Selasa, 08 Juni 2010

Negara Islam, No Way

Pada suatu hari di bulan Mei 2010, sekelompok mahasiswa nampak serius berdiskusi. Di sekitarnya, terpampang atribut bendera dan spanduk bertuliskan huruf Arab. Saya yang terlambat datang langsung bisa menebak, kelompok mana yang ‘membikin’ kegiatan ini. Tema diskusinya, “memaknai Hari Kebangkitan Nasional, 21 Mei”.

Saya tercengang: salah seorang pemateri berseloroh, maknailah Hari Kebangkitan Nasional sebagai tonggak awal perjuangan mengganti Sistem Negara Indonesia. Saya tahu, pemateri itu tidak sedang bercanda. Kelompok yang mengatas-namakan dirinya Hizbut Tahrir Indonesia ini memang mengusung jargon Negara Islam atau Khilafiah. Mereka memiliki tujuan mengganti sistem negara kita yang nasionalis dan demokratis dengan Negara Islam. Bagi mereka, demokrasi merupakan sistem kufur yang berasal dari Barat.

Tampaknya kini yang membebaskan—atau yang menjerat?—adalah sebuah ide membentuk sebuah Negara Islam dan dengan itu segala ketimpangan sosial bisa ‘dilenyapkan’. Negara Islam itu, seperti yang digemborkan pendukungnya merupakan wasiat Tuhan yang harus diwujudkan. Jika tak melakukannya, maka azab Tuhan niscaya datang bertubi-tubi.

Beberapa puluh tahun lalu, di negeri asalnya, Arab Saudi, para pendukung Negara Islam yang tergabung dalam gerakan wahabi-ikhwanul muslimin bahkan tak segan membunuh dan mengecap kafir orang lain yang berbeda pemahaman. Mereka mengklaim bahwa mereka sepenuhnya memahami isi Al-quran. Olehnya, mereka berhak menjadi wakil Tuhan.

Ide pembentukan Negara Islam di negeri Indonesisia bukanlah hal baru. Dalam muktamar di Banjarmasin pada tahun 1935, Nahdatul Ulama (NU), salah satu organisasi keislaman terbesar di Indonesia harus berdiskusi panjang untuk sampai pada kesimpulan memperbolehkan pendirian negara bangsa. Bagi kaum muda NU, terbentuknya Negara Islam tidak serta-merta membentuk masyarakat yang islami pula. Masyarakat islami akan terwujud jika ummat menjalankan agama secara konsisten.

Akhir-akhir ini, mereka gencar bersosialisasi. Saat ini, mereka massif melakukan infiltrasi. Dengan dalih agama, mesjid-mesjid di kota maupun dipelosok desa mereka kuasai. Mereka ‘mencecar’ pemahaman ummat agar benci dengan negara Indonesia dan ‘menghasut’ mereka agar memperjuangkan tegaknya Negara Islam.

Baru-baru ini, adanya insiden penyerangan kapal bantuan kemanusiaan Mavi Marmara oleh tentara Zionis Israel semakin memperkuat justifikasi kelompok ini atas ide membentuk Negara Islam. Tengok saja aksi-aksi yang terjadi. Spanduk dan plakat bertulis, “Sistem Khilafah (baca: Negara Islam) solusinya.”

Tentu harus dicatat, keinginan mereka memperjuangkan islam itu tak salah. Namun, klaim yang menganggap Negara Islam sebagai satu-satunya pilihan dengan mencap sistem lain sebagai kufur atau buatan Barat tentu tak benar. Hal ini bisa menggiring islam dari agama menjadi ideologi. Pada akhirnya, islam menjadi dalih untuk membumi-hanguskan orang lain yang berbeda pemahaman dari mereka.

Agaknya, bayang-bayang totaliterianisme tak jauh dari islam yang mengagungkan perbedaan. Harapan Tuhan bahwa islam bisa menjadi rahmat bagi sekalian alam, bisa jadi isapan jempol belaka. Tetapi dibandingkan Timur-tengah, Indonesia masih lebih baik. Disini tak kita temui ‘genosida’ yang mengatas-namakan mahzab-mahzab agama.

Abdurahman Wahid, salah seorang cendekiawan muslim tentu jauh hari telah menyadari kondisi ini. Ia terbukti getol melakukan counter wacana. Bahkan sampai mengeluarkan buku berjudul “Ilusi Negara Islam,” sebagai respon atas semakin mengguritanya kelompok ini di tengah masyarakat. Tanpa ragu, dalam pengantarnya di buku tersebut, ia menyebut kalau kelompok itu sebagai duri dalam daging bagi ummat islam. Jadi, harus diwaspai keberadaannya.

