berani menyalahkan dan menyiksa aku? Siapa yang butuh berada disini?. Kau atau aku oh...Tuhan ku. Pernahkah aku memohon padamu agar DiKau meng-ada-kan aku? Kalau emang kehadiranku karena Engkau menginginkannya, lalu kenapa aku dibuat tersiksa?. Kenapa mesti esok harus absurd? Kenapa mesti pilihanku harus kau yang menentukan? Kenapa mesti ada neraka?. Adakah makhluk yang bisa mengetahui dengan pasti pilihannya adalah yang terbaik untuknya?. Semua ini permainan Tuhan? Betul ia sedang bermain dadu.. Mampukah otakku memberi jawaban pasti terhadap teka-teki Mu?. Adakah kebenaran objektif bagi diriku?.

Jalanku berliku, tak bisa ditebak apalagi membuat kepastian atasnya, murabbi ku mengatakan berharap kepastian hidup cuma mengindikasikan kegilaan. Pengalaman demi pengalaman aku lalui justeru semakin mengukuhkan pandangan ku, hidup tidak lebih dari ketidak-pastian yang menipu. Sementara anjing-anjing kehidupan gencar berkotbah menebar benih-benih nafsu setaniah lewat pemuasan hasrat sesaat. Ia lihai menjelma menjadi malaikat israil dengan tampilan senyuman surgawi berbingkai kebusukan. Manusia yang tidak memiliki kearifan harus rela tergusur dari kancah permainan sandiwara. Untuk hidup perlu kearifan, kearifan yang tidak kaku, dunia haruslah pragmatis, pandai-pandai memanfaatkan situasi, cerdas mengadu domba, lihai menjatuhkan kawan apalagi musuh. Kebijaksanaan seperti itulah yang kita perlukan. Apalagi kita, makhluk yang di buat lemah lewat pamflet-pamflet pengajian ataupun acara sembahyang. Kelemahan kita berakar budaya, budaya yang diciptakan segelintir orang yang gila kekuasaan dan jabatan. Ya..penyakit sadisme melanda, namun pernahkah kita menanyakan semua ini. Sampailah pada keadaan sekarang, semua orang asik bercanda dipelataran mall megah, di kamar kost yang menawarkan kenikmatan tiada tara. Siapa yang salah?.

Hegel sekonyong-konyong datang, menghampiriku menawarkan secercah optimisme bahwa aku akan mampu dan menjawab semua kegelisahan ku lewat rasionalitas. Kau hanya bermimpi, rasionalitas yang bertumpu pada dialektika sejarah merupakan kaki kecil. Gak mampu berjalan jauh, engkau tidak realistis?. Optimisme mu kebalikannya bagiku, optimismemu adalah pesimisme bagiku. Tak apalah aku menjadi kaum-kaum yang tidak waras. Toh ketidak-warasanku lebih realistis dari kewarasanmu. Pesimisme ku dekat denganku, tuh di ujung jariku. Menanggapinya. Lalu siapa yang benar? Aku dengan segala kegilaanku atau kau dengan mimpi mu menginjakkan kaki ke bulan dengan kaki kecilmu?.

Aku gak pernah menyangkal keberadaan bulan, tak pernah me-negasi-kan keberadaan yang absolut, tapi yang aku tidak terima adalah optimisme mu akan kemampuanmu menjangkau yang absolut. Bisa gak seh yang gak absolut menjangkau yang tidak absolut?. Apakah dialektika mu punya ujung, apalagi pengalaman cinta ku dengan wanita menyurutkanku. Adalah sisi seorang wanita keturunan yang membukakan mata hatiku akan kesalahan Hegel. Pengetahuan ku mengenai tabiat sisi do’i ku tidak pernah bersifat final, ia diperbaharui dan dilengkapi oleh pengetahuanku mengenainya di waktu-waktu mendatang, sisi yang dahulu kuanggap pendiam, sabaran, pintar ternyata ia merupakan tipe cewek tempramen, banyak omong, pokoknya sangat bertolak belakang dengan sisi pada waktu baru kenal. Penilaian seperti itu dulu, dikala aku dan sisi belum begitu saling kenal tapi sekarang pengetahuanku tentangf sisi kembali seperti saat semula aku mengenalnya. Dan mana batasnya, aku hampir berpikiran persepsiku tentangnya pertama kali tidak akan berubah selamanya. Mana buktinya, kalau pun punya batas kapan aku bisa menjangkaunya?.