Akhirnya mungkin sesekali kita harus menyadari, kita ini hanyalah makhluk biasa, yang tak berhak mengklaim kebenaran. Andai itu terjadi, tentu kita harus kritis bertanya: Tuhan kah saya? Tabik

Sabtu, 08 Mei 2010

Lama Tak Menulis

Udah lama tak menulis, mungkin perlu dimanfaatkan ini blog

Jumat, 28 Agustus 2009

Kamis, 21 Mei 2009


Kebencian boleh jadi merupakan hal yang lumrah manakala kita merasa tersakiti. Tapi apakah ini bisa kita jadikan alasan untuk berada dalam keadaan seperti ini?, tidak pernah saling berkomunikasi, bercanda tawa.

Aku tahu, aku yang salah, diriku terlalu egois, tapi terserahlah......toh cinta tetap cinta, berasal dari hati dan bukan paksaan. Jika benar dirimu telah jenuh menjalaninya, kuserahkan padamu.....engkau punya hak untuk itu sayang ku!

Jika memang benar cinta itu merupakan hakikat, kenapa ia selalu mudah untuk dipermainkan.
Atau jika cinta itu hanyalah persoalan kepentingan, sampai kapan kah ia mampu bertahan atas kepentingan itu?.

jika hidup ini hanyalah persoalan penantian dan waktu, kapan kah saatnya dikau dinda ku, berada dekat disisiku. aku sudah cukup lama menunggumu, dalam sunyinya malam, sepinya siang, namun dirimu tak pernah kunjung menunjukkan diri. apakah ini hanya permainan mu untuk mempermainkan hati dan perasaan ku?, ataukah ini sengaja kau lakukan untuk menguji seberapa besar cintaku padamu?. sayang, sudah cukup permainan ini, aku sangat merindukanmu, merindukan kehadiran mu disini, disisiku, dalam dekapan hangat ku.

Rabu, 08 April 2009

Antara Cinta, Seks dan Kesetiaan

Menukar cinta dengan kesetiaan ibarat mengharap keajaiban turun dari langit. Cinta tidak datang dari ruang-ruang keabadian. Ia lahir dari lorong kefanaan dunia yang entah kapan pastinya, akan luluh lantak bersama waktu. Berharap adanya kesetiaan lebih baik menanti seribu kali kiamat.

Antara cinta dan kesetiaan tersimpan kemisteriusan yang tidak mampu kita singkap secara tuntas. Pada suatu titik, cinta itu selalu saja bisa kita pertukarkan dengan seks, begitupun sebaliknya. Tidak ada cinta murni. Yang ada adalah kepentingan yang sengaja secara halus diartikulasikan dengan kata cinta. Kata kepentingan terlalu vulgar. Bagi masyarakat kita, yang lebih suka berbasa-basi.

Lahirnya cinta, tidak lain merupakan keinginan untuk memiliki. Ingin memiliki secara implisit merupakan hasrat untuk menguasai. Selalu ingin menetapkan batas-batas bagi hal-hal yang kita anggap pantas untuk dilakukan pasangan kita.

Bukankah itu realitas yang terjadi?. Jika cinta itu benar-benar ada dan eksis, tidak akan pernah ada kata perpisahan. Perpisahan lahir pada saat rasa mulai terkikis sedikit demi sedikit. Tidak ada lagi hal yang membuat kita bertahan. Paling tidak, dalam bahasa kasarnya, sudah tidak menyenangkan lagi untuk diajak bercinta diatas ranjang.

Pada saat kita memperoleh segalanya, kepentingan dan hasrat sudah terpenuhi, apakah cinta yang sampai sekarang masih sering orang gembar-gemborkan masih mampu bertahan?. Jawabannya tidak. Kita secara sadar mencari kriteria baru dalam hidup kita. Perselingkuhan pun terjadi, sebab tidak mungkin kita memperoleh kriteria baru dari pasangan lama.

Kata kesetiaan mampu bertahan, jika “cinta” dalam arti kepentingan itu masih melekat. Dan menurut ku, kepentingan seorang lelaki terhadap perempuan saat ini, tidak kurang dan tidak lebih adalah SEKS. Wallahualam