Mestinya kita menyadari kita ini sintesis yang mewaktu dan abadi, kita adalah pengada dalam waktu, temporal, yang sekaligus mendambakan keabadian. Pernahkah kita berpikir?. Coba saja adakah makna dibalik Indeks Prestasi andaikata si Sam ayahku gak ada, atau paling pop nya do’i ku gak ada? Hidup baru memiliki makna apabila ia dirangkai dalam satu kesatuan yang utuh, ya..itulah keabadiannya kierkegaard. Kita adalah pengada yang mewaktu sekaligus juga mendambakan keabadian.

Aku masih ingat, hari itu aku ikut basic training gak usahlah aku sebut nama organisasi itu. Aku di ceramahi, pemateri basic yang sok ke-ateis mendefinisikan kebenaran yang kebetulan jadi tema materi yang ia bawakan, kebenaran ujarnya adalah keselarasan antara ’ada’ dan ’apa yang dipikirkan’. Kalau aku melihat sisi dan langsung memikirkan gagasan mengenai sisi yang besar pantatnya kayak gitar spanyol dengan mulut lebar mirip petinju mike tyson lalu pinggang lebar seperti...? gak usahlah, bukan kapasitas ku mengejek nya disini. Dalam hal ini saya dikatakan memiliki kebenaran karena ada keselarasan antara apa yang saya pikirkan dengan objek yang saya lihat. Wah aku kemudian teringat bukunya Kierkegaard, di buku yang aku baca kok berbeda dengan apa yang aku dapat kan?. Identitas antara pemikiran dan (peng-)ada atau pandangan pengetahuan kita secara akurat mencerminkan realitas yang kita alami, seperti definisi diatas adalah ilusi., karena apa yang dipikirkan (sisi dengan pantatnya yang besar) bukanlah ada aktual, melainkan ada yang dipikirkan. Ketika sedang di pikirkan , ada berubah menjadi kemungkinan dan konsep ideal, karena telah dirampas atau di abstaraksi dari aktualitasnya yang terikat erat deangan partikularitasnya yang konkret. (kirkegaard;dalam pergulatan menjadi diri sendiri. Thomas hadi tjahya)

Uh...kalau pilihan ku dan atau pilihan nya benar-benar merupakan pilihan yang benar, sungguh tenang rasanya hidup ini. Tapi bagaimana kalau pilihan nya salah? adakah rasionalis bagi pilihan ku mengenai keber-BEM-an ku hari ini? Benerkah rasio hanya mampu sampai pada tahap mempertimbangkan pilihan?. Kalau begitu bila aku harus memilih keluar dari rutinitas keber-BEM-an ku, apa itu pilihan yang tepat?. Andaikan pilihannya tepat, apakah lingkungan mendukung? Tidakkah harkat dan martabat yang dipertaruhkan (menurut sebagian orang) apa sikapku? Apa aku mesti menjelaskan dan mengajukan pertanyaan kepada mereka? Biar mereka paham. Perlukah orang lain paham? ada dan inheren kah dalam setiap manusia harkat dan martabat atau ia hanya produk budaya yang tak mesti dihiraukan.
Yang paling penting saat ini bukan harkat, martabat tapi kompetensi, kapasitas dan penguasaan bidang bidang ke-ilmu-an yang kita pilih. Kalau BEM tidak bisa memberikan apa yang menjadi motif, lalu apa yang membuat kita semua mempertahankan BEM?. Mending BEM di bubarkan aja, buat Musawarah Besar Luar Biasa yang khusus mengandekan pembubaran BEM. Toh keberadaan BEM saat ini tidak berarti lagi bagi kita, pemilik kebijakan tertinggi. Buktinya berapa orang yang respek dengan BEM.

Dalam ketidakwarasan aku berseru, dekontruksi BEM, hancurkan, luluhkan kemudian bangun kembali dari nol. Dengan begitu BEM lepas dari parasit yang membuatnya mandek. Mahasiswa menemukan spirit baru, BEM tidak ketinggalan zaman lagi, ia pasti hadir dengan muka bersinar menantang zaman.